Kawah Sikidang, 2025.
“Excuse me, could you please help me take a picture?”
“Who? Only yourself?”
“No, I mean the entire group of us. Here in the front of the main crater.”
“Okay, here we go everybody.”
Rayla mengalihkan perhatiannya sejenak kepada suara orang asing tak jauh darinya persis usai dia merampungkan akhir dari kebersamaan Mbah Guru dan keluarganya. Dia menengok ke sebelah kanan, serombongan turis asing—lagi-lagi orang bule entah dari negara mana namun pastinya mereka berbicara Bahasa Inggris, kini tengah asyik berfoto ria di depan salah satu kawah dengan bantuan Christoff.
Yugo—melihat tingginya antusiasme para turis asing mengabadikan perjalanannya tersebut lantas menawarkan bala bantuan. Dia kini bekerja sama dengan Christoff menjadi fotografer amatiran namun gratis—menjadikannya unik di mata Rayla. Bule memotret orang bule. Sampai-sampai dia merasa geli sendiri membayangkannya lantaran ini terjadi di Indonesia, bukan di luar negeri. Rombongan turis asing itu selesai mengambil foto, kamera diserahkan lagi kepada mereka, selanjutnya mereka lalu mengajak Yugo dan Christoff mengobrol.
“Wait a second. One question, are you a foreigners too?” Pertanyaan sederhana namun terasa begitu berat dijawab.
“Actually we are Indonesian but we have a face like the mixed with European.” Yugo mewakili Christoff supaya orang-orang bule itu tidak bingung mendengarkan asal-usul wajah Christoff.
“From which country are you coming?”
“Netherlands … my grandmother was from Netherland.” Lagi-lagi Yugo yang melempar jawaban.
Para bule itu memaklumi, usai menghaturkan ucapan terima kasih—mereka pun pergi ke tujuan selanjutnya. Meninggalkan Rombongan Mbraling Muda, kembali duduk di salah satu warung di sini—Christoff lalu menanyai Rayla soal progres tulisannya sudah sampai mana.
“A—aku baru selesai menulis adegan yang waktu Mbah Guru meninggal itu, Mas. Itu pun waktu aku ingat ternyata terlewat setelah menuliskan tentang kelahiran Ibu, Om Djoni, Tante Tri & Tante Asti.” Rayla memaparkan apa adanya saja.
“Setelahnya?” Christoff menagih seolah-olah tidak sabar.
“Belum, Mas. Lagian aku, kok, bingung menulisnya kira-kira harus gimana ya?”
“Oh … itu. Palingan kisah masa kecil Ibu dan para tante saja, deh. Terus lanjut masa remaja sampai dewasa mudanya. Maksudku di antaranya waktu Ibu seumuran kita ‘gini, pergi kuliah S2 ke Inggris terus menikah sama Bapak.”
Sesuatu seperti ada yang tertancap sekejap di hati Rayla. Mendengar titah kakaknya seperti ini, dia sekonyong-konyong merasa galau dan sedih karena harus mengisahkan sosok sang ayah di sini ketika beliau perlahan memasuki ruang hati ibunya puluhan silam. Yang sekaligus berarti, setelahnya kisah dia dan Christoff sebagai anak-anaknya juga akan mengambil bagian.
Ruas-ruas jemarinya mengapung di atas keyboard, sejumput kemudian dia memilih menutupnya rapat-rapat. Alat itu lalu dibenamkannya ke tas ransel, bertukar dengan raut mendung di Kawah Sikidang siang hari ini. Gelombang air mata tak bisa dibendungnya sekuat tenaga, isyarat entah antara tidak sanggup melanjutkan lagi atau kini harus bergantian dengan kakaknya untuk menulis.
“Lho, kamu kenapa, Ray?” Christoff dibuat bingung menyaksikannya.
“Mas, kayaknya mending setelah ini Mas saja deh yang menulis. Soalnya Mas, tuh, belum pernah menuliskan kisah kita sejak awal ditugasi Bude Astri ‘toh? Sudah, deh. Sana, Mas, lanjutkan … terserah mau hari ini atau nanti lagi saja sekalian.”
