Crystal tidak menyangka perjalanannya ke Purbalingga akan berkembang hingga sejauh ini. Itu sebabnya ia mengunggah banyak momen napak tilas di Purbalingga ini ke fitur story di akun Instagram-nya sendiri—termasuk saat dia dan para sepupunya itu pergi menelusuri jejak murid Mbah Guru di gang belakang Jalan Kapten Sarengat kemarin. Tanpa sengaja, dia merekam suara Yugo yang bertanya mengenai masih ada atau tidakkah murid Mbah Guru yang tinggal di sini. Rentetan story khas anak muda zaman sekarang itu, di akun Crystal kini cenderung menampilkan wajah para cicit Mbah Guru.
Makanya, di Jakarta, Mama yang juga cukup sering membuka media sosial pun tak urung mengernyit juga. Tentu saja ia diam-diam senang melihat Crystal akhirnya bisa refreshing sejenak dari kesibukan pekerjaannya. Namun, di sisi lain, ia juga bingung dengan orang-orang di sekeliling Crystal. Mama tentu saja pernah bertemu dengan Ramdan dan Ariel. Namun, seingatnya kedua teman putri semata wayangnya itu bukan keturunan bule.
Berulang kali sambil menyesap teh manis di kamarnya, jari tangan Mama berusaha sekuat tenaga mem-pause setiap unggahan Crystal. Naluri overprotective-nya sontak muncul. Karena, Mama kemudian mencoba mengenali siapa saja anak-anak muda yang selalu hadir bersama Crystal selama di Purbalingga ini.
Yang paling mencolok baginya adalah Yugo. Tiba-tiba saja Mama teringat cerita Papa beberapa minggu lalu ketika seseorang menelepon ke rumahnya, mengaku sebagai salah satu cicit Mbah Guru, dan menemukan buku harian lawas peninggalan Mbah Husni. Papa bilang, konon dia berbicara dengan intonasi medok khas ngapak—intonasi Yugo sangat ngapak.
Menyesap teh manis lagi, Papa tahu-tahu masuk kamar. Dia berkilah ingin mencari sisir guna merapikan rambutnya lantaran sebentar lagi ada tamu datang, teman sekantornya dulu. Awalnya Mama mengangguk saja, tetapi belum juga Papa sempat pergi, Mama lantas menahannya di kamar. Ia memutar ulang video unggahan Crystal dan mengonfirmasi perihal temuannya itu sekaligus.
“Pa, coba dengarkan suara cowok ini, deh. Apa betul dia yang waktu itu katanya sempat menelepon ke sini?” Wajah Jawa Mama beradu kontras dengan wajah oriental Papa.
Pasangan suami istri paruh baya ini lalu mendengarkan dengan seksama, sampai Papa dibuat kaget sendiri mendengarnya.
“Iya, Ma. Suaranya sama persis dengan orang yang waktu itu telepon ke sini setelah Crystal kehilangan buku catatan Mbah Husni. Jadi akhirnya mereka ketemu juga.” Papa merasa yakin.
Mama melirik sambil mendelik. “Kok, Papa tenang begitu, sih? Laki-laki ini siapa? Bagaimana kalau dia hanya mengaku-aku cicit Mbah Guru?” protes Mama. “Ya Allah, dia lagi sama siapa saja selama ini?” Mama tak kuasa mendefinisikan seperti apakah jenis perasaannya gerangan kini.
“Sudahlah, Ma. Jangan terlalu khawatir. Crystal sudah besar dan selama ini dia baik-baik saja meski tinggal sendiri. Lagipula, di sana dia tinggal di guest house punya Pak Sunu, teman Papa.” Papa berusaha menenangkan Mama meski tampaknya tidak terlalu berhasil.
…
Dua hari berlalu semenjak pertemuan dengan keluarga Mbah Marto, sang murid Mbah Guru, pasca kunjungan mereka tempo hari. Memanfaatkan waktu luang yang ada di tengah-tengah napak tilas jejak leluhurnya, di sini Rayla memilih coba mengurut ulang paparan cerita Eyang Putri mengenai perjalanan hidup Eyang Kakung silam sesuai lokasi-lokasi yang ditandai di peta.
Intinya, ternyata hanya masa kecil dan sebagian masa remajanya yang dihabiskan di Purbalingga—sedangkan sisanya di Purwokerto, Yogyakarta baru kemudian Bandung. Menatap keluar jendela kamar saat Stevie dan Tiffany sedang tidur siang, Rayla kini nyaris merasa putus asa. Ada sedikit penyesalan, jauh-jauh datang ke sini dan ternyata sang kakek dan saudara-saudara kandungnya dulu adalah para perantau ulung.
Perempuan berambut panjang ini pun kehilangan mood hari ini, sampai menepuk pahanya kencang-kencang. Dia bingung harus ngapain lagi, dan memilih berhenti sejenak; hitung-hitung mumpung sekarang bisa istirahat dulu sejenak. Memadamkan layar komputer tabletnya, setelah itu dia memilih bergabung dengan Stevie dan Tiffany di tempat tidur.
Keesokan paginya, selepas telepon seluler Crystal berdering kencang—tergopoh-gopoh dengan masih mengenakan kaos dan celana pendek di atas lutut, perempuan cantik ini lalu untuk pertama kalinya mengetuk pintu kamar Rayla. Mungkin dia merasa lebih aman dan nyaman karena sesama perempuan. Rayla membuka pintunya masih dengan mematut baju tidur, sehabisnya dia kemudian ditodongi sebuah kabar gembira oleh Crystal seperti ini.
“Rayla, kamu ingat Mbak Nissa—cucunya Mbah Marto yang kita ketemu di rumahnya beberapa hari lalu?” Crystal bak memberondong dengan serentetan peluru.
“Iya–aku ingat dia, Mbak Crys. Memangnya kenapa ‘gitu sekarang?” Rayla berbalik menginvestigasi.
“Dia baru mengabari, Mbah Marto sudah datang dari Jember hari ini. Beliau ada di rumah, terus setelah diceritakan soal kita. Alhamdulillah beliau bersedia sharing cerita tentang Mbah Guru dulu. Yuk, makanya sekarang kita siap-siap. Ajak Christoff sama Yugo sarapan. Kita kasih tahu mereka juga.” Crystal malah tampak menjadi yang paling antusias menggali informasi seputar sang kakek buyut.
Laksana sumbu dicetus api, secepat angin Rayla lalu bersiap-siap merapikan diri bergantian dengan Stevie dan Tiffany. Yugo dan Christoff pun demikian, sampai telinga mereka menyerap kabar baik itu dari Crystal saat sarapan lontong gule di balik gerobak pedagang kaki lima seberang penginapan.
“Oh yeah … Mbak Crystal, has he been arrived here? Oh iya, Mbak Crystal, dia sudah sampai di sini?” Kalimat Bahasa Inggris Yugo terlontar nyaring berpadu dengan kuah gule, menarik perhatian orang-orang sekitarnya seperti biasa. Wajah dan bahasanya seakan-akan lebih bernilai, hampir 100 persen melenyapkan intonasi medoknya itu.