Sebuah Titik Temu

Rivaldi Zakie Indrayana
Chapter #11

Chapter 10: Susur Leluhur

“ARKANANTA PRAYOGO WICAKSANA”

Petugas jaga peron Stasiun Gambir–seorang perempuan muda berjilbab–tampak mengernyit ketika membaca sebaris nama pada selembar boarding pass di tangannya.

“Kenapa, Mbak?” Yugo–nama panggilannya–sepertinya menyadari perubahan air muka si Mbak petugas peron itu. Apalagi ketika ia kembali seperti terkejut mendengar jawaban Yugo.

“Nggak … nggak apa-apa.” Petugas berjilbab itu tampak tersipu, kemudian segera menyerahkan kembali lembaran boarding pass itu.

Yugo menerimanya sambil tersenyum. Tampaknya ia sudah maklum. Pasti si Mbak-nya bingung dengan “ketidaksinkronan” antara wajah, nama, dan logat Yugo.

“Makasih, Mbak,” ucap Yugo.

“Terima kasih kembali. Hati-hati di jalan.” Petugas itu menjawabnya.

Pernah dengar lelucon tentang ‘orang itu ganteng atau cantiknya hilang jika berlogat Ngapak’? Nah, Yugo sudah kenyang dengan hal semacam itu.

Orang yang baru pertama kali melihat Yugo biasanya langsung mengira kalau ia adalah turis. Tak jarang, ia bahkan langsung ditembak dengan “harga turis” jika bertandang ke tempat wisata. Namun, orang akan sontak terbelalak dan berpikir sebaliknya ketika Yugo mulai bicara.

Yugo sendiri tidak mengerti dengan cengkoknya yang dengan sekali dengar pun orang akan menebak kalau ia adalah orang Jawa–tepatnya: Jawa Mbraling. Padahal, Yugo sama sekali tidak bisa berbahasa Jawa. Yah … sebenarnya tidak ngapak-ngapak banget, sih. Bahkan sebenarnya justru tersamar. Mungkin karena wajahnya yang seperti orang asing itulah makanya orang langsung ngeh dengan gaya bicara Yugo yang ngapak. Bule, kok, ngapak? Ini menurut perkiraan Yugo, sih.

Soal Yugo yang tidak bisa berbahasa Jawa (padahal logatnya medok), sebenarnya memalukan juga. Masakkan tidak bisa berbahasa Jawa sama sekali? Salahkanlah kedua orang tuanya yang membiarkan Yugo terlalu lama terpapar virus “metropolis-modernisasi”. Mentang-mentang lahir di Jakarta (bahkan JAKARTA SELATAN), lalu menghabiskan lebih dari separuh hidupnya di Jakarta (baca: SELATAN), dan pakai sempat tinggal di luar negeri segala. 

Yugo memang sempat tinggal di Belanda, tepatnya di Enschede ketika ia masih kecil, sekitar dua tahun lamanya dan sempat mencicipi sekolah dasar di sana pula. Waktu itu, Yugo tinggal di Belanda untuk “menemani” sang ayah yang sedang mengambil S-2. Tentu saja bersama ibunya, dan juga kakak perempuannya. Selepas sang ayah selesai S-2, Yugo pun kembali ke Indonesia. “Sialnya”, ia terdampar di Jakarta Selatan, lalu melanjutkan sekolah di Jakarta Selatan mulai dari menghabiskan sisa masa SD-nya, hingga lulus SMA. Tahu sendiri, kan, seperti apa gaya bicara “anak Jaksel”? Sudah Yugo tidak pernah diajarkan bahasa Jawa, dibawa ke luar negeri ketika masih kecil, dan ketika kembali ke Indonesia pun bergaulnya dengan orang-orang yang suka melontarkan “wicis-wicis” itu. Hasilnya, Yugo sama sekali tidak tahu bahasa daerahnya. Ra dong blass….

Sayangnya, dialek Yugo, entah kenapa, malah terbawa Jawa-nya. Mana Mbraling-Ngapak pula. Dan biasanya, ada saja temannya yang menyadari dialek Yugo yang Mbraling, yang kemudian tanpa tedeng aling-aling langsung saja melontarkan pertanyaan, “Eh, lo orang Jawa, ya?” sambil membelalakkan mata seolah terkejut … atau menemukan bahan celaan baru karena logat yang terdengar lucu. Selanjutnya, tinggallah Yugo yang terbingung-bingung sendiri: benarkah ia orang Jawa?