Christoff tahu kini adiknya sedang kalut. Pasti teringat Bapak lagi, dan dia tidak sanggup melanjutkan kisah mengenai keluarganya sendiri. Malas bersilat lidah di tengah asyiknya situasi liburan seperti ini, ia lalu membuka komputer tabletnya sendiri. Dia baca lagi semua untaian tulisan adiknya secara utuh, dan tidak lama berselang otaknya langsung terasa encer berkat dialiri sengatan ide berlebih. Memastikan adiknya nyaman bersama Stevie, Tiffany bahkan Crystal—Christoff lalu melanjutkan kisah keluarganya sebagai turunan dari Eyang Kakung Abdul Kadir.
Bicara mengenai sosok kedua orang tua mereka, kedua bersaudara ini tampaknya memang layak menilai mereka sebagai sosok the most success and the have, sebab sejak kecil dulu mereka tak pernah absen mendapatkan pendidikan yang layak. Coba bayangkan saja, Inggrid—anak pertama Kadir yang notabene juga ibu kandung Rayla dan Christoff, berturut-turut selalu mengenyam bangku pendidikan di sekolah dasar, menengah pertama dan atas negeri ngetop di Kota Bandung. Demikian pula kedua adiknya, ditambah lagi tinggal di Jalan Tulip yang notabene merupakan kawasan elit dan kompleks militer pula. Mereka mengenal ibunya sebagai sosok yang mumpuni secara akademik dan prestasi kepanduan atau Praja Muda Karana (Pramuka) semasa sekolah. Meski beliau juga tidak pernah ketinggalan dalam bermain di sekitar rumah bersama teman-temannya baik sesama anak kolong maupun bukan.
Di kemudian hari, prestasi akademik itulah yang kemudian mengantarkannya menjadi Pemenang Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru atau Sipemaru jalur Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK) untuk meraih bangku perkuliahan di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran (Fikom Unpad) Angkatan 1986. Di sini, ia memilih masuk jurusan Ilmu Hubungan Masyarakat (Humas) yang memungkinkannya berkarier di bidang ini untuk masa mendatang meski pada akhirnya, justru akademiklah yang menjadi jalan hidupnya. Dia pernah meniti karier sebagai peneliti di sebuah lembaga konsultan riset kecil dengan jaringan luas berskala global di Bandung selama tiga tahun sebelum kemudian menggondol Beasiswa S2 Chevening Awards ke Inggris pada pertengahan dekade 1990-an silam. Meraih gelar master hanya dalam waktu satu tahun, jenjang kariernya lalu menanjak lebih tinggi kali ini dengan menjadi dosen di Universitas Katolik Parahyangan yang kelak menjadi tempat kuliah Rayla, Christoff dan Stevie. Serta di sinilah, pertemuan pertama—awal mula hubungannya dengan sang suami terjadi.
…
“Capt. Moelyanto Nugroho,”
Nama itu tertulis lekat-lekat baik itu di atas lembaran surat maupun kartu pos yang akhir-akhir ini acap kali menyembul di kotak surat rumah Jalan Tulip. Sudah terhitung beberapa bulan lamanya sejak dia pertama kali mengenal Inggrid pada pertemuan pertama yang terjadi secara tidak sengaja di kereta api dari Bandung menuju Jakarta pada pertengahan tahun 1997 silam, saat mereka akan mendatangi tujuannya masing-masing di ibukota.
Yanto—demikian sang kapten akrab disapa, saat itu akan ke Bandara Soekarno-Hatta untuk menjalankan tugas penerbangan menuju Zurich, Swiss sedangkan Inggrid akan ke Kantor Friedrich Albernauer Stiftung, sebuah lembaga penelitian swadaya masyarakat internasional asal Jerman dengan salah satu kantor cabangnya di Jakarta. Mula-mula hanya mengobrol akrab sepanjang perjalanan di kereta api, hubungan itu ternyata berlanjut ‘secara lebih serius lagi’ sampai berbulan-bulan setelahnya, terlebih setelah saling mengetahui banyak kesamaan background sebagai anak tentara yang juga tinggal di Bandung. Mereka pun akan saling mengunjungi rumah orang tua masing-masing wabil khusus jika Yanto sedang libur tugas penerbangan. Sambil tidak lupa mereka tetap menyempatkan jalan-jalan, dan sebagai pasangan sejoli muda kala itu—keduanya tak lagi merasa canggung memperkenalkan diri kepada kerabat masing-masing.
