“Eh, jadinya kita mau menginap dimana?”
“Enggak tahu tuh, memang pesan dimana?”
“Lah jadi ini belum pesan penginapan?”
“Belumlah.”
“Eh gimana sih koplak, sampai lupa pesan padahal biasanya sudah dari awal.”
Rentetan pesan dengan efek kejut sekaligus mengocok perut itu seketika pecah di udara rumah makan Rest Area Masjid Cheng Hoo menjelang rampungnya santap siang mereka saat ini. Tinggal menyisakan sejumput Nasi Putih dan genangan dangkal atas Kuah Soto Sokaraja di meja, hendak membayarnya di kasir—Rayla seketika sibuk mencari-mencari file invoice entah hotel atau guest house di gawainya. Sekali-dua kali tidak ketemu, Stevie yang penasaran lalu mencari tahu. Dan mereka siang ini baru sadar bahwa ternyata mereka sama sekali belum dapat penginapan. Bercampur antara kaget dan lucu, usai Rayla melunasi tagihan bon rumah makan tersebut, mereka berempat bergegas meluncur turun ke arah Kota Purbalingga.
Tiupan peluit menjadi isyarat supaya kendaraan lain mengerem, dan mengikuti apa kata standar, Christoff memberi uang senilai Rp. 2.000,00 kepada juru parkir muda tersebut. Ongkos parkir diterima, selanjutnya mereka melaju ke arah selatan. Mobil kembali melaju kian jauh, di ujung jalan mereka lalu mendapati jalan bercabang. Lurus sekali lagi ke Purbalingga, belok kanan ke Purwokerto. Tujuan mereka sekarang sudah jelas lurus. Melewati sekitar dua atau tiga lampu merah lagi, tidak sampai setengah jam berselang, akhirnya mereka sampai di Kota Purbalingga.
Masih merasa awam dengannya, sebagai patokan agar tidak salah jalan—Christoff kemudian mematuhi insting-nya untuk menuju alun-alun. Memarkirkan mobil di sini, tidak ada lagi keperluan mendesak yang wajib dilakoni.
Rayla mengajak yang lainnya jajan Es Dawet Ayu Khas Banjarnegara saja. Hitung-hitung dalam rangka melepas dahaga jua. “Kalau di Bandung, ini namanya Es Cendol,” terang dia saat sang pedagang tengah menuangkan pesanan mereka dari kuali raksasa kepada cangkir tinggi dengan motif kotak-kotak khas di dekat dasarnya ala kebanyakan pedagang minuman di Indonesia.
Arus kendaraan ramai berlalu-lalang di depan alun-alun, membuat Rayla seketika teringat momentumnya berkunjung ke sekitar wilayah ini lagi-lagi semasa SMA-nya satu dekade silam. Pertama, dalam perjalanan mengikuti agenda study tour ke Dataran Tinggi Dieng dengan kesan paling membekas sejak saat itu dan kedua—university preparation ke Universitas Jenderal Soedirman atau Unsoed Purwokerto. Baginya seorang, dua kali perjalanan ke Wilayah Banyumasan itu nyatanya sudah hampir dua kali mengantarkannya sedemikian dekat dengan kampung halaman sang leluhur. Dia pun masih ingat betul bagaimana persimpangan menuju Purbalingga ini sempat dilewatinya dalam perjalanan menuju Dataran Tinggi Dieng. Meski tak singgah ke Mbraling saat itu, tetapi dia dapat merasakan sendiri bagaimana sensasi datang ke sana saat itu.
Es Dawet yang sudah jadi sontak membuyarkan lamunan Rayla tentang memori masa remajanya barusan. Secara bergiliran, tangannya mengestafet gelas demi gelas minuman itu kepada Christoff, Stevie dan Tiffany. Memilih membayar pakai QRIS di awal, menyantap minuman tradisional hingga habis setengah porsi, dan perhatian mereka teralihkan ketika sebuah suara medok Ngapak tiba-tiba terdengar dari samping.
