Sebutir Kerikil

Yohana Indriani
Chapter #1

Sebutir Kerikil

Tahun 1990.

Kakiku mengayun cepat melintasi gang-gang kecil. Akses tercepat menuju sekolah. Masih pagi, tetapi keringatku mengucur deras. Bukan kepanasan, melainkan keringat dingin karena aku menahan sesuatu yang harus segera aku lepas. Namun sesampainya di sekolah, harapanku runtuh seketika. Gerbang sekolah masih terkunci!

Sial! Padahal biasanya sepagi itu gerbang sudah terbuka.

Aku meremas perutku yang mulas. "Batu, batu, mana batu?" gumamku sembari mengamati tanah berbatu yang basah usai diguyur hujan semalaman. Aroma petrikor menguar dari sana. Sebutir kerikil berbentuk bulat kuraih lalu kugenggam kuat-kuat. Konon cara itu bisa mengurangi rasa mulas walaupun aku sendiri tidak menemukan keterkaitannya secara ilmiah. Namun jujur saja, aku merasakan dampaknya. Dorongan yang nyaris mencapai ujung perlahan mereda.

Kulirik pagar keliling di sisi kanan kiri gerbang utama. Terbersit ide untuk melompati beton setinggi dua setengah meter itu. Namun saat menyadari tinggi tubuhku hanya selisih sedikit dengan papan penggaris kelas yang pernah memukul bokongku saat aku asyik mengobrol di dalam kelas, aku urung melakukannya. Setelah cukup lama menunggu, rupanya perutku tak mau berkompromi. Aku yakin mukaku sudah sepucat mayat. Aku berbalik meninggalkan sekolah sembari berpikir mengakhiri derita ini. Batu kerikil masih kuremas hingga telapak tanganku mulai terasa panas. Sejurus kakiku melangkah menjauhi gerbang sekolah, kudengar derit sepeda dari berlawanan arah.

Aku menyipitkan mata. Itu pak penjaga sekolah kami! Aku tidak tahu mengapa Pak Sim datang begitu terlambat. Namun fakta kehadirannya cukup membuat dopaminku meningkat. Senyum dibibirku merekah. Rupanya semesta masih berpihak padaku si anak sekolah. Usai Pak Sim membukakan gerbang aku segera mengambil langkah seribu menuju bangunan kecil di sudut bangunan sekolah. Lekas-lekas kukeluarkan semua sampah hingga tuntas. Kutenggelamkan ke dalam bumi hingga benar-benar lenyap tak berjejak. Satu-satunya jejak yang tersisa hanyalah aroma menyengat.

***

"Siapa yang mau? Aku bawa lutis." Uwi membuka rantang seng bercorak bunga menyajikannya di atas mejaku. Tanpa aba-aba, teman-temanku menyerbu meja kayu selebar setengah meter itu. Ada yang menyeret kursi lantas duduk dan bahkan berdiri mengelilingi kudapan yang umumnya bercitarasa pedas asam manis itu.

"Masih pagi, Wi. Mencret nanti." Aku mengingatkan. Nenekku bilang, makan buah asam di pagi hari bisa membuat sakit perut, apalagi bercampur rasa pedas.

"Aman." Uwi berusaha meyakinkan.

Aku menelan ludah melihat buah jambu air, jambu klutuk, duwet yang diguyur bumbu kacang dan cabai tepat di depan mata. "Pedas banget?"tanyaku sekali lagi. Namun melihat ekspresi wajah teman-temanku berubah seperti pantat babun, tanpa menjawabpun aku sudah tahu jawabannya.

"Pedes banget tapi enak! Huh hah huh hah!" Noni mengacungkan ibu jari sementara mulutnya komat-kamit seperti ikan koi peliharaannya di rumah.

Aku bergeming. Ketakutanku akan dampak memakan lutis melebihi keinginanku. Sontak aku menggeleng kencang.

"Rugi kamu. Ini enak banget!" Yang lain mencoba memprovokasi.

Lihat selengkapnya