“Minggu depan aku dapat tugas terbang ke Hong Kong juga Jepang, mau oleh-oleh apa?” Kebiasaan baru Yanto untuk lebih mendekatkan diri dengan keluarga besar pasangannya menjelang pernikahan ini. Tak banyak mengharap pemberian, melihat posisi ekonomi masing-masing yang sudah mapan, Yanto dan Inggrid yakin bisa segera meresmikan hubungan mereka sebagai pasangan suami istri melalui pernikahan yang sah dalam waktu dekat.
Hanya saja, mereka tampaknya menjalin hubungan di saat yang salah.
Memasuki awal tahun 1998, krisis moneter yang mulanya tampak sangat jauh di Thailand kini justru ikut menerjang pasar ekonomi tanah air. Merangkak naiknya kurs atau nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat diikuti progres serupa pada harga-harga barang pokok, membuat situasi semakin kacau. Juga merembet tajam ke krisis politik seiring merebaknya tuntutan supaya Presiden Soeharto segera meletakkan jabatannya. Di tengah huru-hara politik dan ekonomi ini, Yanto yang ketika itu tengah berada di Jakarta merasa khawatir dalam hubungan jarak jauhnya bersama Inggrid di Bandung. Begitu juga sebaliknya, apalagi dalam situasi begini, Yanto tetap harus stand by di Jakarta. Bukannya menurun, frekuensi penerbangan dari Bandara Soekarno-Hatta kini malah justru meningkat karena semakin hari, di sini semakin banyak orang baik asing maupun lokal yang memilih kabur keluar kota bahkan luar negeri semata demi keselamatan dan keamanan mereka sendiri.
Sampai tiba suatu ketika di Bulan Mei 1998.
“Mas Yanto, minggu depan pertengahan bulan ini, aku mau terbang ke Jerman dalam rangka menghadiri undangan konferensi di sana dua minggu. Mas tolong antarkan ke Bandara ya, sebelumnya sekalian ke Kantor FAS di Jakarta Selatan dulu karena harus mengambil tiket pesawatnya di sana,” papar Inggrid di telepon rumah kos Yanto.
“Oke. Ke Jerman naik maskapai apa?” Yanto membalas penuh sahutan.
“Lufthansa, Mas. Pesawatnya berangkat malam, katanya kantor Jam 21.00 WIB. Tapi mendingan kita berangkat lebih awal saja. Aku rencananya pagi-pagi mau naik kereta api dari Bandung. Kita ketemu di Stasiun Gambir dulu.” Inggrid tak membiarkan calon suaminya bertanya lebih banyak lagi di tengah situasi genting begini.
Telepon ditutup, sampai tiba Hari H yang dijanjikan—Yanto rupanya baru ingat kalau di hari itu juga, dia harus bertugas terbang lagi ke Singapura, Sydney (Australia), Jeddah (Arab Saudi) dan Paris (Perancis). Sadar tidak sempat lagi bilang kepada calon istrinya tersebut, maka pada hari itu—Yanto datang mengantar jemput Inggrid pakai baju seragam pilotnya utuh. Dia berdiri di ujung pintu kedatangan Stasiun Gambir, mengiyakan saja kala ditanyai alasannya mematut seragam dinas demikian.
Melanjutkan perjalanan naik taksi dulu ke Kantor FAS di Jakarta Selatan, lalu disambung Bus Bandara ke Cengkareng—Yanto dan Inggrid hari ini pergi menembus pekatnya aroma chaos di Jakarta. Meski tidak bertemu massa demonstran yang notabene kebanyakan adalah mahasiswa lintas kampus, mereka tetap dapat melihat asap dan serakan puing-puing bekas penjarahan di banyak titik. Laju bus pun dipercepat supir karena tahu marabahaya bisa datang kapan saja dalam hitungan detik.
Bandara Soekarno-Hatta, lewat tengah siang.
