Sebuah Titik Temu

Rivaldi Zakie Indrayana
Chapter #17

Chapter 16: Jejak yang Tertinggal

Tegukan sesendok demi sesendok es krim telah tandas, selanjutnya rombongan anak muda ini beranjak mendatangi alamat yang hendak dituju kembali. Kali ini, keenamnya pergi menggunakan formasi iring-iringan atau konvoi kecil mengingat fakta Crystal membawa mobil sendiri dari Jakarta. Berputar-putar di jalan yang sama sejak hari-hari sebelumnya, usai menempuh perjalanan singkat, mereka tiba di depan rumah Mbah Guru. Persis sesuai alamatnya yang sama sekali tidak pernah berubah sejak dulu.

Memarkirkan kedua mobilnya di pinggir jalan, sekali lagi mereka memperhatikan detil dan seksama bangunan rumah leluhurnya yang kini telah diambil alih seorang pengusaha petshop.

“Apa berarti rumah ini dulunya cuma tempat tinggal atau … kayak ada semacam surau kecil buat belajar mengaji dan salat?” Yugo mengagetkan sepupu-sepupunya, lantaran dia justru seperti sangat penasaran dengan deretan ritual ibadah ala umat Islam ini. Dan Rayla pun mau tak mau kembali teringat dengan cara berdoa Yugo tadi di makam.

Christoff dan Rayla sebagai cicit langsung, melempar isyarat menanti sejenak. Kedua bola matanya serempak memicing, menelusuri setiap detail bangunan ini tanpa ketahuan pemiliknya. 

“Tergantung profesinya Mbah Guru dulu apa. Bisa saja dulu ini cuma tempat tinggal, sementara Mbah Guru mungkin mengajar di tempat lain. Kalau enggak pondok pesantren, minimal masjid … sekitar sini.” Kedua bersaudara ini menebak sekenanya saja.

“Mending coba langsung telusuri deh. Itu ada gang di sana, langsung jalan saja, yuk, siapa tahu ada murid-muridnya yang masih tinggal di sana.” Crystal kali ini mengambil alih komando.

Mengetahui ada kawasan padat penduduk berdiri di balik gang sempit itu, namun siapa tahu justru hikayat Mbah Guru terpendam lama di sana, mereka lantas mengiyakan instruksi Crystal barusan. Tidak banyak cincong lagi, seraya sesekali berpapasan dengan warga lokal baik yang berjalan kaki maupun mengendarai sepeda motor—mereka pun lantas melihat-lihat situasi sekitar. 

Awalnya dianggap biasa saja, paling tidak hanya saling berbalas anggukan dengan warga—begitu sampai di tengah-tengah perkampungan tanpa mereka sadari, tahu-tahu beberapa pasang mata sepuh menyergap mereka dengan kombinasi perasaan curiga sekaligus penasaran. Terlebih lagi usai mendapati paras Christoff dan Yugo yang lagi dan lagi notabene seperti bule, ingatan para warga lansia itu lantas melayang ke masa kecilnya nyaris seabad lalu. 

“Putune wong londo opo dudu?”

“Kadosipun ngana, arep nggoleki cerito mbahe dhisik.”

Christoff dan Yugo kini terlihat seperti artis yang akan shooting di desa. Tidak hanya para lansia yang semakin lama semakin betah memperhatikannya, melainkan pria-wanita paruh baya hingga anak-anak muda setempat juga. Mengabaikan lirikan itu sejenak, sepasang cowok ganteng ini lalu memilih mendiskusikan alur penelusuran dan cerita leluhur sejenak bersama para bidadari pengawal atau guardian angels-nya ini. Merasa yakin jejak Mbah Guru masih tertinggal di sini usai puluhan tahun, mereka akhirnya memutuskan bertanya langsung kepada warga sekitar. 

“Kulanuwun sanget mbah, mau bertanya apakah benar di sini dulu ada yang pernah jadi muridnya Mbah Guru?” Yugo melontarkan salam dalam bahasa Jawa tetapi dengan pelafalan yang masih canggung. Maklum, ia hanya mempelajari sekilas dari percakapan sepintas yang dilontarkan orang-orang sekeliling di sana. Namun, intonasi medok Yugo kini malah membuat wajahnya seolah tak ada nilai. 

Keheningan yang tadi terjadi akibat terhipnotisnya warga oleh faktor ini pun sekarang pecah, sebagian memilih berbisik-bisik.

“Mbah Guru siapa, Mas?” Seorang wanita lansia, usianya ditaksir 80 tahun ke atas—menanyai balik Yugo. 

“Mbah Guru K.H. Hasan Thamrin. Ada muridnyakah di sini?” Intonasi medok yang keluar kedua kalinya dari suara Yugo membuat suasana semakin ramai. Mereka merasa dejavu dengan kedatangan orang-orang Belanda, namun sekaligus bingung bagaimana bisa ceritanya orang berparas bule justru punya intonasi medok? 

“Terus, Mas-Mbak semua, nih, siapanya Mbah Guru?” Warga lainnya, yang seorang paruh baya menyelidiki dengan tatapan setengah tajam. 

“Cicitnya, Pak. Kami baru bertemu kira-kira dua hari yang lalu di Purbalingga, masing-masing datang dari Bandung & Jakarta. Saya sama dia—cucunya Eyang Kadir.” Christoff menunjuk Rayla “Mereka berdua, masing-masing cucunya Opa Willy … eh Mbah Muhammad dan Mbah Husni.” Christoff melanjutkan dengan menunjuk Yugo dan Crystal. “Kalau mereka adalah teman sekolah kami di Bandung.” Christoff lalu menunjuk Stevie dan Tiffany. Ia tampak berusaha menetralisir suasana dengan intonasi halusnya meski sama-sama berparas bule.

“Mbah Guru Hasan Thamrin?” Wanita lanjut usia itu memastikan tidak salah dengar. 

Lihat selengkapnya