Sebuah Titik Temu

Rivaldi Zakie Indrayana
Chapter #27

Chapter 26: G'Day Australia

Baik Presiden Clinton maupun Wapres Gore telah setuju, legawa untuk memberikan kursinya kepada Bush dan Cheney—berbarengan di awal era millenium ini, Bapak dan Ibu semakin mantap mempersiapkan keberangkatannya menuju Australia. Turut serta memboyong kedua buah hatinya, pada awal Januari 2001 ini—meninggalkan rumah beserta segenap isinya dengan dititipkan kepada Eyang Sutirah dan Tante Laksmi, mereka pun diantar oleh keluarga besarnya tersebut menuju Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten. Surat permohonan mutasi penugasan Bapak pun sudah ditandatangani oleh bosnya di kantor, praktis dia kini tinggal angkat koper saja menuju Negeri Kangguru. 

 Pagi itu, sesuai janji—rombongan Tante Laksmi dan keluarga besar Bapak datang terlebih dahulu ke rumah Jalan Buah Batu, begitupun supir mobil rental yang hari ini sudah dipesan jasanya. Melihat rupa-rupa seperti ini, tentu saja rencananya mereka akan pergi dengan mengusung formasi konvoi. Bapak sekeluarga, bersama Eyang Tirah, Tante Tri dan Tante Asti naik mobil rental, sedangkan sisanya naik dua mobil milik sendiri, mengikuti di belakang. Memastikan kini tiada lagi satupun yang tertinggal, rombongan mereka pun cabut, tancap gas dari rumah Jalan Buah Batu Bandung. 

Di awal dekade 2000-an ini, karena belum ada Jalan Tol Cipularang—maka pilihan rute paling tepat untuk perjalanan Bandung-Jakarta tentu saja adalah lewat Kawasan Puncak selain Kota Purwakarta. Membelah rute nan maha menggoda ini, diam-diam di belakang, rombongan Tante Laksmi memisahkan diri. Opa Darto pun lantas gelisah sendiri begitu menyadarinya. Tanpa tedeng aling-aling, dia pun menyuruh supir menepi sejenak ke pekarangan milik sebuah restoran Padang yang terdapat sebuah gundukan kecil di sana. Berdiri menapakinya, selama kurang-lebih setengah jam—layaknya seorang polisi lalu-lintas, bolak-balik Opa Darto mendelik kepada setiap kendaraan yang lewat. 

“Ini sudah jam setengah 12 tapi kita belum masuk Jakarta, lho, bahkan tol saja belum,” keluhnya sambil menatap arloji bolak-balik di depan mobil. 

Semua orang di dalam mobil pun dibuat khawatir.

“Pesawatnya terbang jam berapa, Pak-Bu?” Supir rental hendak memastikan waktu keberangkatan mereka. 

“Jam 9 malam, Pak, tapi kita sudah harus stand by di bandara paling enggak dari sore.” Ibu menyatakan gamblang. Suasana hati Opa Darto pun semakin tidak karuan, seperti hendak melepaskan sesuatu. Menunggu hingga lebih dari 30 menit yang rasanya lama betul, rombongan Tante Laksmi akhirnya muncul jua. Mereka mengaku habis mampir ke Kebun Teh untuk sekedar berfoto-foto, namun lupa mengajak Yanto sekeluarga ikut serta, usai itu perjalanan pun kembali berlanjut ke Cengkareng. Mereka tiba di sana begitu hari sudah menjelang sore. 

Langsung merapat ke loket check-in untuk maskapai penerbangan Qantas tujuan Sydney, Ibu nyatanya tak langsung diloloskan begitu saja ke meja pemeriksaan imigrasi. Menimbang koper lagi di sini, petugas mendapati beratnya melebihi ambang batas maksimal alias kelebihan kapasitas beban. Overloaded. Praktis harus menyingkir sejenak demi mempercepat laju antrian calon penumpang yang didominasi orang bule asli Negeri Kangguru, selanjutnya Ibu menyuruh Bapak mengembalikan sebagian barang bawaan kepada Eyang Tirah di luar sana. Dia harus bolak-balik mengangkutnya, sekalian bilang nanti akan keluar lagi karena panggilan boarding jelas berbeda dari check-in. Drama seputar timbangan barang akhirnya selesai, keluarga ini lalu kembali berkumpul dengan sanak saudaranya di anjungan terminal bandara. Di sinilah, sembunyi-bunyi Eyang Tirah merasakan beratnya perpisahan dengan anak, menantu dan para cucunya. Dia pun menatapnya lekat-lekat dan meminta izin menggendong mereka erat-erat satu per satu, karena setelah ini tentu semuanya akan berpisah selama empat tahun sesuai durasi masa studi Inggrid di Negeri Kangguru, paling tidak hingga 2005 mendatang. 

“Bapak, tas yang isinya perlengkapan Rayla dan Christoff kita bawa masuk kabin, tho?” Ibu mengkonfirmasi apakah barang bawaan mereka komplit atau tidak.

“Nih, ada di dekat Bapak semua. Nanti kita bagi-bagi tugas membawanya, ya. Christoff sama Bapak, Rayla sama Ibu saja.” Deal. Sebuah mekanisme pembagian tugas disepakati kurang dari tiga jam menjelang keberangkatan. 

Pukul 20.00 WIB, pengumuman boarding bagi seluruh Penumpang Qantas tujuan Sydney bergema melalui pengeras suara. Yanto dan Inggrid, segera membopong buah hatinya kembali ke gendongan mereka menuju pesawat. Tidak lupa berpamitan dengan sanak saudara mereka pula. Melangkah pasti ke garbarata, keluarga besar mereka kini tinggal mampu menatapnya lekat-lekat dari balik kaca jendela raksasa, ditambah lambaian tangan bersama gendongan untuk Baby Rayla dan Christoff serta gembolan tas bermuatan segenap perlengkapan mereka untuk di penerbangan nanti. Pemandangan seperti itu terus berlangsung hingga mereka menghilang bagai sekelompok titik yang terus menjauh dan saling terpisah dengan kelompok lainnya. 

Lihat selengkapnya