Salah satu kelemahan orang Jakarta, apalagi yang merupakan keturunan ketiga dan setelahnya, adalah krisis identitas di mana mereka merasa sebagai orang Jakarta tanpa menyadari bahwa itu adalah identitas sekunder. Identitas primernya, tentu saja darah leluhur. Mau mengklaim sebagai “Jakarta asli”? Yang ada bakalan diprotes keras oleh etnis Betawi. Dan Yugo sama sekali bukan Betawi. Namun, di rumah pun hanya Yugo seorang yang lidahnya ngapak blas. Kakaknya, Cynthia, bahkan dialeknya malah cenderung (sok) kebarat-baratan. Dan berbicara dalam bahasa Jawa di rumah? Boro-boro! Yang ada, orang tua Yugo dan Cynthia malah menyuruh mereka berbahasa Inggris di meja makan!

Yugo bukannya tidak peduli. Sebaliknya, ia justru sangat penasaran. Makanya, dulu ia sering bertanya pada kakeknya. Mungkin sang kakek tahu sesuatu. Sayangnya, kakek Yugo tidak pernah bercerita tentang teka-teki kenapa lidah Yugo kental Jawa-Ngapak-nya. 

Padahal Yugo sangat dekat dengan kakeknya. Namun, tetap saja pertanyaan tersebut tidak menemukan jawabannya. Bahkan, hingga sang kakek meninggal dunia. Akan tetapi justru setelah sang kakek berpulang itulah Yugo merasa mendapatkan suatu “petunjuk”. Walau bertahun-tahun lamanya ia tetap saja bundet mengurai apa yang dia anggap sebagai “petunjuk” itu.

Yugo melangkah masuk melewati peron, lalu naik ke lantai 2 melalui tangga yang terbentang di hadapannya. Sengaja ia memilih tangga biasa dan bukan tangga berjalan yang hanya cukup untuk dua orang satu baris–itu pun rasanya malas jika harus bersebelahan. Bagi Yugo, sebisa mungkin ia harus bergerak. Jangan mager.

Sampai di lantai 2, Yugo kembali menatap tangga di hadapannya yang menuju lantai 3. Matanya menjelajah ke papan penunjuk di atasnya hingga ia menemukan tulisan:

“Taksaka Jalur 4”

Ia lalu melirik jam tangannya. Masih ada waktu karena kereta Taksaka jurusan Stasiun Gambir Jakarta dengan tujuan akhir Stasiun Tugu Yogyakarta, baru akan berangkat pukul dua siang nanti. Saat ini masih pukul satu siang. Lewat sedikit, tapi jelas masih sangat lama–masih satu jam lagi.

Ah, tahu begini mending tadi berlama-lama saja di bawah. Yugo seakan menyesali.

Ya sudahlah. Toh, tadi ia sudah makan di bawah. Dan ia masih memiliki sepotong roti sandwich panjang yang dibelinya dari restoran di bawah tadi. Ditambah sayap ayam dan kentang goreng–dari restoran berbeda. Koridor lantai 1 Stasiun Gambir belakangan memang “menggoda” dengan banyaknya tempat-tempat jajan dengan menu yang nge-hype di kalangan anak muda. Sandwich, burger, aneka merek ayam goreng tepung, menu masakan Jepang, hingga minuman-minuman kekinian.

Perbekalan logistik yang dibelinya tadi, sih, rasanya cukup untuk mengganjal perut kalau nanti lapar di kereta. Kalau masih belum cukup, ya tinggal jajan saja. Favorit Yugo adalah bakso cuanki cup instant yang tinggal diseduh air panas, yang bahkan seringkali ia beli lebih juga untuk disantap ketika tiba di tujuannya nanti–dan sepertinya ia pun akan membelinya.

Yugo tampak celingukan sebelum matanya akhirnya menangkap sebuah tempat duduk kosong. Ia pun segera ke sana dan duduk. Kemudian ia mengambil sebuah benda dari dalam tas ranselnya: sebuah MP4 dengan earphone kabel yang dililitkan. Ia mengurai lilitan kabel itu dan memasang kedua pelantangnya di telinga. Kereta yang akan ditumpanginya masih lama, kan? 

Ia kembali melirik ke arah tangga yang menuju lantai 3 untuk memastikan kalau kereta Taksaka tujuan Yogyakarta yang akan ditumpanginya berhenti di jalur 4. Meski demikian, Yugo tidak sedang menuju Yogyakarta karena kota tujuannya ada di tengah-tengah: Purwokerto.

Lihat selengkapnya