Sebuah Titik Temu

Rivaldi Zakie Indrayana
Chapter #30

Chapter 29: Awal Mula Warna-warni Keunikan Tersebut

Kembali perginya Crystal ke Jakarta, nyatanya memang benar-benar membuat mood Christoff terpengaruh. Buktinya saja, hari ini dia nyaris tak merampungkan kisah keluarganya sewaktu masih tinggal di Australia dulu sebelum akhirnya Rayla bertindak sendiri dengan mengambil alih penugasan itu meski dengan berat hati karena harus menyigi lagi cerita tentang sosok Bapak semasa hidupnya dulu. Membiarkan sang kakak sembuh dari “tragedi patah hati”-nya dulu sebagaimana sifat sensitifnya sedari lama, pagi ini ditemani udara sejuk Purbalingga usai sekian hari berada di sini, Rayla menyalakan lagi komputer tabletnya. Aplikasi Google Drive pun menjadi santapannya, dan file buku Keluarga Mbraling ditembakkannya secara langsung. Namun belum juga sempat ngapa-ngapain, mendadak sebaris chat singkat menjejali ujung layar gawai andalannya tersebut. Ternyata itu adalah WhatsApp dari Crystal, menanyakan sepertinya ada sesuatu yang kurang dari naskah yang sudah masuk kepada dia sebelumnya. 

“Hi Rayla, aku lagi baca naskah-naskah yang sudah masuk. Itu kamu belum menambahkan yang lanjutannya kisah di Australia, ya?” tutur katanya berpadan rapi di sini. 

Membaca chat Crystal tersebut, mata Rayla seketika terbelalak. Dia seakan tak percaya atas hal itu. 

“Hi juga Mbak Crystal, eh sorry sebentar aku cek dulu ya.” Seketika tangannya cepat-cepat menggulir layar komputer tablet. 

“Tumben yang bagian itu sampai kamu tumbuh dewasa belum masuk. Padahal kisahnya juga enggak kalah bagus, toh?” lanjut Crystal tanpa tedeng aling-aling.

Bagian yang dimaksud Crystal berhasil Rayla temukan, selanjutnya dia memilih menjawab dulu. 

“Eh, iya Mbak Crys—sekali lagi sorry ya baru sempat update habisnya kemarin-kemarin enggak tahu kenapa idenya ndelalah mandek. Sampai bingung harus menulis apa, tapi sekarang sih sudah ada idenya lagi. Meskipun kayaknya harus kuringkas karena substansi utamanya ada di cerita tentang Mbah Guru sekeluarga, lebih-lebih sebelum ini aku juga sudah pernah menulis novel berdasarkan adaptasi dari ceritaku sendiri.” 

“Oh iya? Kok, kamu belum pernah cerita sih? Sini share link-nya dong.” 

Sent. Seketika sepasang tautan terkirim ke Jakarta sana, dan selanjutnya mereka jadi lantas asyik berdiskusi. Lalu setelah Crystal menutup chat, Rayla segera membereskan lagi pekerjaan yang tertunda itu akibat memburuknya mood Christoff pasca ditinggal Crystal seperti belahan jiwanya. Menunggu Stevie dan Tiffany bangun, Rayla kemudian memulai pekerjaannya begini. 

“Bus! The wheels are going round and round all day long! Then the train is so long!” 

Aku masih ingat betul. Teriakan, atau lengkingan nyaring Christoff semasa kecil yang selalu dipekikkannya berulang-ulang entah itu di rumah ataupun di sekolah. Entah apa yang menyebabkannya berperilaku demikian, namun rasanya saat itu aku melihat dia menyukai segala sesuatu yang bisa berputar terutama roda kendaraan besar seperti bus dan truk serta asyiknya sensasi perjalanan dengan kereta api. Adapun sebagai cara untuk menstimulusnya, sehari-hari kulihat dia asyik menggeluti mainannya yang berbentuk demikian, sedangkan aku—memilih boneka. Sama halnya seperti Crystal dan anak-anak perempuan lain jua. Namun satu hal yang kelak membuat Christoff dinilai telah melampaui batas kewajaran adalah bagaimana caranya bertingkah di sekolah TK-nya dulu. Dilepas Bapak dan Ibu kepada guru-guru TK, walau awalnya dia bisa duduk tenang bersamaku juga teman-temannya, namun setelah sekian lama—aku melihat Christoff seolah asyik dengan dunianya sendiri. Para guru TK di sini nyaris dibuat kewalahan menanganinya, sampai mereka memberitahukan hal ini kepada Bapak dan Ibu.

“Kami mendapati adanya gejala kelainan pada Christoff. Berhubung kami di sini masih awam, maka kami sarankan supaya dia diperiksakan kepada psikolog atau paling tidak, dokter anak.” Demikian tandas Mrs. Shelby, salah satu guru kami dulu. 

Sadar ada yang “tidak beres” dengan Christoff, Bapak dan Ibu lalu membawanya ke dr. Owen Bradley—salah satu dokter anak berpengalaman di sini. Memeriksakan stetoskopnya seperti biasa, dr. Owen menilai bahwa keluhan guru TK melalui Bapak dan Ibu diduga terjadi akibat sensitivitas Christoff terhadap bahan-bahan pangan atau makanan dari gluten. Yang biasanya terkandung dalam tepung terigu. Hanya bisa menyarankan diet, sesuai anjuran para guru TK—selanjutnya Christoff dibawa ke seorang psikolog anak di sini, namanya Mrs. Florence. Dia memiliki sekelompok tim ahli pendamping berpengalaman yang siap sedia mendiagnosa Christoff. 

“Bus, train, rocket, airplane and … Little Star!” 

Demikian bunyi objek yang selalu disebutnya berulang-ulang selama pemeriksaan. Dia terkadang berlarian ke segala penjuru ruangan, walau berhasil dihadang tim psikolog. Serta, dia pun acap kali menunjukkan ketertarikannya kepada segala benda dengan bentuk kotak segi empat atau minimal persegi panjang. Yang baginya, mungkin saja ini adalah bagian dari perfeksionisme atau sifat selalu ingin sempurna 100 persen. 

Mrs. Florence dan timnya pun hanya bisa duduk termenung memperhatikan polah Christoff yang seperti ini adanya. Usai sekian kali membiarkannya tetap dan terus begini, Mrs. Florence dan tim sampai kepada satu kesimpulan: Christoff didiagnosa menyandang autisme spektrum ringan. 

Lihat selengkapnya