Berhari-hari usai menghadiri acara di Tanjungsari kemarin, Rayla kini jadi lebih banyak menghabiskan waktunya dengan berbaring di rumahnya saja akibat ‘nyeri’ yang awalnya dia rasakan begitu mencekik badannya, mungkin lama-lama ikut mencekik hatinya juga. Padahal halal bi halal keluarga Mbah Guru berjalan baik-baik saja, aku selalu senang bisa ketemu sedulur yang pada tinggal jauh dari sini. Gumamnya dalam hati, masih memegangi badan yang seumur-umur baru sekarang merasakan nyeri berlebih. Tidak jarang dia mengurut pahanya sendiri sebagaimana kebiasaan dia selama ini, dan untuk menghibur diri—paling tidak dia men-scroll layar komputer tabletnya mencari berita apa saja yang tengah populer kekinian meski tidak lagi dengan arah yang jelas seperti saat masih remaja 10 tahun silam, setiap menyigi informasi pasti selalu berkaitan dengan Presiden ke-7 Republik Indonesia Joko Widodo atau Jokowi.
Peta politik berubah pada Pilpres 2024 lalu, Rayla kini nyatanya masih suka membaca berita seputar sosok kepala negara kesayangannya itu. Kali ini jadi lantas beririsan dengan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, sekaligus sebagai cara dia untuk terus mendewasakan dirinya sejak setahun ke belakang.
“Presiden-Wakil Presiden beserta para stafnya saat ini tetap beraktivitas seperti biasa,” imbuh Rayla menghibur diri tanpa menghapus interest-nya terhadap politik biar apa yang terjadi. Menggeser posisi tidurnya dari menyamping jadi terlentang, merasakan kenyamanan luar biasa setelahnya, Rayla kemudian teringat sesuatu. Dia menutup portal laman berita baik itu dari media massa maupun institusi pemerintahan pusat di Ring-1 Istana dan menggantinya dengan percakapan WhatsApp.
Menarik selimutnya lebih tinggi, perempuan cantik ini lalu membaca lagi setiap pesan yang bertebaran di sana satu per satu. Grup Keluarga Mbah Guru terlewati, selanjutnya dia mengetikkan pesan sendiri kepada sosok tantenya seperti ini.
“Tante Asti, kayaknya sekarang aku butuh foto-foto lama sama surat-surat tulisan Eyang Kakung semasa hidupnya dulu. Aku ingat, waktu kecil sama Christoff sudah pernah ditunjukkan Eyang di rumahnya. Apa Tante Asti atau eyang masih ingat itu semua ada dimana? Boleh minta tolong dicari ya, siapa tahu bisa jadi ‘amunisi’ buat menulis ceritanya di buku nanti.”
Ping! Pesan terkirim hingga belasan kilometer menuju rumah eyang seiring bertambahnya rasa ‘nyeri’ itu di badan Rayla. Dia mengerang kesakitan, dan persis saat ibunya datang—tanpa tedeng aling-aling lagi dia segera minta diambilkan segelas teh lemon hangat. Pesanan datang, sambil mencoba duduk, dia lalu menyeruputnya sedikit demi sedikit dan ibu, begitu melihat putri bungsunya ini sedang tidak baik-baik saja segera meluncurkan sebaris nasihat seperti ini.
“Ray, kamu lagi merasa ‘nyeri’ yang itu ‘kan ya? Tapi enggak pusing-mual ‘kan?” Ibu mengawalinya dengan pertanyaan seputar konfirmasi terlebih dahulu.
“Iya, Bu. Meskipun seumur-umur baru pertama kali terasa sekarang sih merasakan ‘nyeri’ yang itu, maksudku di umur 25 tahun ini. Waktu SMA apa kuliah dulu, enggak pernah kayak ‘gini.” Rayla mengeluhkan perubahan mekanisme fisiknya saat genap menginjak fase seperempat abad.
