Sebuah Titik Temu

Rivaldi Zakie Indrayana
Chapter #22

Chapter 21: Menulis Kisah Mbah Kadir

Pasca proklamasi kemerdekaan, situasi ternyata menggelincir sangat cepat. Masih melanjutkan kebiasaannya naik kereta api ke sekolah di Purwokerto, Kadir lalu ikut ketiga kakaknya merantau ke Yogyakarta dan melanjutkan kuliah di sana. Terjadi pada medio 1945-1949, saat mereka sedang asyik-asyiknya belajar sampai tiga semester di UGM, Belanda tahu-tahu datang lagi ke Indonesia—ingin kembali menyerbu laksana belum puas meski pernah lama bercokol di sini, dulu. Entah apa alasannya, mungkin saja karena ingin mengais sisa rempah-rempah kalau masih ada. 

Sadar situasi genting padahal Bung Karno dan Bung Hatta sudah terang-terangan mengumumkan merdekanya Indonesia, para pemuda mencakup diantaranya pelajar—kemudian berbondong-bondong mendaftarkan diri menjadi Anggota Tentara Pelajar alias TP. Ahmad, Warsito, dan tentu saja Kadir, ketiganya ikut mengambil bagian di sini sehingga praktis perkuliahan di UGM terpaksa harus mereka tinggalkan.

Dua kali Agresi Militer Belanda di tahun 1947 dan 1949 sampai harus dibentuknya Pemerintahan Darurat Republik Indonesia pimpinan sang ketua, Sjafroeddin Prawiranegara yang berkedudukan di Bukittinggi, Sumatera Barat, seiring diamankannya Soekarno-Hatta dari serbuan Belanda, Ahmad, Warsito dan Kadir ikut menjalani penugasan militer bersama kesatuannya baik itu patroli maupun bergerilya melindungi dan menghalau segala bentuk serangan musuh. Setiap kali bertemu pasukan Belanda, jika beruntung mereka akan bersembunyi terlebih dahulu baru kemudian melepas serangan secara diam-diam. Pasukan Belanda acap kali dibuat kewalahan akibat ulah mereka ini, setelahnya barulah penugasan dilanjutkan kembali. 

Usai Belanda akhirnya benar-benar angkat kaki dari bekas tanah jajahan yang sudah merdeka ini, tampaknya bergabung sebagai anggota militer justru menjadi jalan hidup mereka. Kecuali Muhammad sang kakak sulung yang memilih mundur dari kedinasan, meniti jalan hidup baru sesuai surat-surat yang tempo hari dikirimkan.

Lepas Belanda akhirnya mengakui kemerdekaan dan kedaulatan RI secara resmi dalam Peristiwa Konferensi Meja Bundar di Den Haag akhir tahun 1949, Warsito dan Kadir pun larut dalam kesibukannya semasa berdinas militer. Mereka yang awalnya hanya tentara pelajar, kini resmi bergabung menjadi prajurit tetap di Korps Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) dengan pangkat kemungkinan besar antara Letnan Dua (Letda) atau Letnan Satu (Lettu). 

Serta fakta inilah yang menyebabkan mereka tak terpikirkan untuk menyegerakan pernikahan, terutama Kadir. Berbanding terbalik dari Ahmad yang memilih menikah di usia relatif muda kala itu, bersama istrinya meski harus melewati perbedaan pandangan dengan Mbah Guru. Pasca keputusan Ahmad untuk menikahi Mei Ling, kedua bersaudara yang sudah sibuk dengan tugas kedinasan militer itu pun tak pernah lagi berjumpa dengannya. Bahkan, di mana Ahmad berada pun keduanya sama sekali tidak tahu.

Sebagai kompensasi atas terhentinya kuliah di Yogya tempo hari, Kadir lalu diamanahi kesempatan tugas belajar oleh ABRI dengan beasiswa penuh untuk kuliah di Jurusan Teknik Kimia Technische Hoogere Burgerschool atau yang sekarang karib dikenal bernama Institut Teknologi Bandung (ITB). Praktis, inilah pengalaman pertama Kadir bertandang ke Bumi Pasundan. Adapun Warsito juga memilih merantau ke Bandung guna mengambil kesempatan ketika dibuka rekrutmen untuk mengisi kekosongan personel akibat perang.

