Crystal tampak asyik menggulir layar ponselnya. Ia iseng ingin membaca tulisan-tulisan yang sudah masuk—yang ditulis Rayla dan Christoff, mungkin Yugo juga. Konsentrasinya terpecah ketika seseorang tiba-tiba duduk di sampingnya—si pemuda berparas mirip bule dengan warna rambut cokelat kopi alias Christoff.
“Kamu pintar menulis, ya?” puji Crystal.
Paras Christoff bersemu merah tatkala mendengar kata-kata wanita cantik dengan usia jauh lebih tua darinya itu.
“Kamu menulis cukup banyak tentang orang tuamu. Salut saya.” Crystal kembali memuji. “Soalnya, saya pribadi tidak terlalu tahu bagaimana kehidupan orang tua saya dulu.
“Saya juga, Mbak.” Tiba-tiba Yugo ikut duduk di sisi satunya lagi. Jika dilihat dari depan, Crystal jadi tampak seperti diapit dua pria bule berparas rupawan. “Hanya saja, tak ada salahnya kita mencari tahu. Bagaimana pun, kita tidak boleh melupakan dari mana kita berasal.”
Crystal tidak menjawab.
“Tahu, nggak? Dulu, ketika pemerintahan Indonesia beralih ke Orde Baru di bawah pimpinan Soeharto, salah satu langkah yang dilakukan adalah dengan memerintahkan Nugroho Noto Susanto untuk menuliskan ulang sejarah Indonesia. Ada enam jilid buku sejarah yang kemudian menjadi rujukan termasuk untuk pelajaran sejarah di sekolah-sekolah. Hasilnya….” Yugo berhenti sebentar dan mengendikkan bahu, “... ada beberapa hal yang berubah atau hilang. Misalnya, perjuangan bangsa Indonesia lebih ditekankan pada perjuangan bersenjata, padahal ada juga perjuangan diplomasi. Lalu, citra negatif Gerwani padahal sebelumnya Gerwani adalah pergerakan perempuan paling progresif.”
Yugo kembali berhenti sebentar ketika kedua saudaranya itu tampak menatapnya seakan meminta penjelasan lebih.
“Aku, kan, memang suka baca buku sejarah. Opa Willy mendukungku, tapi ia juga mewanti-wanti untuk tidak percaya sepenuhnya karena pasti ada bias. Sejarah ditulis pemenang….”
“Sama seperti sekarang, kan?” Crystal memotong Yugo.
Yugo menaikkan alisnya.
“Pemerintahan sekarang juga sedang mengerjakan proyek penulisan ulang sejarah Indonesia,” lanjut Crystal. “Tapi sejarah yang bagaimana?” Senyum Crystal mendadak sinis. “Bahkan peristiwa pemerkosaan massal yang terjadi pada kerusuhan Mei 1998 saja mau disangkal.”
“Karena sejarah ditulis pemenang, Mbak.” Yugo mengulangi ucapannya. “Tapi, kepikiran, nggak? Dengan kita menulis ‘sejarah’ keluarga kita, sebenarnya secara tidak langsung kita sedang ‘melawan’ para pemenang itu. Kita, yang bukan siapa-siapa, menulis sejarah kita, kisah kita, menurut versi kita sendiri. Kita menolak untuk didikte. Dan itu adalah cara kita melawan narasi tunggal sejarah.”
Crystal terdiam sesaat sebelum kembali menggulir gawai di tangannya. Pikirannya sontak teralihkan ketika ia mulai membaca cepat hasil tulisan Rayla dan Christoff.
“Bisa gitu, ya, gara-gara ibumu ngidam, terus tampangmu jadi mirip bule gitu?” Crystal terkikik pelan sembari melirik adik sepupu yang baru beberapa hari dikenalnya itu.
“Ya….” Christoff tampak tersipu sambil menggaruk kepalanya, lalu matanya melirik-lirik ke sekitar, dan tampaklah Rayla yang tengah bersama dengan kedua sahabatnya sejak SMA itu. Sekilas raut Christoff tampak bimbang ketika sorot matanya berhenti pada Tiffany. Karena, di sampingnya pun saat ini juga ada sosok perempuan cantik yang mengusik hatinya semenjak ia tiba di tanah mbraling ini.