Sebuah Titik Temu

Rivaldi Zakie Indrayana
Chapter #32

Chapter 31: Halal Bi Halal 2026 (Selesai)

Rumah besar di Jalan Tulip itu sebenarnya sudah lama ditinggal penghuninya. Penghuni terakhir, tentu saja keluarga Abdul Kadir. Namun, setelah Abdul Kadir meninggal, rumah itu pun ditinggalkan. Sejatinya, rumah itu memang diperuntukkan bagi tentara. Setelah masa tugas berakhir, memang sudah seharusnya dikembalikan.

Keluarga Abdul Kadir, juga keluarga besarnya, tidak pernah memantau rumah itu lagi setelah ditinggalkan. Yang mereka tahu, rumah dikembalikan kepada instansi atau organisasi yang menaunginya. Tentu saja mereka tidak tahu-menahu ketika rumah itu, berpuluh tahun kemudian, ternyata sudah beralih kepemilikan lagi. Entah di bawah siapa, yang jelas bangunan dengan nuansa Belanda kuno itu kini telah beralih fungsi sebagai tempat penginapan.

Layout dalam rumah itu sudah diubah total. Sekat-sekat yang dulu membatasi ruang telah dibongkar dan diganti sekat yang baru. Kini, sekat-sekat itu digunakan sebagai pembatas kamar. Ada beberapa kamar yang disewakan, memang. Dan karena konsepnya yang memang merupakan rumah, tak jarang rumah penginapan itu pun disewa sepenuhnya, misalnya untuk keperluan pertemuan.

Inilah yang sekarang tengah dilakukan oleh keluarga besar Purbalingga. Untuk keperluan halal bi halal sekaligus reuni, rumah disewa penuh, lengkap dengan kamar-kamarnya—mungkin ada sedulur yang ingin menginap. Yang jelas, sih, panitia halal bi halal yang notabene para Mbraling muda sudah standby sejak sehari sebelum acara.

“Permisi … bisa ketemu sama Christoff?”

Seorang wanita muda nan cantik tiba-tiba mengalihkan perhatian Crystal yang tengah memantau dekorasi ruang tengah. Ia pun meninggalkan kru dan beralih ke wanita yang tengah menunggu di depan pintu itu.

“Ya? Bagaimana?”

“Saya dari katering. Kebetulan saya kemarin dihubungi Christoff….”

“Eh, Diana! Ayo masuk.” Tiba-tiba Christoff muncul dari dalam. Wajahnya tampak semringah ketika menyambut gadis yang ia panggil “Diana” itu.

“Oh, iya, Mbak. Perkenalkan, ini Diana, teman kuliah saya dulu di HI Unpar. Kebetulan keluarga Diana punya usaha rumah makan. Makanya, saya pesan saja dari Diana.” Christoff menjelaskan.

“Oh, ya ampun.” Crystal tampak geli. “Kamu rupanya banyak fans-nya, ya?” goda Crystal.

Christoff tampak tersipu. Wajah Diana pun bersemu merah jambu.

Para anak muda itu tampak bersemangat mengatur ruangan. Konsep acaranya sendiri awalnya adalah makan siang dan ramah tamah. Namun, Crystal merasa sayang jika bukunya sendiri tidak dibahas. Maka dari itu, ia pun mengusulkan untuk acara bedah buku sekalian dengan audiens terbatas, yaitu keluarga besar Purbalingga. Yang didapuk sebagai pemateri utama tentu saja Bude Astri. Mungkin didampingi Pakde Irfan. 

Untuk kru-nya sendiri, Crystal mengajak sebagian kantornya. Termasuk Ramdan yang sangat ingin menjadi pembahas buku yang menurutnya sangat unik itu. Yugo pun sepertinya tertarik untuk membahasnya.

Christoff sebagai ketua panitia, tentu saja didampingi oleh pasangan “dynamic duo”-nya, alias Rayla sang adik. Dan mereka pun mengajak sebagian sahabat mereka untuk ikut serta. Terutama sekali Stevie. Juga Tiffany yang pada hari itu kembali menginap di Bandung. 