Mengisahkan perjalanan hidup kakeknya lebih dari 60 Tahun kemudian, Rayla dan Christoff kemudian mencoba membayangkan kira-kira seperti apa situasi Kampus ITB zaman dulu. 

Datang ke Kota Kembang untuk pertama kalinya sekitar tahun 1957 hingga 1958, Kadir lalu menempati sebuah rumah indekos yang terletak di Jalan Dayang Sumbi. Dekat-dekat saja dari kampus, tinggal menyeberang jalan sudah sampai. Sehari-hari, sebagai Mahasiswa Teknik Kimia—Kadir melakukan cukup banyak praktikum di laboratorium selain menyerap materi dari dosen yang waktu itu masih banyak berkebangsaan Belanda. 

“Kalau begini ceritanya, pasti mereka kuliah pakai bahasa Belanda,” gumam Rayla sambil mengetik di atas Batu Ratapan Angin, dengan selisih jarak 60 tahun berselang pasca kedatangan eyang kakung ke Bandung. 

Ngomong-ngomong soal situasi Kampus ITB di zaman Eyang Kakung, Rayla kira itu sudah pasti berbeda jauh dibanding hari ini. Menyibak lagi ingatan tentangnya, sepengetahuan dia, zaman dulu kampus ITB hanya terdiri dari dua bangunan, yakni aula barat dan aula timur yang dulu entah apa namanya, namun kini dipakai oleh Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD). 

“Dulu jumlah mahasiswa cuma sedikit, makanya wajar enggak banyak bangunan.” Christoff menggumam di sela-sela penulisan. 

Sambil menjalani perkuliahan, Kadir pun tetap tidak lupa menjalani kesibukannya sebagai prajurit TNI Angkatan Darat. Situasi yang sudah aman memacunya untuk menyelesaikan perkuliahan sebagaimana keberhasilannya di tahun 1963 meraih gelar “insinyur” atau biasa disingkat “Ir.”. Beres sekolah di sini, Kadir kemudian berdinas di Kesatuan Artileri Medan (Armed) dan Pabrik Perindustrian Angkatan Darat (Pindad), bertugas memproduksi baik peluru, senjata laras pendek dan panjang maupun kendaraan taktis (rantis) militer dalam kesehariannya. 

Dataran Tinggi Dieng, circa 60 tahun berselang. 

Menyigi foto-foto eyang kakung dengan seragam dinas militernya, Rayla dan Christoff lalu berpikir keras untuk cerita lanjutannya. Mereka bilang sendiri, ini masih akan sangat panjang lantaran … bagaimana tidak, ceritanya nanti akan sangat berkorelasi erat dengan kisah mereka sendiri. 

Rayla menghitung lagi jumlah halamannya, untuk biografi Eyang Kakung saja kini telah mencapai enam halaman. Artinya, tinggal tersisa empat halaman lagi untuk “jatah” sang kakek. Mereka coba mengingat lagi, masing-masing anggota keluarga besar akan mendapat jatah 10 halaman per satu orang sehingga total keseluruhannya otomatis menyesuaikan jumlah anggota keluarga inti. Keduanya harus berhitung-hitung lagi, lebih-lebih tugasnya masih banyak. 

Mengambil jeda sejenak, usai dari sini mereka beserta rombongannya berencana hendak mampir ke Candi Dieng. Mungkin saja kalau berganti tempat, mereka akan mendapatkan sumbangan ide baru yang lebih mengalir dengan sebegitu cair. 

Kawasan Kompleks Candi Dieng, menjelang tengah siang hari. 

