Awalnya, Opa Darto mengaku akan berpisah dengan Yanto dan keluarganya pada awal tahun 2002 ini usai mereka tiba kembali dari Australia lalu menetap di rumah Jalan Daun Salam, Bandung, setidaknya untuk satu tahun ke depan. Kepada mereka, pria lansia 72 tahun ini mengaku akan segera pindah ke Magelang mengikuti Yatni—anak sulungnya sepeninggal sang istri beberapa tahun silam. Seolah-olah Bandung kini tiada lagi artinya bagi beliau. Yanto setuju-setuju saja atas rencana kepindahan sang ayah tersebut, namun urung jua terlaksana, dia menerima kabar mengejutkan dari ayahnya.
Siang hari itu, Opa Darto yang masih bisa berjalan sendiri—tanpa sepengetahuan anak-anaknya pergi berbelanja sendiri ke Supermarket Yogya di Jalan Sunda. Entah apa yang dicari di sana, namun saat hendak pulang kembali ke rumah Yanto, beliau seketika jatuh. Lututnya tertekuk begitu saja ke trotoar, dan para pejalan kaki maupun pengguna jalan yang melihat langsung tergopoh-gopoh menolongnya. Menyebutkan alamat rumah putranya sebagai yang paling dekat, Inggrid yang kala itu tengah berada di sana menemani Christoff dan Rayla lantas dibuat kaget.
“Kenapa opa pakai diantar banyak orang segala dan enggak kenal pula?” batinnya dalam hati.
“Ini rumahnya Pak Yanto, Bu? Ibu siapanya?” tutur salah seorang pemotor di depan.
“Saya istrinya. Ini Pak Darto kenapa?” Inggrid heran namun sekaligus panik.
“Jatuh di trotoar depan Yogya Sunda bu, pergi sendiri terus minta tolong diantar ke sini oleh kami.”
Tidak banyak cincong, selain memperbolehkan Opa Darto dibopong hingga kamar depan, Inggrid lalu sibuk menelepon suami dan ibunya supaya cepat ke sini—maksudnya untuk dapat saling bergantian menjaga Christoff dan Rayla. Tidak lupa kakak-kakak dan adik iparnya disuruh kemari jua. Melihat kondisi Opa Darto seperti demikian, mereka lalu sepakat membawanya ke dokter di rumah sakit. Dan ternyata, hasilnya dokter memvonisnya terserang gejala stroke ringan.
“Meskipun masih bisa berjalan, harus lebih banyak istirahat,” tandas dokter di kliniknya hari ini.
Melihat situasi seperti ini, Yanto dan para saudara kandung serta iparnya lantas berembuk. Siapakah di antara mereka yang akan merawat Opa Darto sekarang.