Sebuah Titik Temu

Rivaldi Zakie Indrayana
Chapter #16

Chapter 15: Satu Leluhur

“Purbalingga Kota Perwira.”

Entah didengar betul oleh kakaknya atau tidak, gumaman Rayla tentang julukan kota ini yang dia baru tahu sekarang menjadi penanda telah kembalinya rombongan mungil mereka ke sini tepat tengah siang ini. Lebih peka terhadap sinar matahari yang terasa lebih terik sekalipun perut sudah keroncongan, sekali lagi menuruti keinginan Tiffany, siang ini mereka mampir ke Mixue—kedai Es Krim kekinian yang juga tengah viral dan sudah masuk Purbalingga. 

Setia berkutat tidak jauh-jauh dari alun-alun, begitu membelokkan kemudi mobil ke sini, perhatian Christoff terkunci lekat-lekat kepada sesosok wanita pemilik ciri-ciri fisik yang total sudah dia lihat sebanyak tiga kali selama di Purbalingga ini. Tangannya mantap mengunci setir Mobil Kia Rio persis saat Christoff tiba di sini, sejurus berselang dia ternyata turut masuk ke restoran Es Krim asal Tiongkok tersebut. Memastikan Rayla dan kawan-kawan sudah turun, dia pun segera menyusul mereka ke dalam toko. 

Di sini, memesan sejumlah porsi Chocolate Cookies Smoothies dan Chocolate Lucky Sundae—Christoff untuk pertama kali akhirnya sukses menjalin kontak mata dengan wanita tersebut, yang ternyata adalah Crystal. Saling melempar senyum, mereka pun kompak mengantri. 

Dalam antrian, Crystal yang sejak datang asyik membaca layar ponsel kini lantas teralihkan perhatiannya kepada rombongan anak-anak muda di depannya. Satu cewek berparas ala orang Indonesia pada umumnya—Rayla, dua lainnya mirip Crystal—Stevie dan Tiffany, sisanya dua cowok berparas agak bule—notabene Yugo dan Christoff.

Deg! Crystal merasakan sesuatu menghantam dadanya lebam-lebam. Sebentar … bukankah mereka adalah sekelompok anak muda yang tadi mengunjungi makam? Wajah mereka waktu itu memang tidak terlalu jelas. Namun, Crystal masih ingat dengan pakaian yang mereka kenakan. Dia merasa familiar dengan mereka, dan rasanya ini bukan sekadar kebetulan. Ia teringat dengan kata-kata Bu Lestari tadi di makam yang menduga kalau salah satu dari mereka sepertinya orang yang dulu pernah bertemu dengannya—beberapa hari sebelumnya. Dan … rasanya Crystal memang pernah melihatnya. Tapi di mana, ya?

Tadi, Crystal memutuskan untuk menyusuri jejak sekolah di mana sang kakek, Ahmad Husni, pertama kali bertemu dengan Mbah Merry. Hollandsche Chinese Zending School, atau biasa disingkat HCS. Kini sudah bertransformasi menjadi SD Kristen Bina Harapan, terletak di Jalan Jenderal Sudirman, lurus ke arah timur dari alun-alun. Di belakangnya persis terdapat sebuah gereja, tepatnya Gereja Kristen Indonesia (GKI) Purbalingga, dengan usianya yang sudah lebih dari satu abad dan dulunya menjadi tempat penyebaran agama Kristen di sana. Crystal pun bertanya-tanya, atas dasar pertimbangan apa Mbah Guru, yang notabene adalah guru mengaji, dulu menyekolahkan anak-anaknya—Ahmad, dan juga kakaknya, Muhammad—di sekolah yang justru didirikan oleh misionaris saat itu?

Puas melihat-lihat bangunan sekolah dan gereja, Crystal pun putar balik bermaksud kembali ke penginapannya—atau menjelajah ke tempat lain, mungkin. Hanya saja, rasa haus yang menjalar membuatnya meminggir ke sebuah gerai es krim yang tengah happening. Dan ketika lagi-lagi bertemu dengan sekelompok anak muda yang tadi dilihatnya di makam, sesuatu menyelusup ke benaknya; ia merasa bahwa kini petunjuknya untuk menemukan teka-teki yang hilang tinggal sejengkal lagi. 

Tidak sabar menunggu mereka dapat pesanan, begitu dapat gilirannya mengantre di paling depan, Crystal langsung memilih satu varian rasa Es Krim kesukaannya. 

Kiwi Smoothies ada?” tanya Crystal.

Tanpa banyak cingcong, karyawan yang menerima pesanan Crystal segera menginstruksikan kepada kru dapur untuk segera membuatkan pesanan. Sempat tidak sengaja berbalas kedipan mata dengan Yugo, sejurus berselang—keduanya yang merasa saling familiar satu sama lain lantas membangun ikatan batin lebih kuat. 

“Silakan, Kak.” Tanpa menunggu terlalu lama, segelas besar berisi minuman es berwarna hijau dengan topping krim berwarna putih disodorkan ke hadapan Crystal. Crystal pun menerima pesanannya. Matanya kembali bersirobok dengan rombongan anak muda itu. Hanya saja, kali ini ia telah membulatkan tekad untuk mencoba menyapa dan bergabung dengan mereka. 

“Permisi, Mas. Kursinya kosong?” tawarnya sebagai metode basa-basi agar tak canggung. 

“Ya kosong, Mbak. Silahkan.” Malah justru Christoff yang menyahut paling cepat. Yugo merasa kenal dengan Crystal. Tapi … di mana, ya? Toh, dia mencoba mengakrabkan diri dengannya. 

“Baru sampai juga nih, Mbak?” Yugo menyapanya.

“Eh? Iya, Mas. Habis nyekar dari makam kakek buyut, saya langsung mampir ke sini—biasalah ingin yang segar-segar. Kalau Mas sama teman-temannya habis dari mana, apa baru datang ke Purbalingga juga?” Crystal balik bertanya.

“Saya sudah beberapa hari yang lalu sampai di sini. Kami tadi juga menziarahi makam kakek buyut, lalu menelusuri sejumlah lokasi lain yang dirasa penting sebagai bagian dari hidup mereka di sini dulu.” Yugo menyambungkan tema percakapan dengan Crystal. 

“Kakek buyut kalian? Namanya siapa?” Crystal kaget sekaligus berangsur merasa familiar dengan Yugo. Ya … rasanya ia pernah melihatnya di suatu tempat. Apalagi logatnya … rasanya pernah suatu waktu ia bertemu dengan orang berwajah bule tetapi logatnya medok.

Yugo serta Rayla dan kawan-kawan sebaliknya bergantian merasa canggung. Tidak langsung menjawab melainkan sempat saling berpandang-pandangan mata karena sadar akan segera mengungkap sebuah rahasia. Bingung harus bagaimana, Yugo akhirnya memilih berterus terang saja sekalian. 

“Mbah Guru Hasan Thamrin. Kami berlima, sebenarnya ternyata sepupu. Saya cucunya Opa Willy … Muhammad William Wicaksana … feeling saya, Opa Willy adalah Muhammad. Eh, enggak. Saya yakin, sih.”

Lihat selengkapnya