“Pak, ada air panas?” Ternyata seorang pemuda, dengan perkiraan usia di atas Rayla–mungkin sekitar 30 tahunan awal, atau 20 tahunan akhir.
Rayla mau tidak mau jadi memperhatikan pemuda itu. Bagaimana tidak? Parasnya jauh dari kesan “orang lokal”. Berkulit putih—bukan kuning langsat—seperti orang Eropa, tetapi berambut hitam legam, dipotong pendek rapi. Tapi … kok, logatnya Ngapak, ya?
“Air panas … kepriwe, Mas?” Rupanya pemuda itu mendekati seorang penjual kopi keliling–kopling. Gerobak kopling belakangan memang sedang tren; kopi diseduh dengan cara seperti di kafe-kafe, tetapi dijajakan keliling dengan gerobak. Dalam beberapa kasus, kopling bersinergi dengan “ngopi di pinggir sawah”—kalau yang ini berarti “ngopi di alun-alun”.
“Eh … mmm … maksudnya saya pesan kopi susu satu.” Pemuda itu meralat. Masih dengan logat Ngapak yang kental.
“Oh, njih, Mas.” Penjual kopi keliling itu menyahut, sembari mulai menyeduh kopi di atas gerobaknya.
“Sama….” Pemuda itu berhenti sebentar, kemudian mengeluarkan sebuah cup dari dalam tas ranselnya. “... bisa minta air panas juga?”
Rayla memandang adegan yang tak jauh dari tempatnya menyeruput Es Dawet bersama circle-nya. Dan ketika pemuda itu membalik badan, sambil menggenggam sebuah cup berisi makanan instan, mungkin semacam mi seduh, tampaklah raut wajahnya yang … ternyata cakep juga. Sekilas seperti bule–dan sekilas seperti Christoff juga. Namun, jika dilihat lebih saksama, aksen Asia-nya pun cukup kental.
“Permisi.” Pemuda itu menyapa Christoff. “Boleh, kan?” ujarnya sambil dengan enteng saja mencomot kursi bakso dari sebelah kanan, memindahkannya ke dekat Christoff.
Spontan, Christoff mengangguk.
Pemuda itu kemudian mengambil lagi bangku lain dan meletakkannya di depan dan meletakkan cup-nya. Ia kemudian membuka tas ransel dan mengambil sebuah benda—MP4. Ia mengulur kabel yang melilitnya dan memasangnya di kedua telinga. Selanjutnya, ia kembali mengambil cup dan mulai menyantap isinya.
Cuek sekali dia. Rayla menggumam dalam hati.
“Jadi, kita mau menginap di mana, Ray?” Stevie kembali membuka pertanyaan sembari tangan halusnya menyodorkan komputer tablet ke hadapan Rayla.
Rayla kembali teralihkan, kini matanya fokus menatap deretan demi deretan nama penginapan yang ada di layar, tersemat pada tampilan Google Maps. Beberapa titik tampak berdekatan, mungkin itu adalah hotel-hotel kecil yang belakangan terintegrasi dengan aplikasi jejaring hotel online. Beberapa tampak berjarak; ada yang sepertinya menjanjikan tetapi sepertinya agak jauh ke timur … dan lagi, apakah uang mereka cukup jika itu adalah hotel berbintang besar?
“Mungkin coba cari yang tidak terlalu jauh dari alun-alun saja,” usul Tiffany.
Sementara itu, penjual kopling ternyata sudah selesai meracik kopi susu pesanan pemuda tadi. Ia kemudian memanggil rekannya.
“Tolong kasihkan ke Mas-nya yang itu.” Penjual itu memberikan nampan kepada rekannya.
“Yang mana?” Si rekan tampak celingukan.
Si penjual pun kembali menyembulkan kepala dari balik gerobak, lalu menunjuk ke suatu arah. “Yang itu, lho. Yang kayak bule itu.”
