Meski Bapak sudah meninggal, namun sepanjang perjalanan hidupnya—acara halal bi halal keluarga besar Purbalingga kali ini justru menjadi yang paling emosional bagi Rayla dan Christoff karena selain mempertemukan mereka dengan Yugo dan Crystal—dua sepupu dari keluarga yang lama terpisah, acara ini juga merekatkan kembali sahabat-sahabat baik mereka sejak SMA. Ditambah dengan hubungan asmara yang semakin menguat di antara mereka, kendati sebagian masih ada yang harus belajar move on seperti Christoff. Agaknya, hanya Diana-lah yang paling mampu meluluhkan hatinya setelah bertahun-tahun kehilangan si Gadis Bunga, begitupun Tiffany. Untuk saat ini, akhirnya boleh jadi dia harus rela Christoff meminang Diana. Dan dia pun hanya perlu mengulur waktu untuk mencari tambatan hatinya.
Pagi-pagi sebelum bertolak ke Tanah Mbraling untuk kedua kalinya, Rayla tidak lupa mengajak sahabat-sahabat dan sepupunya terlebih dahulu berziarah ke makam Bapak di Kawasan Bukit Cikadut, melepas rindu sekaligus memperkenalkan saudara-saudara barunya secara tidak langsung. Duduk bersimpuh di depan pusara ayahnya dengan wajah sembap, secara bergantian dia menaburkan bunga dan menyiramkan air di atasnya lalu membacakan doa terbaik sebagai hadiah terindah sekaligus untuk mendiang bapak. Selanjutnya, Stevie dan Fariq sebagai pasangan dua sejoli mengambil giliran maju ke pusara ayah Rayla, melakukan hal yang sama demikian pula Tiffany, Diana, Jacqueline lalu Yugo dan Crystal yang kali ini didampingi Ramdan. Tanpa sadar di depan makam ayahnya, Rayla banyak bercerita seputar perjalanan hidupnya selama ini sepeninggal Bapak sampai cukup lama. Dia masih menolak saat diajak beranjak, dan tahu-tahu dia menangis lumayan banyak serta lama.
Pasti ini gambaran betapa dekatnya Rayla dengan sang ayah semasa hidup beliau dulu. Sambil menunggu Rayla puas melampiaskan perasaannya kepada almarhum bapak, di sini Yugo dan Crystal—masing-masing menghidupkan lampu sorot kamera dan mengamati sekitar makam. Taman Pemakaman Umum (TPU) Cikadut, dulunya diperuntukkan bagi para warga keturunan Tionghoa di Bandung. Tidak perlu heran sesungguhnya kalau nisan-nisan di sini mayoritas berukuran besar, sekaligus dibubuhi tulisan nama-nama atau yang lainnya dalam aksara Mandarin. Bahkan ada juga sebagian makam yang dilingkupi oleh cungkup atau kubah besar laksana kastil megah baik itu khas Eropa maupun Dinasti Kerajaan Tiongkok Kuno. Melihat pemandangan demikian, seketika Crystal ingat lagi kepada almarhumah Mbah Merry—yang rupa nisan makamnya disamakan seperti Mbah Ahmad mengingat keputusannya menjadi mualaf semasa muda. Entah kalau saat itu Mbah Merry tidak “mengikuti” Mbah Ahmad, barangkali makamnya hari ini akan jadi sangat megah seperti sebagian yang ada di TPU Cikadut ini.
Rayla puas berbagi cerita di depan pusara bapak meski masih menangis, selanjutnya dikuatkan oleh Stevie dan Tiffany—mereka pun melanjutkan perjalanan ke Purbalingga. Melintasi jalan dan titik-titik yang sama seperti waktu kunjungan perdananya dulu, butuh setengah hari saja bagi rombongan Mbraling Muda ini untuk tiba kembali di kampung halaman para kakek dan neneknya tersebut. Memilih istirahat dulu di penginapan yang sama seperti dulu, baru keesokan harinya mereka datang menemui pimpinan Perpustakaan Kabupaten Purbalingga untuk menjelaskan maksud kedatangannya. Buku diterima sebagai koleksi sana, berfoto untuk validasi laporan kepada keluarga besarnya, perjalanan berlanjut lagi mengelilingi Kota Purbalingga tidak lengkap tanpa makan siang Soto Sokaraja sebagai simbol kehangatan di antara mereka hari itu. Dan semua kenangan pun diserap lekat-lekat, penanda bahwa kini mereka telah berhasil mencapai sebuah titik temu yang tak pernah dibayangkan sebelumnya.
