“Assalamu’allaikum Warahmatullahi Wabarakatuh…”
“Rayla, Christoff—ngomong-ngomong apa kalian jadi pergi ke Purbalingga?”
Bunyi percakapan itu seolah-olah menjadi yang paling lembut namun sekaligus ampuh memecah kesunyian pagi buta hari itu selepas Shalat Subuh. Habisnya bagaimana tidak, baru juga mengucap salam dan hendak melepas mukena dan sarung, tahu-tahu ibu yang juga sudah selesai salat tanpa tedeng aling-aling lantas menanyai Rayla dan Christoff mengenai rencana mereka mengadakan lawatan ke Purbalingga. Sempat nyaris speechless, mereka kemudian mengkonfirmasi rencana lawatan di atas.
“Eh iya bu, jadi meskipun belum tahu kapan. Palingan hari ini sih mau jemput Stevie-Tiffany ke Bandara Soekarno-Hatta terus rencananya mereka mau ke sini (Bandung) dulu.” Rayla membeberkan rencananya pergi keluar kota hari ini, mengejutkan ibunya sedikit.
“Oh mereka datang. Jam berapa?” Beliau baru tahu, tak nyana sepasang buah hatinya ingin pergi dulu.
“Sore bu, soalnya mereka kebagian pesawat yang adanya jam segitu.” Rayla menuturkan jadwal kedatangan dua sahabatnya.
“Iya, Bu. Mereka baru pesan tiket kemarin soalnya tunggu situasi aman dulu sehabis demo. Terus aku & Rayla baru dikabari semalam.” Christoff seperti biasa, baru ikut menyahut di ujung.
Ibu terdiam sejenak, selanjutnya beliau memaparkan rencana versinya sendiri.
“Oke, kalau begitu apa mending kita ke Cilegon saja hari ini naik mobil? Langsung berangkat pagi terus sorenya sekalian ke Bandara Soekarno-Hatta, baru balik lagi ke Bandung.” Rayla dan Christoff tertegun sejenak, saling tatap satu sama lain sebelum akhirnya kompakbersuara.
“Boleh deh, yuk, langsung siap-siap saja.” Keduanya serempak menutup ruang negosiasi. Pak Warsono menerima briefing soal perjalanan hari ini, keluarga kecil yang hanya tinggal bertiga lebih dari 2,5 tahun ini lantas melajukan kendaraannya tepat pukul enam pagi saat langit masih remang-remang.
“Dalam rangka hemat uang,” papar ibu memaparkan alasannya memilih sengaja mendaulat Pak Warsono menyetir ke Cilegon hari ini.
…
Perjalanan ke samping pesisir barat Pulau Jawa ini, bagi Rayla seorang tentu bukanlah sebuah trip biasa. Melainkan ia adalah segaris rute yang boleh dia gunakan untuk mengenang lagi apa saja yang terjadi selama rentang waktu satu dekade ke belakang. Menghabiskan lebih dari dua jam di jalan tol sampai dengan menembus lalu-lintas dalam kota Jakarta, selanjutnya begitu memasuki ruas Jalan Tol Jakarta-Tangerang-Merak—di mata Rayla, pemandangannya yang khas meski bukan lagi pegunungan alami atau kota metropolitan seperti sebelumnya, namun hal demikian tetap membuatnya senang. Kecuali saat menepi sejenak di Rest Area KM. 13,5—sepintas membuat dia ingat bapak karena pernah singgah kemari bersamanya ketika masih remaja satu dasawarsa silam. Dia sama sekali tidak bicara walau matanya terpantau mengerling ke sekujur sudut rest area. Sambil dia bertanya-tanya dalam hatinya sendiri, akankah perjalanan ke Purbalingga bersama Stevie dan Tiffany nanti seperti ini?
Dan pemandangan berbeda dia temukan selepas melewati Wilayah Tangerang Raya ini.
Kota Cilegon, Banten 1,5 jam berselang.
Melewati Gerbang Tol Cilegon Timur, untuk selanjutnya dengan mengerahkan sisa ingatan yang hampir terkikis setelah satu dekade lamanya tak pernah mampir ke sini—Rayla menerka-nerka sendiri petunjuk jalan menuju rumah Mbak Nana di Kompleks Permata Krakatau ini, nan sejatinya ditempati oleh Bude Yatni seorang sejak sang putri sulung bersama keluarganya itu bermigrasi ke Qatar 12 tahun silam. Membelah jalan kecil tidak jauh dari gerbang tol, berbelok kiri melewati sebuah gapura agung, selanjutnya dia sekeluarga pergi melintasi bentangan lahan kosong di sepanjang sisi jalan sebagaimana ia tak kunjung dibangun selama ini. Berbelok lagi dua kali di belakang, melewati sebuah masjid besar sebagai patokan utamanya setiap kali ke sini, di ujung jalan dia akhirnya menemukan rumah itu juga.
