Rayla membubuhkan blok maha tebal pada kalimat itu di buku hariannya yang kini tengah menjelma jadi arsip perjalanan hidup sang kakek. Hitung-hitung sambil menunggu pesanan Gudeg datang, siang hari ini di sebuah kedai makanan khas Yogya tersebut di Jalan Narasoma milik Bu Puji, Rayla mencoba mengaitkan lagi apa saja hasil penuturan Mbah Marto dan Eyang Putri di Bandung sebagai ancang-ancang untuk merangkai kisah hidup Mbah Kadir.
Tidak lupa, per siang ini usai sekian hari berada di Purbalingga, Rayla baru mendapat kabar dari keluarga besarnya yang sebagian sudah mulai menuliskan hikayat masing-masing. Mencakup di antaranya Bude Astri, yang di tengah-tengah wawancara dengan Mbah Marto barusan rupanya iseng men-japri Rayla guna menanyakan progress-nya sudah sejauh mana. Ketika hendak menjawabnya, Rayla nyaris saja membocorkan kunjungannya di Purbalingga belakangan ini, tidak terkecuali seputar pertemuannya dengan Yugo dan Crystal. Namun, alangkah beruntungnya dia sempat berkonsultasi dengan kakaknya, sehingga kalau ditanya sekarang bekerja sejauh mana, cukup tinggal bilang saja “menuliskan perjalanan hidup Eyang Kakung”. Percakapan berakhir tanpa membocorkan misi rahasia ini, tugas pun berjalan mulus sedangnya pesanan gudeg komplit datang.
Keenam anak muda itu tampak duduk mengelilingi meja makan ketika masakan gudeg terhidang. Kompak menyantapnya, Crystal mendadak terdiam. Entah kenapa, ia tiba-tiba teringat ibunya yang suatu ketika pernah mengajak dia jajan makan siang gudeg di salah satu kedai terlezat di Jakarta belasan tahun silam. Sekian lama bertempat tinggal sendiri di apartemen dan sekian hari melancong ke Purbalingga, Crystal hari ini tersadar kalau ia sudah lama tidak berbicara dengan Mama. Bicara yang dari hati ke hati tentunya. Ia pun teringat dengan pesan singkat Mama ketika tadi ia berada di komplek pemakaman bersama Bu Lestari.
“Ada apa, Mbak?” Yugo ternyata menangkap perubahan air muka Crystal.
“Eh?” Crystal tampak terkejut, meski kemudian ia seperti tersadar dan menguasai diri lagi. “Enggak, kok.” Ia lalu menangkupkan sendok dan garpu di atas piring yang telah tandas.
Crystal melirik teman-teman barunya—tepatnya saudara-saudara yang akhirnya ia temukan juga. Mereka tampak menyibukkan diri dengan menyusun ulang dan mendiskusikan alur cerita kakek masing-masing untuk menyusun buku. Sayangnya, Crystal sepertinya orang yang kehilangan selera. Ia pun segera berdiri dan mengambil tasnya.
“Loh, mau ke mana, Mbak?” Rayla yang sedari tadi asyik berdiskusi mau tidak mau heran juga.
“Mau balik ke penginapan. Agak … nggak enak badan.” Crystal tersenyum dengan senyuman yang seperti dipaksakan.
“Aku antar dulu, ya.” Christoff berinisiatif untuk berdiri, bermaksud menawarkan bantuannya.
“Ngapain? Saya, kan, bawa mobil.” Crystal memang ke restoran ini setelah di-japri Rayla setelah bertemu Bu Lestari sendirian. Sebenarnya ia malas. Namun, di sisi lain ia merasa tidak enak juga.
“Nanti mobilnya bisa saya bawa, Mbak,” tawar Yugo.
“Nggak usah,” tolak Crystal.
“Tadi katanya nggak enak badan?” Yugo mengulangi alasan Crystal.
“Saya bisa sendiri.” Crystal kembali menjawab, kali ini sembari langsung melangkah keluar.
Kelima orang lainnya hanya bisa terpaku terheran-heran melihatnya.
Sebenarnya, semenjak mereka berhasil menemukan dan mewawancarai Mbah Marto, sikap Crystal memang berubah menjadi lebih dingin. Yugo, yang sebelumnya sempat mengobrol berdua dengan Crystal di malam harinya, hanya bisa menduga-duga. Entah kenapa, ia merasa sikap Crystal laksana membawa bom waktu yang entah kapan akan meledaknya.
…
“Ada apa, Ma?” Akhirnya Crystal memutuskan untuk melakukan video call dengan Mama.
Sudah lama ia tidak berbicara secara personal dengan sang ibu. Sejujurnya, ia kangen juga. Hanya saja, karena pembicaraan mereka lebih sering berakhir dengan perdebatan, Crystal lebih suka menghindar. Atau setidaknya mengobrolnya bertiga saja dengan Papa.
“Crystal … Mama mau tanya sekarang. Dua cewek oriental, dua cowok blasteran dan satu cewek lagi jadi itu siapa saja ya? Kok, kamu kelihatannya akrab banget ya sama mereka?”
Sepertinya Mama juga berusaha menghindari konfrontasi. Setidaknya, intonasinya suaranya terdengar lembut.
“Yugo … terus Christoff, sama adiknya, Rayla. Lalu dua teman mereka, Stevie dan Tiffany.” Crystal menjawab malas-malasan. Bagaimanapun, tetap saja Crystal mengenali nada menginterogasi dari suara Mama.
“Iya. Itu siapa?” Mama mengulangi pertanyaannya.
“Kalau Yugo, Christoff, sama Rayla … yah, anggap saja mereka saudara.”
“Saudara?” Raut wajah Mama tampak bingung.
“Seperti yang ada di buku Mbah Husni yang dikasih Papa.”
Mama tampak mengernyit sebentar sebelum wajahnya berubah semringah. “Oh, iya … iya….” Tampak raut kelegaan di wajahnya. “Memangnya kamu ketemu dimana?” Mama kini tampak penasaran.
“Nggak sengaja ketemu di Purbalingga. Mereka datang hampir bareng aku, nginepnya juga di tempat Pak Sunu. Awalnya ngobrol bareng, terus begitu tahu kita sama-sama cicitnya Mbah Guru, jadi … ya kenalan, deh.”
“Mbah Guru?” Mama lagi-lagi mengernyit bingung.
Crystal duduk di sisi kasur dan mengambil cangkir berisi seduhan kopi instan yang sudah agak dingin, lalu meminumnya sebelum kembali melanjutkan percakapannya dengan Mama. “Ayahanda dari Mbah Husni. Sebutannya ‘Mbah Guru’. Ternyata Mbah Kakung punya saudara.” Terdengar tawa tertahan Crystal.
“Oh, jadi fixed terkonfirmasi, ya? Terus kamu selalu pergi bareng mereka?” Mama kembali melanjutkan.