Seakan belum puas bermain di sini, atas saran sedulur Mbraling di Bandung tempo hari—mereka pun tidak ketinggalan memperpanjang rute hingga ke Yogyakarta dan Solo. Di sini, melanjutkan halal bi halal kembali dengan suasana yang jauh lebih cair, Rayla seketika terngiang-ngiang gambaran dan falsafah perjalanan hidupnya selama ini. Dia pikir, awalnya segala sesuatu akan selalu berjalan sesuai rencana mencakup diantaranya urusan politik terbaru di 2024 lalu. Namun nyatanya ia selalu saja berubah bentuk, wujud bahkan hasil sampai sejauh dari perkiraan selama ini. Di awal, dia memang pernah merasa kecewa dengan fakta seperti itu. Tetapi lambat laun, dia bisa memahami dengan prinsipnya sendiri bahwa jika semuanya berjalan sesuai rencana, maka kita hanya akan mendapat kesenangan semata. Namun jika terjadi perubahan tak terduga, justru kita akan mendapat pelajaran berharga.
Termasuk diantaranya soal urusan politik. Diurutnya lagi perjalanan sikap dia selama ini bahkan hasil diskusi entah itu bersama teman-teman bahkan sedulur semua, mengingat sifatnya yang cair dan rentan menimbulkan aneka ragam persepsi—Rayla baru sekarang paham betul soal alasan mengapa dia harus mengulur jarak setiap kali akan mengungkapkan hal-hal seperti ini. Begitu juga hubungan asmara, yang tentu harus dilandasi alasan demi mencapai tujuan bersama dalam harmoni atau keseimbangan. Perbedaan tentu boleh bahkan wajib atau harus disatukan, walau dalam tataran tertentu, tetap ada batasan yang mutlak berdiri sendiri bukan untuk ditembus. Hal-hal demikianlah yang lantas membentuk niatnya pergi mengambil perkuliahan S3 secara lebih serius terutama di luar negeri, mengikuti segenap hasil jerih payahnya selama ini. Sebongkah eksemplar buku Keluarga Besar Purbalingga tergenggam erat dalam tangannya, disigilah paparan demi paparan informasi seputar mereka tidak terkecuali keluarga Rayla sendiri.
Di sana, segenap kenangan bersama bapak semasa hidupnya telah terdokumentasikan dengan rapi. Untaian kata sebagaimana hasil tulisannya bersama Christoff adalah sebuah bukti tentang asyik dan naik-turunnya perjalanan panjang hidup mereka selama ini, disertai mimpi-mimpi lainnya yang akan tetap menyala untuk digenggam energinya kelak. Baru kali ini Rayla akhirnya bisa tersenyum membaca untaian kisah hidupnya sendiri mencakup cerita Bapak.
Ingin melengkapi kepuasan berkumpul-kumpul di titik lain, mereka, segenap sahabat dan sedulurnya meneruskan perjalanan ke Solo. Baginya, di sini selain mengunjungi deretan tempat ternama—satu tujuan yang tidak boleh dilewatkan adalah singgah ke rumah tokoh idolanya, Presiden ke-7 Republik Indonesia Joko Widodo atau Jokowi. Kediaman ini, sejak beliau pensiun pasca satu dekade memimpin tanah air, setiap harinya selalu ramai dikunjungi warga asal berbagai daerah bahkan sebagian kecil mancanegara. Terbuka lebar bagi siapa saja, setiap hari mereka dipersilahkan mengantri, mengambil gambar dan berbincang singkat bersama Jokowi. Berkeinginan memenuhi niat agungnya tersebut, hari ini Rayla dan kawan-kawan turut serta mengambil antrian di ruas Gang Kutai Utara bersama deretan pengunjung lainnya dengan pengarahan dan pengamanan dari Grup D Paspampres yang bertugas menjaga Jokowi di hari purnabaktinya.