Deru mesin mobil meraung dengan bunyi dan gaya khasnya tepat di depan pintu Taman Pemakaman Umum Reksopraleno, tidak jauh dari GOR Goentoer. Menemukan petunjuknya secara tidak sengaja di sini, berselang singkat usai memadamkan mesinnya—melompat turun kompak dari sana, Rayla dan kawan-kawannya lalu mengayun langkah menuju TPU Reksopraleno.
Yugo berjalan paling depan karena sebelumnya ia memang pernah ke sini. Sekilas matanya melirik ke arah rumah kecil tak jauh dari pintu masuk makam. Tampak olehnya seorang wanita paruh baya mengenakan jilbab. Namun, karena wanita itu tampak sedang asyik mengobrol, ia pun memutuskan untuk lanjut saja. Toh, ia masih ingat lokasinya.
Berdasarkan catatan informasi dari dulur-dulurnya baik di Bandung maupun di Jakarta, dulu Mbah Guru Thamrin beserta istri dan sebagian anggota keluarganya yang tetap tinggal di Purbalingga hingga akhir hayat, begitu wafat langsung dimakamkan di sini. Lebih-lebih sebagian dari total keseluruhan anaknya, memilih tetap melajang semasa hidupnya. Praktis mereka hanya diurus oleh sebagian anggota keluarga yang masih menjalin ikatan batin atau minimal, warga dan pengurus masjid sekitar.
Nama TPU Reksopraleno membentang gagah pada gapuranya di angkasa. Sebuah bohlam neon putih bertengger menerangi nama tempat ini, mungkin lupa dimatikan kendati hari sudah siang. Melintasi beberapa bongkahan batu nisan sambil mengucap salam, setiap beberapa detik sekali Rayla acap memperhatikan sebanyak tiga hingga lima foto di layar komputer tabletnya tersebut. Setiap foto itu, satu di antaranya—masing-masing memuat nisan pusara mulai dari yang berwarna abu-abu, putih pucat bahkan sampai hitam legam. Dan di namanya, tertulis bahwa itu adalah Mbah Guru Kakung dan Putri serta satu putranya, Mbah Shiddiq. Sedangkan putrinya yang satu yakni Mbah Sumarsih, diketahui tidak dimakamkan di sini.
Masing-masing, mereka wafat di tahun 1967 dan 1971 serta 2008 dan 2010. Yang berarti sisanya belum terlalu lama. Hanya saja Christoff dan Rayla sama sekali tidak pernah bertemu apalagi mengenal Mbah Shiddiq serta Mbah Sumarsih. Melaju lagi lewat sisa beberapa bongkahan batu nisan, mereka akhirnya sampai juga di titik pusara yang dituju. Ini adalah makam Mbah Guru Thamrin, sedangkan di sebelahnya praktis itu makam Mbah Guru Putri dan Mbah Shiddiq. Memastikan bahwa itu benar adalah pusara yang hendak diziarahi, membawa sejumlah bungkus plastik berisi kembang dan air bersih, mereka lalu kompak berdiri rapat-rapat di samping pusara leluhur dan memanjatkan doa sesuai keyakinan masing-masing. Empat orang berdoa secara Agama Islam, satu orang secara Kristen atau Katolik. Itu caranya Yugo.
Hening selama beberapa detik, suara mereka kemudian kembali menggema di sini. Kali ini, mereka asyik berbagi tugas antar masing-masing untuk siapa saja yang akan menabur bunga serta menyiramkan air.
“Bunganya dibagi-bagi, ya,” tutur Stevie seolah tidak mau ketinggalan meski ini bukan makam leluhurnya sendiri. Sebuah ide terbesit lalu membiak di kepalanya saat tangannya secara bergantian menaburkan bunga di atas nisan makam Mbah Guru sekeluarga.
Tiffany dan Christoff saling berbagi air, Yugo pun kini mengandalkan naluri fotografernya mengabadikan momentum ziarah ini. Dia kembali menjepret nisan makam Mbah Guru dan Mbah Shiddiq untuk keperluan identifikasi, siapa tahu nanti keluarga besarnya butuh. Tentu tak lupa ia pun mengambil gambar peziarah lainnya, terutama sekali Rayla dan Christoff.
