Sebuah Titik Temu

Rivaldi Zakie Indrayana
Chapter #23

Chapter 22: Ingatan yang Terserak

Crystal menatap pemandangan indah di sekelilingnya. Tentu saja sambil mendengarkan juga diskusi yang sesekali terlontar soal penyusunan buku. Hanya saja, lama-lama ia jenuh. Ia akhirnya memilih untuk berdiri, dan akhirnya melangkah untuk berkeliling sendiri.

“Mau saya temani?” Sebuah suara membuat Crystal menoleh. Ternyata Yugo.

“Pemandangan di sini bagus sekali.” Yugo yang sedari tadi ternyata juga membawa kameranya mulai membidik.

“Jadi, udah dapat bahan apa saja untuk dijual?” tanya Crystal, entah serius, entah basa-basi.

“Hah?” Yugo berhenti membidikkan kameranya dan ganti menatap Crystal.

“Mas Yugo masih suka jadi kontributor, kan?” Crystal ingat kalau Yugo adalah wartawan foto yang sering menjadi kontributor untuk media.

“Saya, kan, memang sengaja mengambil liburan. Dan untuk saat ini, kayaknya prioritas utama adalah menyusun buku.” Yugo kembali membidik menggunakan kameranya.

“Allora, sai già cosa vuoi scrivere di tuo nonno?” Tiba-tiba Crystal melontarkan pertanyaan dalam bahasa asing yang Yugo tidak paham.

Yugo pun mengerutkan dahi.

“Perché?” Senyum Crystal semakin tampak misterius.

“Kamu ngomong apa?” Akhirnya keluar juga balasan Yugo dengan kening berkerut.

“Non importa.” Crystal menggeleng, masih dengan senyumnya, lalu melemparkan pandangan ke pemandangan indah di depannya. “Bukan cuma kamu yang bisa bahasa asing.” Crystal kembali melempar senyumnya. 

Sesaat, Yugo seakan terpesona. Hingga kemudian tersadar jika mereka masih ada hubungan saudara.

“Aku nggak tahu mau nulis apa soal kakekku. Aku hanya tahu sekilas tentang beliau. Mungkin, aku harus tanya Papa … kalau aku memang masih tertarik untuk ikut menyumbang tulisan,” ujar Crystal.

“Tulislah, Mbak. Apa saja yang kamu tahu. Sekaligus tulis juga soal Papamu. Bagaimanapun, Papamu adalah keturunan Mbah Guru juga,” balas Yugo. “Paling tidak, buku itu akan menjadi benang merah di antara kita. Yah … mungkin kita memang tidak akan selalu bersama-sama. Mungkin ada baiknya kita memang menjauh. Tapi, setidaknya, kita tahu ke mana harus mencari jika  suatu saat kita perlu untuk pulang.”

“Pulang?” Suara Crystal terdengar seperti terkejut.

“Kenapa, Mbak?”

“Kata-katamu barusan … persis seperti yang dulu pernah dikatakan kakekku.”

“Mbah Ahmad Husni?” Yugo memastikan.

Crystal mengangguk, dan kembali mengedarkan pandangannya ke sekeliling, menatap hamparan bentang alam nan indah. Namun, ada sesuatu di sorot matanya. Tiba-tiba saja ia mulai memikirkan satu hal itu: pulang. Bahkan, di Jakarta pun, ia sudah lama tidak “pulang” ke rumah orang tuanya.

Tidak banyak yang saya ketahui tentang kakek saya, atau saya biasa memanggilnya Mbah Husni–dari nama lengkapnya: Ahmad Husni. Mbah Husni adalah anak tunggal–sejauh yang saya tahu selama ini. Berbeda dengan istrinya, Mbah Merry, yang adalah anak tertua dari enam bersaudara–dua perempuan dan empat lak-laki. Menariknya, Mbah Merry adalah keturunan Tionghoa–nama aslinya Mei Ling. Ia adalah teman masa kecil Mbah Husni ketika bersekolah di Chinese Zending School Purbalingga. 

Kenangan akan persahabatan semenjak kanak-kanak itulah yang sepertinya membuat Mbah Husni setia, bahkan ketika ia merantau bertahun-tahun ke Yogyakarta, hatinya tetap tertambat untuk teman masa kecilnya itu. Oh, ya. Saya–sebagai penulis–baru tahu belakangan kalau Mbah Husni berasal dari Purbalingga dan merantau ke Yogyakarta. Bahkan, saya pun baru tahu kalau Mbah Merry juga berasal dari Purbalingga. Soalnya, rasanya saudara-saudara kandung Mbah Merry tidak ada satu pun yang pernah bercerita tentang Purbalingga. Seperti yang saya sampaikan sebelumnya, Mbah Merry adalah anak tertua. Kemungkinan, adik-adiknya memang keburu dibawa keluar Purbalingga sehingga tidak ada ingatan apa pun di benak mereka tentang Purbalingga.

Alih-alih, saya malah lebih ingat dengan Cilegon. Karena, Mbah Husni dulu bekerja di Cilegon. Di sebuah pabrik di mana Mbah Husni bekerja di bagian teknologi pemecah batu. Tugas Mbah Husni adalah merawat dan memperbaiki peralatan pemecah batu yang rusak. Bagi Mbah Husni, itu bukan hal yang sulit. Mungkin karena pengalamannya ketika bertugas di militer dulu, yang menurut penuturan Mbah Marto, ia sering diserahi untuk memegang artileri.

Lihat selengkapnya