Baik Christoff maupun Rayla dan lain-lain agaknya memang baru sadar bahwa matahari nyatanya memang tak terlalu lama bersinar di sini. Ini sesuai dengan pengalaman perdana mereka melawat ke sini persis satu dasawarsa lalu, dimana lazimnya matahari di sini hanya bersinar sejak pukul tujuh pagi lalu ditutupi kabut kira-kira pukul 10. Hanya kurang dari setengah hari. Mengetahui cuaca seperti ini, sebagian dari mereka terutama yang cewek-cewek—lantas menambahkan kupluk kelabu sebagai mahkota di atas geraian rambut panjang masing-masing. 

Dan Christoff, hari ini untuk pertama kalinya mendapat kesempatan melihat Crystal mengenakan penutup kepala itu. Nyaris paripurna seperti Stevie dan Tiffany, kulit wajahnya yang putih kini laksana menjadi primadona tersendiri bagi Christoff. Sambil melangkah mengitari kompleks percandian ini guna menemukan spot terbaik untuk duduk dan melanjutkan kisah Eyang Kadir, bolak-balik Christoff terus memperhatikan raut wajah Crystal setelah pertama kali memakai kupluk. 

“Manis juga, meskipun dia masih terhitung saudara sepupuku,” gumam Christoff dalam hatinya. 

Dia intensif melampiaskan pandangan itu kepada Crystal, sampai perempuan ini menyadarinya. Dia menatap balik laki-laki ini, membuatnya kaget meski ditambahkan dengan senyuman manis  di ujungnya—membuat muka Crystal bersemu merah jambu untuk ketiga kalinya sejak kenal Christoff dan Yugo. 

“Ganteng.” Tiba-tiba Crystal menggumam. 

Tak ayal, Tiffany jadi ikut memperhatikan. Diam-diam, ia merasa cemburu. Sebersit pemikiran tiba-tiba saja hinggap; kalau saja mereka tidak ada hubungan saudara, jangan-jangan Crystal langsung mengajak salah satunya jadian hari itu juga.

Crystal akhirnya mulai terpikir juga untuk menuliskan kisah kakeknya selain mendengar cerita milik Christoff dan Rayla, meski ia juga tidak tahu harus memulai dari mana—bagaimanapun juga versi cerita kakeknya yang ia ketahui mungkin jauh berbeda.

Akhirnya duduk di tangga salah satu candi, kedua bersaudara ini—Rayla dan Christoff—lalu merangkaikan lagi hasil penuturan neneknya mengenai kisah hidup sang kakek.

Nyaris lupa membubuhkannya, bahwa pada saat menjalani masa dinas militernya silam, Kadir ternyata pernah diamanahi kesempatan “tugas belajar” oleh markas besar pasukannya ke dua negara Eropa sekaligus, yakni Yugoslavia dan Italia. Waktu itu, negara tujuan pertama Eyang Kakung masih berbentuk satu kesatuan pada masa Perang Dingin. Menguliti bukti berupa foto hitam-putih lawas dari album temuannya, selain akhirnya bisa melihat rupa tulisan tangan Eyang Kakung untuk pertama kali sepanjang hidup—mereka pun baru tahu bahwa jarak kunjungannya ke dua negara itu terpaut waktu cukup jauh yakni delapan tahun circa 1956 dan 1964. Mereka pun bingung menuliskan yang mana dulu, lebih-lebih mereka tak tahu detail apa kegiatan Eyang Kakung di Italia entah itu dinas atau bahkan sekadar bertamasya belaka. Bahkan untuk kisah yang Yugoslavia, itupun tak tercantum secara pasti. Praktis membuat kedua cucunya merasa bingung, sehingga mereka terpaksa menunda penulisannya sejenak. 

“Tapi, Mas, apa betul Eyang Kakung pergi ke Yugoslavia tahun 1960-an alias ternyata terpisah dari kunjungan ke Italia?” Rayla merasa sangsi. 

“Aku enggak yakin, Ray. Menurutku, bisa jadi malahan bareng deh. Maksudnya mungkin semula ke Yugoslavia dulu, baru ke Italia.” Christoff pun merasa tidak kalah sangsinya. 

Lihat selengkapnya