Kalau aku menyukai fotografi, sebenarnya itu bukan kebetulan. Memang, sih, bagi sebagian orang mungkin aku terlihat “random”. Pernah menyukai matematika, lalu beralih ke sejarah, dan kemudian malah memilih fotografi dan jurnalistik. Namun, aku tidak se-random itu. Ingat, kan, kalau Daddy—ayahku—adalah fotografer? Tapi, ayahku pun juga “random” —kalau kau tidak mengenalnya, kau pasti akan menganggapnya begitu. Bagaimana tidak? Daddy dulu mengambil kuliah di jurusan teknik geologi. Dan setelah lulus, ia malah memilih menggeluti fotografi. Namun, kalau kau ingin “menggugat” ke-”random”-an Daddy, salahkanlah Opa Willy!
Dulu, Daddy mengambil penelitian di Balikpapan untuk skripsinya. Topiknya terkait pertambangan yang dilakukan oleh perusahaan minyak asing. Entah karena tidak mendapatkan akses atau bagaimana, Daddy menghentikan penelitiannya meski sudah berjalan selama 1,5 bulan. Kata dosen pembimbingnya, persyaratan untuk pengolahan datanya kurang terpenuhi. Ya … mau bagaimana lagi?
Daddy pun akhirnya pindah lokasi ke Tasikmalaya, tentu saja dengan topik yang berbeda. Kali ini, Daddy mengambil topik tentang pertambangan mangan. Lokasi persisnya di adalah di Karangnunggal. Dan sebagai mahasiswa teknik geologi, ia tentu membutuhkan alat untuk mendokumentasikan hasil-hasil observasinya. Biasanya, Daddy meminjam kamera dari jurusan yang memang menyediakan fasilitas untuk mahasiswa. Sayangnya, pada saat itu kamera sedang dipinjam oleh mahasiswa yang lain. Padahal, Daddy harus mengejar waktunya yang sempat terbuang sebelumnya.
Nah, Opa Willy kemudian membelikan Daddy sebuah kamera. Mereknya … aku lupa, sih. Yang aku ingat hanya tas pembungkusnya yang terbuat dari kulit. Kamera itu sendiri semakin lama semakin jarang digunakan. Namun, Daddy tetap menyimpannya karena menurutnya itu adalah kenang-kenangan yang sangat berharga dari Opa Willy.
Oh, ya. Daddy sendiri lulus sebagai sarjana teknik geologi. Ia lalu melanjutkan kariernya di perusahaan minyak multinasional. Namun, ia juga tidak meninggalkan hobi fotografinya. Apalagi, ia sering dinas ke lapangan. Ditambah … sepertinya Daddy itu memang tipikal “ngasal”; maunya serba bebas dan ogah terikat—kalau dipikir-pikir agak mirip denganku, sih.
Sepertinya, Daddy makin lama makin kurang betah dengan ritme pekerjaan ala perusahaan. Akhirnya, ia pun mengundurkan diri. Namun, setelahnya Daddy malah memilih untuk bekerja di semacam lembaga penelitian. Berada di bawah naungan sebuah kampus, sih. Dengan kerja fleksibel; di mana ia bisa berhari-hari, bahkan berminggu-minggu full di luar. Akan tetapi, jika sedang tidak ada proyek, ia bebas. Walau begitu, Daddy harus melanjutkan kuliah dulu minimal ke jenjang S2. Itulah sebabnya aku—dan Kak Cynthia—sempat tinggal di Belanda. Tentu saja dalam rangka “menemani” Daddy yang waktu itu mengambil studinya di ITC Enschede.
Nah, ketika pekerjaan Daddy mulai fleksibel, ia pun mulai menggunakan waktu luangnya untuk menggeluti fotografi dengan lebih serius. Awalnya, ia hanya memotret untuk koleksi pribadi. Lalu, Opa Willy yang beberapa kali sempat melihat hasil jepretan Daddy mulai memuji, menurutnya foto-foto tersebut sayang jika hanya disimpan untuk pribadi. Maka, Daddy pun mulai mengirimkan foto-foto itu, mulai ke majalah, hingga website. Dan akhirnya, Daddy mulai menekuni hobinya secara profesional. Ia, misalnya, membuka studio foto. Tak jarang dia di-hire sebagai freelance. Lama-lama, aku merasa kalau Daddy lebih serius sebagai fotografer ketimbang geolog, meski sesekali ia pun menulis artikel ilmiah tentang geologi.
Aku menemukan kamera itu ketika aku masih anak-anak. Kalau tidak salah ketika aku di Belanda. Entah kenapa barang itu tetap dibawa meski rasanya saat itu sudah ada kamera digital. Jadi, suatu hari aku menawarkan untuk memotret Daddy yang tengah duduk berdua dengan Mommy dengan menggunakan kamera itu. Setelah membeli roll filmnya, tentu saja. Lalu, karena hasil dari kamera analog tidak bisa langsung dilihat, aku jadi tidak tahu seperti apa hasilnya.
Beberapa waktu setelahnya, ketika roll film habis dan foto dicetak, baru ketahuan: ternyata aku hanya memotret bagian kepalanya saja! Gara-gara kejadian itu, Kak Cynthia menertawakanku habis-habisan. Namun, aku justru bertekad untuk semakin mempelajari fotografi. Tekadku waktu itu, aku pasti akan membuktikan kemampuan memotretku. Kamera itu sendiri akhirnya lebih sering bersamaku ketimbang Daddy. Tentu saja, dengan kondisi tanpa film di dalamnya. Karena, lama-lama memang lebih praktis menggunakan kamera digital, sih.