“Oh….” Rekannya pun ngeh. Ia segera melangkah menuju arah yang dimaksud.
Christoff tengah asyik menyendok dawet di antara kuah manis perpaduan santan dan gula merah ketika seseorang terdengar menyapanya.
“Permisi, Mas. Ini kopinya, ya?” Orang itu menyodorkan kopi ke hadapan Christoff.
Christoff pun kebingungan. “Siapa yang pesan kopi, Mas?”
“Loh?” Ganti orang itu yang kebingungan. “Bukannya tadi Mas-nya pesan kopi, ya?”
Christoff pun tambah kebingungan. Ia lalu menoleh dan tampaklah pemuda tadi tengah menunduk sambil asyik menyeruput kuah di dalam cup-nya.
“Mas … permisi,” sapa Christoff.
Sayangnya, pemuda itu bergeming. Sepertinya earphone itu yang menyebabkannya tidak ngeh dengan sekeliling. Christoff pun mencoleknya.
“Eh?” Pemuda itu tersadar, lalu menoleh. Dan ketika ia melihat orang membawakan nampan berisi secangkir kopi susu di depannya, ia pun segera melepas earphone dan menerima kopi susunya. “Maaf, Mas. Nggak denger.” Ia terkekeh.
Rekan kerja si penjual kopling itu pun ikut terkekeh. “Wah, saya sampai siwer. Mirip, sih. Saudara, ya?”
Spontan, Christoff dan pemuda itu pun saling menoleh dan berpandangan. Dan memang tampak, sih, kemiripan keduanya. Karena, keduanya sama-sama memiliki aksen bule.
“Mari, Mas.” Orang yang membawa nampan itu akhirnya pamit.
Kepalang tanggung, akhirnya mereka pun mengobrol. Ringan, dan basa-basi saja, sih.
“Kalian sudah lama di sini?” Cowok itu bertanya tanpa rasa canggung, sekilas terkesan seperti sok akrab.
“Baru sampai, kok. Mas juga, toh?” Rayla meladeni sapaannya.
Cowok itu meletakkan cup yang sepertinya sudah habis. Lalu ganti mengambil cangkir kertas berisi kopi susu yang tadi dipesannya. Sekilas Rayla sempat melihat tulisan pada label di cup kertas itu: Bakso Cuanki KAI.
“Ya … beberapa hari yang lalu.” Ia menyeruput kopinya sebelum kembali melanjutkan. “Saya dari Jakarta, naik Taksaka lalu turun di Purwokerto. Dari Purwokerto, saya ke sini naik Trans Jateng yang ke arah Purbalingga.” Ia berhenti sebentar. “Oh iya, ngomong-ngomong kalian mudik atau memang asli tinggal di sini?” Naluri investigasinya menyeringai lebih dalam seperti wartawan.
Rayla kali ini tidak langsung menjawab, melainkan sempat saling tatap dengan tiga anggota circle-nya dulu. Belum apa-apa, dengan orang yang belum kenal segala—kok sudah diminta membocorkan agenda? Gumamnya dalam hati. Menunggu tiga detik, Rayla memilih jawaban netral.
“Kebetulan kami ada keperluan mendadak di sini, Mas. Jadi mau enggak mau, sih, sebenarnya harus langsung ke sini.” Christoff mengambil-alih panggung.
“Hmmm, yeah I see. Sama, sebenarnya saya juga sih. Mumpung lagi ada waktu kosong, daripada bosan di rumah di Jakarta—sekalian saja ke sini. Sambil mungkin cari-cari sesuatu yang bagus untuk foto. Mungkin … sambil liburan sekalian cari bahan kerjaan juga.”
Christoff tampak tertarik.
“Saya fotografer freelance. Wartawan foto juga. Sering jadi kontributor untuk media,” lanjutnya lagi.
Oh … wartawan. Pantas saja langsung banyak bertanya. Omongan laki-laki itu kini malah justru mendorong Rayla berterus terang seputar tujuan kedatangannya ke sini.