“Ke dokter mau? Just in case ada apa-apa, jadi bisa langsung diobati. Atau saran ibu, sekarang mending kamu istirahat total dulu deh. Kurangi paparan berita atau media sosial yang… kontennya toxic karena itu bisa mempengaruhi mood kamu. ‘Kan sudah terbukti tho?” Sekarang hanya dibalas anggukan kecil Rayla. Berinisiatif sendiri memadamkan gawainya, selanjutnya dia memilih berbaring lagi. Mungkin sekarang waktunya istirahat dulu. Gumamnya dalam hati.
“Oh iya Rayla, ibu juga sudah bilang sama Christoff. Sebaiknya sekarang kalau keluar hati-hati ya soalnya menurut informasi dari berbagai media, situasi mulai memanas akibat munculnya gelombang demonstrasi. Massa sudah mulai bergerak, sebagian besar diantaranya mahasiswa,” ujar ibu memaparkan situasi terkini.
“Kamu juga Christoff, tampangnya kelihatan masih muda kayak mahasiswa. Sebaiknya hati-hati di luar, kalau enggak ada perlu lebih baik di rumah saja.” Dia berubah mengingatkan.
Rayla lalu menyalakan lagi komputer tabletnya untuk beberapa detik, dia sadar ini sudah mendekati penghujung bulan Agustus. Gelombang protes yang awalnya hanya panas di media sosial kini berangsur meluas ke jalanan, mengingatkan dia kepada sejumlah peristiwa serupa sebelumnya tidak terkecuali 1998 silam. Saat ibu dan ayahnya masih muda, praktis dia dan kakaknya pun belum lahir pula.
Mungkin saja karena ini aku jadi sakit. Pikir Rayla dalam hatinya sambil berbaring lagi.
…
Sebenarnya, diam-diam Stevie dan Tiffany telah merencanakan perjalanan mereka ikut ke Bandung dan Purbalingga bersama Rayla dan Christoff. Memperhatikan dinamika situasi nasional dari Singapura secara saksama, mereka berasumsi bahwa keputusan sudah dicapai oleh keluarga besar Rayla dan Christoff di Bandung sehingga oleh karenanya mereka memilih untuk segera bergabung. Hanya saja, sekarang gelombang demonstrasi kepalang meluas ke sekujur penjuru negeri. Tiket belum dipesan, praktis Stevie dan Tiffany harus mengulur waktu lagi sampai benar-benar melepas sauh ke Bandung dan Purbalingga. Adapun di saat yang sama, mereka sempat menanyakan kabar kedua sahabat baiknya itu di situ dan diketahui bahwa keduanya aman-aman saja di rumah. Mereka sepakat tidak akan pergi kemana-mana sampai situasi dinyatakan aman terkendali oleh otoritas yang berwenang.
Memilih menanti sejenak, Rayla kemudian memilih menelepon Eyang guna memastikan apakah foto-foto lama Eyang Kakung semasa hidupnya itu sudah ditemukan atau belum beserta tulisan surat-surat lawasnya.
“Aku ingat semua foto itu ada di album merah yang gambar sampulnya seekor anak guguk.” Rayla mencoba mengidentifikasi ciri-ciri pembungkus foto itu berdasarkan sisa ingatan masa kecilnya silam.
Hening sejenak, sepertinya Eyang diam saja di telepon, mungkin masih berusaha mengingat dimana terakhir kali ia menyimpannya. Memang kadang suka begitu, lebih-lebih kalau sudah tua jadi acap kali tidak ingat lagi dimana letak persisnya sebuah benda.
“Eh perlu wawancara sekalian enggak? ‘Kan waktu di Tanjungsari katanya mau wawancara Eyang.” Tante Asti menyela di tengah-tengah percakapan telepon.
Jleb! Rayla nyaris melupakan rencana wawancara. Dia bilang, “Ya aku sih sebenarnya mau wawancara. Cuma sekarang lagi ramai-ramainya demo, katanya sebentar lagi mau ada yang di depan Gedung Sate. Dekat nih dari rumahku.” Dia bimbang tak tahu harus bagaimana di tengah-tengah situasi yang kian memanas ini.
