“Saya juga tahu tentang Muhammad. Juga adiknya, Ahmad. Mereka adalah dua anak tertua Mbah Guru yang … sebenarnya istimewa….” Ucapan Mbah Marto agak menggantung, tetapi seakan menjawab rasa penasaran Crystal, dan Yugo. “Terutama sekali Muhammad. Dia anak yang cerdas. Ia juga yang menginspirasi Ahmad, Warsito, dan juga Kadir untuk mengikuti jejaknya dengan merantau, mencari kesempatan yang lebih luas di luar Purbalingga.”
“Hanya saja, satu hal yang cukup disesalkan adalah….” Mbah Marto berhenti sejenak. “... keputusan Muhammad untuk berpindah keyakinan.”
Yugo sontak tertegun. Ketiga saudara jauh yang baru dikenalnya, juga Stevie dan Tiffany, pun terdiam.
“Padahal, sebagai tokoh agama di sini, Pak Guru punya cita-cita mulia. Yaitu ingin mendirikan pesantren di lahan tempat tinggalnya.” Mata Mbah Marto menerawang. “Bisa kalian bayangkan? Anak kebanggaannya, bahkan yang beliau beri nama ‘Muhammad’, malah memilih berpindah keyakinan.” Mbah Marto tampak menghela napas setelah berkata panjang lebar. “Dan … apa yang terjadi pada Muhammad, ternyata berpengaruh juga pada Ahmad.” Mbah Marto kembali berhenti. “Semua berawal ketika Muhammad mulai berteman dengan Martha.” Mbah Marto melanjutkan.
“Jadi … itu sebabnya di kertas silsilah Bude Astri hanya ada nama ‘Warsito’ sebagai anak tertua, ya?” Rayla mencoba mengambil kesimpulan sendiri.
Kelima koleganya pun menoleh.
“Iya … bahkan nama Muhammad dan Ahmad pun ditulis jadi satu. Aku sampai mengira kalau mereka adalah orang yang sama,” imbuh Christoff.
Deg! Tiba-tiba perasaan Crystal menjadi tidak keruan. Mood-nya mendadak hilang. Berarti sejak awal keluargaku dianggap tidak ada? Crystal kembali membatin.
“Martha itu siapa, Mbah?” Rayla penasaran.
“Oma saya.” Malah Yugo yang menjawab. Pendek. Dan pelan. Semua pasang mata pun menoleh.
…
Bagi Ahmad, sang kakak—Muhammad—adalah panutan. Muhammad tumbuh menjadi pemuda yang cerdas dan kritis. Salah satu yang menonjol, yaitu ia selalu mengedepankan logika. Dalam berkomunikasi, apalagi berpikir dan bertindak, logika selalu menjadi yang utama.
Muhammad paling ahli dalam pelajaran berhitung. Menurutnya, berhitung adalah cara paling ampuh untuk melatih logika. Dalam berhitung, kesimpulan akhir tidak mungkin didapatkan tanpa melalui proses, dan tentu saja proses itu harus benar. Proses yang benar akan menghasilkan kesimpulan yang benar. Sebaliknya, proses yang salah akan menghasilkan kesimpulan yang juga salah.
Menurut Muhammad pula, berhitung bukan hanya perkara menjumlah atau mengurangkan angka. Namun, prinsip berhitung seharusnya juga diterapkan dalam memandang persoalan sehari-hari. Misalnya, setiap peristiwa pasti memiliki sebab-akibat. Seperti, tidak ada asap jika tidak ada api.
Muhammad memiliki cita-cita tinggi. Itu sebabnya, ia memilih merantau keluar Purbalingga selepas dari MULO–Meer Uitgebreid Lager Onderwijs, sekolah setara SMP pada masa itu. Tujuannya sederhana; ia menginginkan kehidupan yang lebih baik dan menurutnya tidak banyak kesempatan terbuka di Purbalingga.
Ahmad, juga keluarga di Purbalingga, tidak terlalu tahu persis ke mana saja Muhammad pergi merantau. Sempat ia berkirim kabar kalau ia tengah berada di Madiun dalam rangka melanjutkan pendidikannya. Di lain waktu, ia kembali berkabar jika sudah mendapatkan pekerjaan di Ngawi. Tersiar kabar juga kalau ia bergabung menjadi tentara. Dan ketika mendengar kalau Muhammad berada di Yogyakarta, Ahmad—bersama dengan Warsito dan Kadir—pun tergerak untuk menyusulnya. Saat itu, tahun 1946, Yogyakarta adalah ibukota Republik Indonesia. Tentu saja Ahmad berharap akan kesempatan yang lebih luas untuk masa depannya jika ia pergi ke ibukota.
Namun, ia terkejut ketika mendapati sang kakak ternyata telah memiliki calon pasangan hidup—seorang gadis cantik berkulit putih keturunan Belanda bernama Martha. Yang paling membuatnya terkejut adalah ketika mengetahui bahwa Muhammad telah mengambil keputusan besar tanpa sepengetahuan keluarganya di Purbalingga.
“Aku akan pulang dalam waktu dekat. Meski ini keputusan besar, aku tetap harus memberi tahu Bapak,” ujar Muhammad saat itu.
Ahmad diam saja. Ia tidak yakin sang ayah akan setuju. Namun, Muhammad adalah orang yang sangat yakin dengan pemikirannya. Walau begitu, ia tetap kagum sang kakak tidak meninggalkan unggah-ungguh—ia tetap akan meminta izin kepada Bapak. Meski … Ahmad pun tidak yakin. Dan … feeling Ahmad terbukti. Ketika Muhammad mengutarakan keputusannya, Bapak tentu saja murka. Namun, Muhammad tetap bergeming. Dan setelah beberapa hari berkutat dalam suasana yang tidak enak, Muhammad akhirnya memutuskan untuk hengkang selamanya dari rumah di Purbalingga.
Sempat Ahmad membujuknya. Namun, Muhammad bersikeras. Ia merasa bahwa inilah yang terbaik.
“Masalah keyakinan itu prinsipil, Ahmad. Aku tidak ingin terus-menerus merasa tertekan dengan sikap Bapak. Sebaliknya, aku rasa Bapak pun tertekan batinnya dengan keputusanku. Jadi, rasanya lebih baik aku menyingkir saja,” ucap Muhammad pada pagi buta itu. Ia sudah mengemas barang-barangnya dan bersiap untuk pergi.
“Aku juga mencintai Martha. Ia gadis yang sangat baik. Aku ingin hidup berdampingan dengannya dan menjaganya.” Muhammad menatap sekilas pada rumah yang telah membesarkannya itu. “Sampaikan salam dan maafku untuk Bapak. Tolong jaga Bapak dan Ibu, dan adik-adik, ya. Selamat tinggal, Ahmad.”
Itulah kali terakhir Ahmad melihat sang kakak. Dan setelah itu, keberadaannya benar-benar tidak diketahui bak hilang ditelan bumi.
Semenjak kepergian Muhammad, Pak Guru Thamrin tampak murung dan semakin murung. Bagaimana pun, Muhammad adalah putra yang sangat disayanginya. Kepergian Muhammad dan murungnya Pak Guru lambat laun menjadi buah bibir di kalangan masyarakat sekitar. Beberapa kali terdengar komentar yang seakan menyalahkan—mungkin Muhammad seperti itu karena dulu disekolahkan di sekolah Kristen; mungkin Muhammad terpengaruh. Meski tak sedikit juga yang menuding kalau wanita yang dicintai Muhammad-lah penyebabnya.