"Mbak Ana! Mbak Ana! Ayo cepat bangun! Sudah hampir subuh!"
Guncangan keras di tubuh mengejutkanku yang tengah dibuai mimpi. Jujur, aku kesal. Aku sedang bermimpi menikmati semangkuk mie ayam favorit, yang hanya bisa kunikmati setahun sekali saat lebaran selepas membongkar tunjangan hari raya pemberian paman, bibi dan para tetangga. Namun, sebelum mie ayam itu kusantap dengan lahap, aku sudah terjaga. Bayangan lezatnya mie kenyal dibumbui ayam manis gurih dan kuah panas yang nikmat, ambyar seketika.
Aku menggeliat sejenak, meluruskan otot-otot tubuh yang kaku sebelum beranjak dengan malas. Meskipun aku tertidur lelap, aku kerap terbangun dengan pegal di sekujur badan karena kasur kapuk yang keras. Maklum saja, konon usia kasur kapuk yang aku tiduri jauh lebih tua dari usia ibuku. Padahal usia ibuku saja sudah kepala empat. Kasur kapuk itu sepertinya sudah lelah menopang tubuh kami sekeluarga.
"Mbak Ana, cepat!" Anti, adik perempuanku, kembali menegur memintaku bergerak lebih cepat. "Kalau kesiangan nanti repot," imbuhnya lagi. Kalimat terakhir menyadarkanku akan realita hidup yang harus aku jalani. Aku mendesah kencang. Aku benci hari libur! Di saat teman-temanku begitu gembira menyambut libur sekolah, aku justru ingin tetap sekolah agar bisa menggunakan toilet sekolah.
Usai melipat selimut, aku segera turun dari ranjang besi dengan perlahan tapi pasti. Adik bungsuku masih terlelap di sana. Ranjang besi yang sudah berkarat di sana sini kerap mengeluarkan derit yang memekakkan telinga dan bisa membangunkan adikku seketika. Setengah mengantuk aku menggunakan insting meniti tangga besi.
Ibuku merantau ke negeri jiran. Sebagai yang tertua, adik-adikku secara tidak langsung menjadi tanggung jawabku meskipun tidak sepenuhnya, karena ada kakek, nenek serta para om dan tante yang melindungi dan mengawasi kami. Sementara bapakku? Entah berada di mana. Ibu dan bapak berpisah saat aku duduk di bangku kelas satu sekolah dasar. Dan sekarang, aku dan adik-adikku tinggal di rumah kakek dan nenek. Gubuk sederhana dengan jumlah penghuni di dalamnya tiga belas jiwa! Bahkan melebihi tim sepak bola. Bayangkan saja bagaimana sesaknya?
Aku dan adik-adikku tak memiliki kamar. Tempat tidur besi bertingkat kami berada di ruang tengah. Tanpa sekat, tanpa batasan. Hanya kelambu berwarna biru kusam yang melindungi kami dari nyamuk dan tatapan. Nilai lebihnya aku bisa menonton televisi hitam putih hingga larut malam. Berpura-pura tidur, padahal diam-diam mengintip dari balik bantal.
Acara kesukaanku Friday The 13th. Serial horor yang tayang di stasiun milik pemerintah setiap malam Jumat setelah acara Mimbar Agama Islam. Friday The 13th menceritakan kisah dua pedagang toko antik yang berupaya mendapatkan kembali barang antik yang sudah terjual untuk menghindari korban jiwa. Barang-barang antik itu rupanya terkena kutukan iblis! Gara-gara menonton serial itu, aku sulit tidur dan baru bisa terpejam setelah dini hari. Untung tak sampai mimpi buruk. Meskipun takut, tetap saja aku tak kapok dan tak sabar menunggu episode berikutnya. Dasar memang!
Kakek dan nenek cukup disiplin soal jadwal sholat dan jadwal tidur. Kami harus segera ke Langgar saat kentongan ditabuh. Jika sudah waktunya tidur, maka kami harus segera naik kasur. Perkara mengantuk atau belum mengantuk itu urusan belakangan, yang penting kami semua sudah berbaring di ranjang masing-masing pada jam yang sudah ditentukan.