…
“Apa Eyang Kakung pernah ke Yugoslavia terus ke Italia?”
“Terus kalau nanti wawancara Eyang Putri dulu, ceritanya di Purbalingga gimana?”
Rayla tergagap-gagap sendiri mengingat percakapan relung batinnya itu pagi ini, di kala senandung kicau burung menemaninya dari balik rimbun dedaunan dan dahan pohon seperti dulu. Dengan pemandangan yang tak dia dapatkan setiap kali menginap di Singapura ini, seolah-olah bertanya kepadanya—Rayla kini sibuk memikirkan sendiri soal seperti apa rupa kakeknya sewaktu muda mengembara ke Yugoslavia dan Italia tersebut. Mengais lagi sisa kepingan ingatan masa kecilnya saat dia dulu pernah ditunjukkan rentetan foto-foto dalam album merah di atas, samar-samar Rayla ingat bahwa Eyang Kakung pernah memakai setelan jas atau mantel di sebuah jembatan setempat dalam gaya arsitektur khasnya, lalu ada juga foto saat dia berpose bareng teman-teman bulenya yang notabene sama-sama tentara namun dari Yugoslavia dan satu lagi yang paling ikonik adalah saat dia bergaya di depan Colosseum.
“Eyang Kakung dulu pergi ke Yugoslavia dalam rangka tugas belajar, ke Italia rasanya juga. Sama.” Rayla bergumam lagi dalam hatinya, laksana terpasang tombol replay untuk memori masa lalu eyang kakung melalui cerita ulang eyang putri belasan tahun lalu.
Mengabaikan sejenak situasi yang dari hari ke hari malah justru memanas seiring dengan meluasnya gelombang demonstrasi ke berbagai penjuru Indonesia, kini entah mendapat dorongan dari mana—Rayla tanpa sadar lalu menekan tombol pesawat telepon rumahnya, menghubungkan nomor telepon rumah eyang putri. Sosok neneknya ini menjadi satu di antara sekian banyak lansia yang masih setia memanfaatkan jenis teknologi ini di usia senjanya mengingat dia yang memang sama sekali ‘buta huruf’ dengannya, mau itu telepon seluler atau komputer sekalipun. Nada sambung berbunyi selama hampir satu menit, memaklumi eyang putri sudah tak lagi bisa berjalan cepat, Rayla pun menunggu dengan sabar. Gagang telepon diangkat, selanjutnya pertanyaanpun langsung dia tembakkan sendiri hingga secepat panah.
“Halo eyang, itu apa album foto zaman dulu yang ada Eyang Kakung di Yugoslavia-Italia sudah ketemu? Eyang ingat terakhir disimpan dimana?”
“Sudah, sudah ketemu! Tempo hari, Eyang minta tolong sama Bi Entin buat bongkar lemari karena toh dia masih kuat sementara Eyang sudah tua makanya enggak bisa, eh, ndelalah langsung dapat, terus Eyang langsung cek lagi isinya terus ternyata benar itu foto Eyang Kakung waktu di Eropa.” Nada bicaranya terdengar begitu riang seolah berhasil menemukan harta karun terpendam.
“Terus, terus selain foto-foto di Eropa ada yang dimana lagi?” Rayla membalas tidak kalah girangnya dari sang nenek.
“Banyak, ada foto waktu di rumah Eyang Sutrisno di Jakarta sama sisanya di Rumah Jalan Tulip. Ya waktu ibumu masih kecil dengan Tante Asti juga Tante Tri.”
Target has locked. Sasaran sudah didapatkan, tinggal diangkut dari sarang musuhnya saja.
“Kamu mau ambil ke rumah Eyang? Sini ayo, boleh. Eyang tunggu. Oh iya, sambil kamu ke sini—mungkin sama Christoff juga, Eyang mau coba cari siapa tahu ada fotonya Om Soemardjono waktu masih bayi.” Memang sudah kebiasaan alaminya untuk selalu menceritakan segala sesuatu secara blak-blakan bahkan termasuk diantaranya hal-hal yang seharusnya dirahasiakan.