Ehm … tentu saja Tiffany bersedia karena … ah, ya tentu saja karena Christoff. Namun, kini hatinya kembali gundah. Bukan … bukan karena Crystal yang dulu sudah terang-terangan menegaskan “posisinya”. Melainkan….

Tiffany melirik ke arah meja besar yang digunakan untuk prasmanan nanti. Tampak Christoff tengah asyik menata meja bersama Diana. Ia pun menarik napas dalam-dalam. 

“Udah … tenang aja … nanti juga orangnya balik ke kamu, kok.” Crystal berkata tiba-tiba sembari tersenyum-senyum seakan tahu isi hati Tiffany.

“Mbak Crystal belum tahu Christoff, sih. Dia itu gampang teralihkan kalo lihat cewek.” Tiffany tampak merengut.

Crystal hanya terkikik pelan.

“Selamat pagi.” Kali ini yang terdengar adalah suara laki-laki. 

Seisi rumah pun menoleh. Ternyata Yugo yang menyapa.

“Maaf lama, ya. Soalnya kami saling tunggu-menunggu. Biar ke sininya konvoi aja bareng-bareng.” Yugo tampak nyengir sebelum mempersilakan “rombongan” yang dibawanya untuk masuk.

Dan sekejap, masuklah sejumlah orang yang cukup banyak, dan memiliki garis wajah serupa: semua memiliki aksen bule.

“Perkenalkan. Ini keluarga besar saya.” Yugo memperkenalkan satu per satu pakde dan budenya: Pakde Agus, Pakde Anton, Pakde Herman, dan Bude Theresia. Mereka membawa serta keluarga masing-masing juga. Sontak, suasana pun menjadi ramai.

“Ini Daddy saya.” Yugo memperkenalkan ayahnya, yang masuk terakhir diikuti Mommy dan Kak Cynthia.

“Wah, udah banyak yang datang, ya?” Sebuah suara kembali terdengar dari depan, kali ini suara perempuan.

“Mbak Ika….” Ganti Rayla yang menghambur menyambut kakak sepupunya itu.

“Wah, ini putra-putranya Pakde Muhammad, ya?” Pakde Irfan tampak semringah. Ia pun langsung menyalami sepupu-sepupunya itu.

“Assalamualaikum….” Terdengar lagi suara dari depan.

“Papa … Mama … masuk aja….” Crystal yang kali ini menyahut.

Suasana pun kian meriah.

“Saya senang, lho. Crystal itu dulu-dulu susah banget diajak ke acara keluarga. Baru kali ini dia semangat.” Mama memperkenalkan sekaligus memuji Crystal di depan sedulur-sedulur yang baru dikenalnya itu.

“Maaf baru datang. Tadi dari stasiun agak macet.”

Sebuah suara kembali membuat seisi rumah menengok. Rupanya yang dinanti-nanti telah tiba. Siapa lagi kalau bukan Bude Astri, sang inisiator penulisan buku.

Tak lama setelah Bude Astri, giliran Pakde Zainal yang datang. Diikuti oleh Inggrid—ibu Rayla dan Christoff. Tak lupa Tante Asti yang menggandeng Eyang Sutirah. Rayla dan Christoff pun menghambur untuk mencium tangan sang nenek. Begitu pula Yugo.

Iki putune Mas Muhammad?” Eyang Sutirah menatap Yugo yang membungkuk untuk mencium tangannya.

Nggih, Eyang,” jawab Yugo. Tinggal di Purbalingga beberapa lama membuatnya mau tidak mau akrab juga dengan bahasa Jawa. Kali ini logat medoknya sudah matching dengan bahasanya.

Ngganteng,” puji Eyang Sutirah sembari menepuk pipi Yugo.

Seisi ruangan pun tertawa.

“Mirip sekali dengan Mbak Martha. Mas Muhammad memang pintar cari jodoh,” lanjut Eyang Sutirah lagi.

Dan seisi ruangan pun kembali tertawa.

Lalu, giliran Crystal yang mencium tangan Eyang Sutirah. 

“Nah, kalo ini pasti putune Mas Ahmad, ya?” tanya Eyang Sutirah.

Lihat selengkapnya