Sebuah Titik Temu

Rivaldi Zakie Indrayana
Chapter #29

Bab 28: Menyusun Kepingan

Keempat Mbraling muda, plus Stevie dan Tiffany, malam ini tampak memenuhi ruang makan penginapan. Lelah sehabis seharian berada di Dieng tak menghalangi untuk langsung tancap gas menyigi tulisan-tulisan yang sudah masuk. Beberapa tulisan di-share melalui drive khusus untuk menampung draf-draf yang sudah jadi. Kali ini tampaknya disepakati kalau pengerjaan akan menggunakan Google Drive yang lebih banyak digunakan, apalagi mengingat mereka umumnya menggunakan perangkat Android.

Beberapa naskah yang sudah masuk, yaitu tulisan tentang Mbah Guru dan Mbah Ngatinah, lalu Mbah Muhammad, Mbah Ahmad, dan Mbah Abdul Kadir. Juga keluarga Rayla dan Christoff. Crystal menatap Rayla yang wajahnya masih tampak sendu. Ia pun maklum. Bukan hal yang mudah untuk menerima kehilangan sosok Bapak yang sangat dicintai. Crystal pun mendadak teringat kepada kedua orang tuanya. Ia pun ikut termenung; bukankah harusnya ia bersyukur karena kedua orang tuanya masih lengkap? Ia kembali teringat pada pesan yang dikirim Ramdan tadi siang. Kalau kantor mereka jadi pindah ke kawasan Bintaro, mungkin Crystal bisa pindah lagi saja ke rumah orang tuanya. Atau setidaknya mencoba untuk mengontrak rumah tak jauh dari sana. Pun kalau masih di apartemen, ia mulai berpikir untuk lebih sering lagi mengunjungi keduanya.

“Ray,” panggil Crystal.

Rayla yang sedari tadi seperti melamun tersentak.

“Kira-kira kapan kita bisa kumpulkan semua naskah yang masuk?”

“Wah, itu harus bilang ke Bude Astri dulu kayaknya. Karena beliau adalah inisiator sekaligus ketua panitia penyusunan buku ini,” imbuh Rayla.

“Sudah dapat penerbit?” tanya Crystal.

Rayla hanya bisa mengendikkan bahu. “Mungkin belum. Karena rencananya, draf naskah mau disunting mandiri terlebih dahulu. Yang menyunting nanti Bude Astri sama Pakde Irfan.”

Crystal tidak menanggapi lagi, tetapi tangannya merogoh sesuatu dari dalam dompetnya dan menyerahkannya kepada Rayla. “Kalau nanti naskahnya sudah fixed, bisa nanti hubungi saya saja. Saya tahu jalur ke penerbit. Bahkan, kalau mau dijual ke umum atau diurus ISBN-nya, saya bisa membantu.” Crystal tersenyum sembari menyodorkan kartu namanya.

“Sekalian … saya mungkin mau pamit juga,” lanjutnya.

Kelima anak muda lainnya pun sontak menoleh.

“Saya sudah terlalu lama di sini. Ada pekerjaan yang harus saya lanjutkan juga. Nanti kita bisa ketemu lewat video call. Atau kalau perlu saya bisa ke Bandung,” ujar Crystal.

“Kalau di Jakarta-nya di daerah mana, Mbak? Mungkin saya nanti sempatkan untuk mampir.” Yugo angkat bicara.

“Boleh.” Crystal kembali tersenyum. “Kalau mau ke kantor juga bisa. Mungkin kami juga butuh bantuan untuk dokumentasi … kalau Mas bersedia bergabung, sih.”

“Oh….” Yugo tampak tersipu. “Itu nanti saya pikirkan saja, Mbak.”

Malam itu tampaknya menjadi malam terakhir mereka bersama. Karena, keesokan harinya, Crystal sudah kembali meluncur ke Jakarta. Setelah mereka kembali bersama di meja sarapan tentunya.

Lihat selengkapnya