Seiring dengan memanasnya situasi dengan kedatangan kembali Belanda untuk melakukan agresi militer, Ahmad pun bergabung dengan Tentara Pelajar. Warsito dan Kadir, yang juga ikut bersama Ahmad ke Yogyakarta, tentu saja turut serta. Ketiganya pun mulai diajari senior-senior mereka mulai dari menggunakan senjata hingga membuat peledak.
Tahun 1948 adalah masa-masa mencekam di Yogyakarta, seiring dengan Agresi Militer II yang dilakukan Belanda. Pada tanggal 1 Desember 1948, Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda. Soekarno dan Hatta, serta pejabat-pejabat lainnya ditangkap. Ibukota pun lumpuh. Untungnya, Indonesia sempat membentuk PDRI–Pemerintahan Darurat Republik Indonesia–di Bukittinggi dengan Achmad Syarifudin sebagai pimpinannya. Pemerintahan pun tetap berjalan.
Namun, tentu saja ketiga bersaudara putra Mbah Guru tidak ikut ke Bukittinggi. Mereka tetap berada di Yogyakarta. Bahkan, alih-alih menyembunyikan diri, mereka—juga rekan-rekan lainnya sesama Tentara Pelajar—malah kerap melakukan provokasi terhadap pasukan Belanda.
Patroli kerap terjadi setiap hari. Namun, Ahmad dan kawan-kawannya tetap nekat, bahkan mereka keluyuran di titik-titik pusat kota, seperti Tugu Pal Putih.
Beberapa truk berisi pasukan tentara Belanda berjalan beriringan menyusuri jalan utama kota Yogyakarta, dari timur ke barat. Iring-iringan itu terus melaju, dan akhirnya tiba di Tugu Pal Putih. Rombongan truk itu lalu lanjut kembali ke arah barat.
Beberapa pemuda tampak di pinggir-pinggir jalan. Sebagian tampak duduk, dan sebagian lainnya berdiri. Tampak pasang-pasang mata mereka menatap tajam pada barisan truk tersebut. Dengan pandangan tidak bersahabat, tentunya.
Sebagian tampak melangkah mundur meski tak melepaskan jua tatapannya ke arah rombongan pasukan berkulit putih itu. Sebagian lainnya, dan lebih banyak, tetap di tempatnya.
Deru kendaraan terdengar memekakkan telinga. Barisan truk itu laksana para gajah yang menguasai jalan seolah kota ini milik mereka. Dan tiba-tiba, terdengar suara yang lain di antara deru kendaraan-kendaraan itu.
Para pasukan yang berada di dalam truk sontak terkesiap. Dalam hitungan detik, mereka sudah berubah siaga, siap bertempur.
“TEMBAK!”
Terdengar suara memprovokasi dari pinggir-pinggir jalan diikuti suara letusan.
Makian demi makian mulai datang silih berganti. Dan dalam sekejap, jalanan pun berubah menjadi medan pertempuran.
…
Ahmad, Warsito dan Kadir duduk di ruang tamu sebuah rumah besar. Penampilan mereka tampak kusut. Wajah mereka terlihat antara lelah, dan marah. Tiga buah tas besar tampak tergeletak di samping mereka.
Tak lama, Muhammad datang menghampiri dan ikut duduk. Keempat bersaudara itu terdiam sebentar, sebelum kemudian berkata.
“Dik Ahmad, Dik Warsito dan Dik Kadir, lebih baik tinggal di sini saja dulu.” Muhammad tampak berusaha menenangkan kedua adiknya itu.
“Apa tidak apa-apa, Mas? Ini … kan, rumahnya Mbak Martha.” Ahmad tampak ragu.
Muhammad tersenyum. “Ini rumah milik ayahnya Martha. Ada dua bangunan. Yang ini, khusus untuk disewakan ke para pelajar yang merantau ke Yogyakarta,” jelasnya.
“Tapi … apakah di sini aman?” Kali ini Kadir yang angkat bicara. Wajar ia khawatir. Rumah orang tua Martha yang terletak di Jalan Pakuningratan ini memang tak jauh dari titik yang menjadi lokasi baku tembak beberapa hari sebelumnya. Bagaimana jika pasukan Belanda tiba-tiba menyerang?
“Jangan khawatir. Ayah Martha adalah pejabat di perusahaan kereta api. Posisinya cukup tinggi. Tidak mungkin pasukan Belanda berani mengusik.” Muhammad kembali menenangkan. “Lagipula, keluarga Martha adalah keturunan Belanda juga.”