Beres menyirami kuburan Mbah Guru sekeluarga, Rayla lalu membuka lagi buku catatan dan versi print out dari hasil wawancaranya bersama Eyang Putri sebelum berangkat ke Purbalingga tempo hari. Di sini dia lalu mengingat-ingat lagi tujuan utamanya, yakni sekali lagi untuk menelusuri jejak Eyang Abdul Kadir—kakeknya saat masih tinggal di sini dulu. Rumah Mbah Guru di Jalan Kapten Sarengat sudah mereka singgahi barusan, sekarang tinggal mencari letak lokasi lainnya yang berkaitan sangat erat dengannya.
Udara sejuk menghampiri seakan-akan ingin menyapu kesan bahwa taman pemakaman itu angker atau seram, sehingga otomatis membuat dia dan gengnya betah berlama-lama di sini sekaligus dalam rangka mengenali sosok leluhurnya secara lebih dalam lagi, Rayla lalu coba mengajak kakaknya meniti alur cerita tentang almarhum Eyang Kakung di Purbalingga dulu.
Satu per satu bagian chapter dikuliti, sadar ternyata masih banyak yang harus disinggahi lagi, mereka pun segera beranjak dari sini. Pergi berpamitan dengan kakek-nenek buyutnya, persis begitu melangkah keluar gerbang makam—dua pasang mata wanita mengunci arah pergerakan mereka.
Dua wanita itu, satu paruh baya satu anak muda, Bu Lestari dan Crystal, sepertinya “tertarik” dengan rombongan anak muda yang melewati depan rumah kecil itu dan keluar dari gerbang makam.
“Apa itu orang yang dulu sempat ke rumah saya, ya?” Bu Lestari memincingkan mata ketika melihat sosok laki-laki berparas mirip bule di antara mereka. Tidak terlalu kelihatan juga apalagi langkah mereka kian menjauh.
Crystal tersentak, seakan nyaris kehilangan kata-kata. Matanya pun semakin lekat menatap rombongan anak muda itu. Jangan-jangan salah satu di antaranya memang yang membawa buku catatan Mbah Husni yang dulu tertinggal, pikir Crystal. Sayangnya, wajah bule di antara rombongan tersebut kurang terlihat jelas.
“Mbak, saya pamit dulu, ya? Ini saya ada perlu di luar sebenarnya.” Bu Lestari merapikan jilbabnya.
Crystal kembali tersentak. “Oh, iya, Bu. Nggak apa-apa. Saya juga mau pamit.” Crystal kembali menatap rombongan anak muda yang tengah berziarah itu. Sempat terbesit setitik keinginan untuk bergabung. Namun, ketika melihat mereka sudah masuk mobil, ia pun mengurungkannya. Sudahlah. Mungkin lain waktu saja. Lagipula, Crystal sudah ada rencana sendiri.
Mesin mobil Toyota Hiace kembali diderumkan di depan gerbang makam, usai itu Geng Rayla pergi menelusuri tempat-tempat lainnya yang terkait Eyang kakung di sini.
…
“Eyang Kakung sekolah di HIS/HCS, Mas.” Baru kali ini Rayla pertama mengungkit cerita tentang sosok kakeknya secara cukup mendetail.
Menyadari nama sekolah itu disebutkan oleh adiknya, Christoff lalu segera menepi sejenak. Dia melafalkan nama lawas institusi pendidikan di atas lewat mikrofon komputer tabletnya, dan dalam faksi sepersekian detik berselang—informasi itu muncul di layar sebagai sebuah bangunan cagar budaya yang terletak persis di seberang alun-alun. Tahu lokasinya mudah dijamah, dia pun segera membawa mereka kembali lagi ke pusat kota, dan begitu tiba di sini—Christoff berangsur-angsur tidak sabar mendengar ulasan cerita tentang Eyang Kakung dari sang adik.
Namun Tiffany yang iseng lantas menyela, “Kak enggak mau mampir dulu ke Mixue? Tuh aku lihat di sana,” tuturnya sembari menunjuk dengan jemari kanannya ke arah Jalan Jenderal Sudirman.
“Eh nanti dulu dong Tif, mending susur jejak Eyang Kadir dulu saja deh.” Stevie enggan langsung mampir ke toko Es Krim yang belakangan sedang viral itu.
“Atau mending nanti kita singgah ke sana?” Yugo tiba-tiba berinisiatif menengahi.
“Natuurlijk, dat is een goed idee.” Rayla menceletuk dalam Bahasa Belanda, memantik senyum manis dari paras Yugo untuk pertama kalinya.