Keadaan di terminal keberangkatan pun tidak kalah chaos-nya. Ribuan penumpang bersesakan menjejali tiap jengkal sudut ruangan di bandara ini untuk menunggu keberangkatan ke berbagai tujuan baik dalam maupun luar negeri. Memiliki masih banyak waktu jelang briefing persiapan penerbangan menuju Singapura senjakala ini, Yanto pun memilih menunggui Inggrid di terminal dulu. Konon menurut petugas, loket check-in untuk maskapai penerbangan Lufthansa tujuan Kota Frankfurt, Jerman, melalui satu kali perhentian di Kuala Lumpur, Malaysia, baru akan dibuka pukul empat sore nanti. Sedangkan Yanto, rencananya akan lepas landas ke Singapura pukul lima sore ini.
“Ya sudah, toh, sebentar lagi check-in. Apa boleh aku tinggal sekarang? Soalnya aku juga harus bersiap terbang ke Singapura,” ujar Yanto sebelum berpisah.
“Boleh, Mas. Hati-hati di jalan, ya. Sampai ketemu nanti.” Inggrid memperbolehkan perpisahan itu karena paham betul dengan kesibukan pekerjaan sang calon suami.
Yanto angkat koper, tahu-tahu saat masih di sini, dia dan Inggrid berpapasan dengan sebuah keluarga kecil dari arah berlawanan. Koper hitam berukuran sedangnya tak sengaja menyenggol boneka milik anak perempuan balita dari keluarga itu sampai terjatuh.
“Om Pilot … ambilkan bonekaku, dong,” pinta anak kecil berambut panjang itu kepada dia.
Mengetahui bahwa sebuah kejadian kecil baru saja berlangsung, Kapten Yanto pun lantas berbalik badan. Dia mengambil posisi jongkok lalu berlutut tepat di hadapan anak lima tahun itu.
“Oh, maafkan Om Pilot, ya, Dik. Om barusan enggak sengaja menjatuhkan bonekanya, nih … disimpan terus jaga baik-baik termasuk ketika di pesawat nanti. Kamu mau terbang kemana?” Kapten Yanto malah meladeni anak kecil lucu nan imut ini, karena suka melihatnya sejak punya keponakan belasan tahun silam.
“Mau ke Hong Kong diajak Papa-Mama, soalnya orang di sini pada teriak-teriak di jalan terus. Om ke mana?”
“Ke … banyak kota. Intinya tetap terbang kayak kamu juga, pokoknya hati-hati … turuti Papa-Mama, ya? Oke?” Mereka lalu ber-tos tangan.
Kembali berdiri, kini di depan orang tua anak itu—Kapten Yanto memastikan lagi apakah tujuan penerbangan mereka hari ini sudah benar apa belum.
“Masuknya lewat mana ya, Pak Pilot?” Ayah dari anak itu, berparas oriental melempar pertanyaan balik usai mengonfirmasi kebenaran tujuannya.
“Tinggal lurus ke sana saja, Pak. Terus cari loket check-in sesuai maskapai masing-masing.”
Berlalu selepas mengucapkan terima kasih, pikiran Kapten Yanto tiba-tiba melayang jauh kepada sosok pria oriental barusan dan mengaitkannya dengan apa yang terjadi di Indonesia sepanjang awal tahun 1998 ini. Begitu ekonomi sudah chaos, banyak toko maupun pusat nadi cuan lainnya menjadi sasaran empuk penjarahan oleh massa. Dan sebagian di antaranya adalah milik para orang oriental seperti pria barusan. Mungkin saja, karena brutalnya aksi ini yang sampai berujung tindakan rasisme etnis—mereka memilih kabur. Mengungsi sejauh mungkin yang mereka bisa tempuh. Namun satu hal yang cukup mengganjal isi kepala Kapten Yanto hari itu adalah wanita di sebelah pria tersebut. Dia tampil dengan wajah Jawa tulen seperti dia dan segenap anggota keluarga besar lainnya, namun dapat dipastikan menikah dengan seorang pria oriental sehingga praktis wajah anaknya jadi bernuansa campuran seperti itu.
Semakin jauh pergi meninggalkan mereka, tepat pukul lima sore itu Kapten Yanto membawa pesawatnya tinggal landas menuju Bandara Changi Singapura. Sedangkan Inggrid, tepat pukul delapan malam sukses melenggang-langlang buana menuju Frankfurt, Jerman.
…