Suara mesin mobilnya yang khas, menderum kencang baik setiap jalan maupun berhenti selalu memantik siapa saja tuan rumahnya untuk keluar tanpa perlu menunggu pintu diketuk. Melompat turun ke aspal jalan penuh kerikil ini, Rayla lalu disambut oleh Bude Yatni, Mbak Riska dan Abyan—anak-istri almarhum Mas Reza. Berpelukan seiring mengucap belasungkawa, lepasnya keluarga ini dipersilahkan masuk. Dan begitu melangkah ke udara berpenyejuk ruangan ini—kontras dibanding menyengatnya hawa panas di luar, sekejap angin Rayla mendapati suasana rumah ini telah berubah. Dulu hanya satu lantai dengan dua kamar, mematok sekat cukup signifikan antara dapur dan halaman belakang. Serta kamar mandinya yang dulu menjorok ke depan, persis di belakang meja televisi. Itu pemandangan 10 tahun lalu.
Hari ini, kamar belakang sudah dibobok temboknya membiarkan sinar matahari menembus lewat ventilasi dari atas. Kamar mandinya digeser ke belakang, dan dapur pun tampak lebih terbuka. Yang kian menakjubkan, sekarang rumah ini ditingkat dua lantai.
“Di atas ada dua kamar sama jemuran, tuh kalau nanti mau istirahat boleh di sana saja,” imbuh Bude Yatni, intonasinya khas medok ala ibu-ibu Jawa sepantarannya.
Baru melongok ke atas sedikit, mereka pun kembali duduk di halaman belakang. Kali ini, melepas kupluk abu-abu serta kemeja flanelnya—Rayla, Christoff dan Ibu mendengarkan dengan seksama paparan Bude Yatni mengenai kronologi kejadian meninggalnya Mas Reza kemarin.
“Iya jadi ini cerita apa adanya saja, ya karena memang begitu kejadiannya.” Wanita 70 tahun ini seakan-akan tak tahu harus bagaimana lagi mengisahkan kepergian putra bungsunya itu.
“Kejadiannya ini waktu lagi ramai-ramainya demo minggu lalu. Reza itu, tiba-tiba pamit ke kantor pagi harinya enggak tahu kenapa padahal lagi kerja online kayak waktu zaman pandemi. Dia pergi saja, eh enggak tahunya selama kantor tutup dia enggak pulang-pulang.” Secangkir teh manis dia teguk sendiri untuk menguatkan dirinya selain yang sudah dibagikan kepada Rayla sekeluarga.
“HP-nya rusak makanya enggak bisa dihubungi sama sekali. Tanyai teman-teman kantornya pun sama sekali enggak ada yang tahu, ya Riska?” Bude Yatni tampak ingin mengalihkan panggung ke menantunya, tak kuat menyambung cerita lebih lama walau terlihat tabah dan tegar.
“Iya, Tante. Makanya Riska jadi bingung berhari-hari. Ini Abyan juga sudah menanyai papanya terus, kata dia kok enggak pulang-pulang sih? Ya Riska pun enggak tahu mesti gimana lagi, enggak bisa kemana-mana karena masih ramai demo di sekitaran Serpong situ.” Imbuh Mbak Riska mengingatkan lokasi yang baru saja Rayla lewati dalam perjalanan dari Bandung tadi pagi.
“Baru hari keempat kira-kira setelah situasi reda, kantor buka lagi. Tapi bos langsung telepon, minta Riska datang sendiri—jangan sama Abyan. Sambil perasaan sudah enggak enak, ada apa nih? Makanya Riska cepat-cepat datang, begitu sampai kantor… Eh Innalillahi ternyata Mas Reza sudah enggak ada.” Intonasinya bercampur antara getaran duka dan lonjakan kaget.
“Terus … terus sudahnya gimana?” Christoff menyela dengan terbata-bata, indikasi spektrum autismenya sedang kumat terutama kalau dia merasa gugup.
