Ketika Pak Guru memilih Chinese Zending School untuk tempat belajar sang anak, tak sedikit warga mengernyit, tak bisa menyembunyikan keheranannya. Kyai Haji Hasan Thamrin, sang guru di tanah Mbraling, yang bukan hanya guru SD tetapi juga guru mengaji tempat banyak warga menitipkan anak-anak mereka untuk belajar agama; kenapa justru malah menaruh anaknya sendiri di sekolah yang didirikan misionaris, bahkan diperuntukkan untuk etnis Cina?
Sosok Ahmad pun tampak mencolok. Apalagi dengan kulitnya yang legam laksana terbakar sinar matahari. Namun, itu tak mengurangi pesonanya, dengan wajah tampannya nan hitam manis. Terutama ketika ia tumbuh tinggi, yang bahkan bisa dibilang di atas rata-rata teman-teman seangkatannya. Mungkin karena ia tergolong lebih tua dibanding rata-rata usia teman-teman sekelasnya. Karena, sebenarnya Ahmad sudah bersekolah terlebih dahulu sebelum masuk ke sekolah ini; di sebuah sekolah berbasis Islam tempat sang ayah mengajar. Sekarang pun Ahmad masih melanjutkan “sekolahnya”, tepatnya dengan mengaji di langgar. Sang ayah yang menyuruhnya, mungkin sebagai penyeimbang.
Ahmad adalah seorang murid periang. Ia pandai bergaul, tak jarang melucu. Tentu sesekali ia pun nakal. Meski rasanya masih bisa dimaklumi sebagai nakalnya anak-anak. Setidaknya, ia tidak pernah ikut-ikutan ketika suatu ketika beberapa teman lelakinya entah kenapa begitu getol menjahili para murid perempuan dengan cara menyingkap rok mereka. Para murid perempuan jelas kesal bukan main, tak sedikit yang menjerit-jerit ketika bagian “pribadi” mereka tersingkap, sementara para murid laki-laki malah tertawa-tawa.
Ahmad tidak tertarik dengan kenakalan teman-temannya saat itu. Ia memilih untuk menyingkir, duduk, membuka kitab kecil miliknya dan mengulang sedikit tugas hafalan surat pendek yang nanti sore harus disetor ke guru ngajinya. Hingga sebuah jeritan membuyarkan konsentrasinya. Lalu, tampaklah seorang murid perempuan—sepertinya dari kelas lain karena Ahmad tidak pernah melihatnya di kelas. Murid perempuan itu tampak kesal karena para laki-laki tidak berhenti menjahilinya. Berkali-kali ia berusaha melindungi roknya yang berulang kali pula coba disingkap oleh para murid laki-laki itu sambil tertawa-tawa. Suaranya yang kesal semakin terdengar putus asa, bahkan seperti ingin menangis. Walhasil, Ahmad pun tergerak. Ia tutup kitab kecilnya, lalu berjalan menghampiri gerombolan siswa itu.
“Tolong jangan ganggu.” Ahmad yang tubuhnya tinggi sontak menghadang dengan berdiri di depan di murid perempuan itu.
Gerombolan murid laki-laki itu tersentak. Tawa jahil mereka berangsur hilang. Mungkin kaget.
“Ndak usah ikut campur.” Salah seorang dari mereka menjulurkan tangan dan mendorong Ahmad.
Tubuh Ahmad sedikit tersentak, tetapi ia masih bisa mengendalikan diri. Ia tetap bergeming.
“Jangan ganggu.” Ahmad balas mendorong. Rasanya, sih, pelan—menurut Ahmad. Namun, ternyata murid itu terjengkang ke belakang. Teman si murid tidak terima. Sontak, ia maju dan balas mendorong Ahmad. Ahmad balas mendorong lagi.
Entah berapa kali adegan dorong-mendorong itu. Yang jelas, lama-lama adegan dorong-mendorong berubah menjadi baku hantam.
Murid perempuan itu kembali menjerit. Kali ini dengan nada panik. Selanjutnya, orang-orang pun berdatangan. Tak terkecuali para orang dewasa.
K.H. Hasan Thamrin gusar mendengar anaknya dipanggil ke ruang guru. Apalagi ketika sekolah menjatuhkan hukuman skorsing selama tiga hari—bukan hanya kepada Ahmad sebenarnya, melainkan juga para siswa laki-laki yang terlibat perkelahian dengannya. Selama masa skorsing, Ahmad diwajibkan membantu membersihkan masjid untuk digunakan anak-anak mengaji sore harinya. Dan pastinya disertai ultimatum agar ia tidak mengulangi perbuatannya lagi.
“Tugasmu adalah belajar yang rajin, bukan cari keributan!”
Bahwa Ahmad bukanlah si pemicu, melainkan hanya mencoba menolong teman perempuannya, K.H. Hasan Thamrin sepertinya tidak mau tahu.