“Nah setelah itu, semuanya baru tahu Mas Reza kemungkinan besar pingsan karena sakit mendadak di dalam kantor terus karena dia sendiri otomatis enggak ketahuan. Sampai polisi akhirnya datang, langsung bawa jenazahnya buat visum di rumah sakit. Hasilnya memang sudah meninggal, tapi persisnya apa… Riska kayaknya lupa deh. Atau mungkin enggak terdeteksi sekaligus ‘gitu ya mah?” Ada fakta yang kabur di sini.
“Kayaknya memang enggak terdeteksi deh. Adapun di rumah sakit, itu maksudnya cuma buat memastikan saja Mas Reza sudah benar-benar meninggal atau gimana. Ya hasilnya memang sudah meninggal, jadi ya sudah langsung dipulasarakan di sana terus malamnya langsung dimakamkan dekat rumahnya Riska. Nanti kita ziarah sekalian ya.” Bude Yatni sudah lebih tabah.
“Oh jadi itu ceritanya, Mbak Riska, Bude Yatni. Aku kaget banget waktu bacanya, dipikir Mas Reza kena serangan jantung atau gula darahnya kambuh kalau kejadiannya mendadak kayak ‘gitu. Tapi apa pernah periksa ke dokter sebelumnya kalau terasa sakit?” Naluri investigasi Rayla menyeruak lebar-lebar.
“Mengeluh sakit sih pernah beberapa kali, cuma memang dari dulu enggak pernah periksa ke dokter sih. Kata dia ‘enggak apa-apa’ terus setiap kali disuruh kontrol rutin.” Kenang Mbak Riska akan keluhan medis suaminya dulu.
Merinding usai menerima pemaparan mengenai kronologis kejadian meninggalnya Mas Reza tersebut, Rayla dan Christoff kemudian saling tatap satu sama lain. Keduanya sungguh tak menyangka kehilangan salah seorang kerabatnya secepat itu, sedangkan di waktu bersamaan, merekapun sesungguhnya baru akan mulai menulis buku tentang Keluarga Besar Purbalingga kendati itu memang berbeda antara mana keluarga besar ayah dan ibu mereka. Rayla lalu diam-diam teringat janjinya menjemput Stevie dan Tiffany di Bandara Soekarno-Hatta sore ini.
“Kalian belum pada makan siang? Yuk pesan dulu.” Mbak Riska menyadarkan mereka, tahu-tahu sudah tengah siang hari lagi. Padahal rasanya seperti masih pagi, mungkin karena asyik mengobrol mereka otomatis jadi lupa waktu.
…
Remahan demi remahan ayam goreng krispi itu, yang bahkan sebenarnya lebih tepat disebut sebagai ayam geprek—tandas di rumah ini jua lewat tengah siang usai sempat tertunda saat Pak Ustad melipir sebentar ke rumah Mbak Nana sehabis Shalat Dzuhur di masjid seberangnya. Merasa tidak familiar dengan suaranya saat sedang ke belakang, Rayla baru menyadari bahwa Pak Ustad tersebut nyatanya ialah sosok yang menjadi imam sebelumnya. Dia sengaja datang ke sini guna mengonfirmasi apakah nanti malam beliau jadi diundang sebagai pengisi acara tahlilan untuk Almarhum Mas Reza atau tidak. Mengambil waktu sebentar dengan Mbak Riska, usai menunggu dan menandaskan ayam goreng itu di sini, Rayla sekeluarga lalu diantar oleh wanita 30 tahun ini menuju rumahnya dan lokasi makam Mas Reza tidak jauh dari sana.
“Almarhum dimakamkan di TPU setempat, dari rumah mertuanya tinggal menyeberang sedikit sudah sampai,” imbuh Bude Yatni memberi petunjuk atas pusara putra bungsunya itu.
Pergi membelah jalanan kampung di belakang kompleks perumahan ini, selanjutnya mereka lalu mendapati suasana kontras di rumah keluarga besar Mbak Riska ini. Ukurannya memang lebih besar, hanya saja ia justru cenderung terlihat sebagai rumah asli kampung setempat. Jauh lebih sederhana ketimbang rumah Mbak Nana kendati bertipe minimalis. Disambut suasana berkabung yang masih terasa kental, usai berjabat tangan dan berkenalan sejenak bersama segenap anggota keluarga besar Mbak Riska, selanjutnya mereka diajak menyeberang ke lokasi taman pemakaman umum melalui jalan setapak persis di depan rumah itu. Rumput ilalang dan semak-semak terlewati, tak jauh dari jalan masuk—selain beberapa buah batu nisan yang sudah lama dibangun di sana, mereka kini mendapati sepetak liang lahat panjang yang baru ditutupi selembar daun kelapa nan lebar.