Sebutir Kerikil

Yohana Indriani
Chapter #3

Air Hitam Berbisik

Tak hanya menjadi tempat pembuangan tinja, selama beberapa masa, sungai mati menjadi saksi berbagai rentetan peristiwa. Beberapa tahun lalu, kata Mbah Kakung, sebuah bus bergambar bunga mawar melaju tak terkendali kemudian menabrak dua sepeda motor di jalan pantura tak jauh dari sungai mati.

"Brak! Brak! Lalu duar!" kisahnya. Semua orang yang tengah menuntaskan hajat lari tunggang langgang saat melihat bus meledak lalu mulai terbakar. Dua orang pesepeda motor terkapar di tengah-tengah jalan meregang nyawa. Dalam kondisi tubuh tak nyaman karena belum cebok, warga berusaha menyelamatkan penumpang bus yang berupaya menyelamatkan diri dari kobaran api.

Dan pagi ini, tragedi mengerikan kembali terjadi. Kami digegerkan dengan kabar penemuan mayat. Seorang pria ditemukan tewas tenggelam di sungai tempat kami biasa menuntaskan hajat. Kepalanya terbenam di lumpur sementara tubuhnya mengambang di permukaan sungai. Dari desas-desus yang aku dengar, orang malang itu memiliki riwayat penyakit epilepsi. Namanya Ucup. Tak hanya menderita ayan, Ucup juga penyandang tuna grahita dan tak memiliki tempat tinggal tetap serta keluarga. Menurut penuturan saksi, Ucup kali terakhir terlihat tengah duduk di pagar jembatan. SMereka menduga, penyakit epilepsi Ucup mendadak kambuh dan akhirnya terjatuh ke sungai. Kejadiannya dini hari saat sunyi, sehingga nyawa Ucup tidak tertolong.  

Sejumlah pertanyaan dan spekulasi lantas bermunculan di kepalaku yang mungil dan berambut panjang tipis. Sedang dan untuk apa Ucup duduk sendirian di tengah malam, di saat orang-orang memilih merehatkan tubuh di atas dipan?  Apakah sedang memancing? Jika benar demikian, lantas memancing apa? Sepengetahuanku, ikanpun enggan tinggal di sungai mati itu.

Atau Ucup sedang mencari wangsit? Kebetulan tidak jauh dari tempat kejadian, ada kios penjual kupon Sumbangan Dermawan Sosial Berhadiah yang populer dengan sebutan kupon SDSB atau lotre. Konon katanya, jika berhasil menebak angka yang tepat, orang itu seketika akan menjadi kaya raya! Bahkan demi menjadi jutawan ada yang rela bersemedi di kuburan alih-alih berdiam di pinggir sungai. Meskipun harus tidur berkalang tanah kuburan dan bau menyengat bunga kamboja bercampur menyan.

Kios lotre itu sangat favorit di kalangan masyarakat. Kakekku juga salah satu pelanggannya. Ibuku bahkan pernah bekerja di sana saat masih muda.  Ibuku bertugas mencatat angka-angka yang ditebak para pelanggan. Meskipun pekerjaan itu terlihat mudah, Ibu harus teliti. Tak ada toleransi untuk kesalahan sekecil apapun.

Bicara tentang lotre, aku jadi teringat cerita Ibu tentang Mbah Mun. Seorang wanita tua yang cukup disegani di tempat kami. Dia adalah ratu judi sekaligus bandar judi Bingo pada jamannya, saat judi masih dilegalkan negara. Setiap hari, halaman rumah Mbah Mun selalu dipadati ratusan massa layaknya pagelaran layar tancap. Mereka rela duduk lesehan di atas tanah menunggu kemunculan Mbah Mun bak menanti selebriti.

Masing-masing dari mereka menggenggam selembar kertas dan pena yang telah dibagikan sebelumnya. Saat Mbah Mun mulai berbicara, orang-orang yang semula berisik mulai berbisik. Mereka memasang telinga dalam-dalam dan wajah mereka menegang mengharap keberuntungan. Ketika satu per satu angka meluncur dari mulut Mbah Mun, dengan cermat orang-orang itu mencocokkannya dengan angka di atas kertas.

Raut muka orang-orang itu mulai beraneka rupa selepas angka terakhir disebutkan. Gurat-gurat kecewa, pasrah dan menyerah tergambar jelas pada wajah-wajah lelah. Ekonomi saat itu memang sedang tidak baik-baik saja. Setiap kali Mbah Putri selesai kulakan sayur dan bahan pangan di pasar, Mbah Putri mengeluh tentang harga kebutuhan yang terus melambung. Dan Bingo sepertinya menjadi harapan terakhir bagi mereka untuk hidup lebih baik karena jika menang lotre, mereka akan mendapatkan hadiah uang tunai yang cukup besar.

Kembali lagi ke kisah tragis Ucup yang tewas mengenaskan di sungai mati. Jika bukan karena mencari wangsit, jangan-jangan Ucup sedang melepas penat dengan melihat lalu lalang kendaraan yang melaju di jalan Deandels? Sayangnya nasibnya sedang sial. Bukan mengada-ada. Adik bungsuku juga kerap melakukan hal serupa. Ditemani kakek, hampir setiap senja adikku mendatangi jembatan, menyeret serta mainan bus kayu miliknya. Saat bus favoritnya melintas, adikku akan berteriak, "Hiba Utama!" dengan lantang dan riang.

Menonton lalu lalang kendaraan telah menjadi hiburan bagi sebagian orang. Ada sensasi tersendiri saat kendaraan favorit mereka melintasi jalanan. Entah itu bus, truk ataupun mobil. Bukan hanya di tepi jalan raya, aku juga kerap melihat keramaian di pinggir jalur rel kereta api. Mereka sengaja berkumpul untuk melihat kereta api favorit mereka melintas. Bukan hanya anak-anak seusia sekolah, banyak juga balita yang datang bersama orang tua mereka. Kebanyakan adalah para orang tua yang frustasi karena anak mereka sulit makan. Mereka sengaja menonton sembari menyuapi putra-putri mereka. Konon cara itu cukup manjur.

Terlepas apapun penyebab kematian Ucup, aku mendadak mengalami gangguan eliminasi di sungai mati paska tragedi. Selama beberapa hari aku tak berani buang hajat di sungai. Padahal sekolah sedang libur panjang dan aku tak bisa sesuka hati menggunakan fasilitas sekolah.

Otakku tak baik-baik saja. Setiap kali aku berjongkok di tubir sungai, imajinasiku melayang ke mana-mana. Bayangan arwah gentayangan menarik tubuhku ke dalam sungai seketika muncul, membuatku bergidik ngeri. Air hitam itu seolah sedang berbisik. Pada dasarnya aku seorang penakut meskipun aku suka menonton film horor.

Aku tidak mengada-ada. Otakku merekam dengan baik cerita Mbah Kakung tentang seorang pria yang tiba-tiba didatangi sosok hitam saat buang hajat di tengah malam. Pria yang ketakutan setengah mati itu sontak lari tunggang langgang. Namun sayangnya, karena tak memperhatikan jalan, pria itu menabrak mobil jeep yang sedang terparkir di pinggir jalan dan akhirnya tewas mengenaskan di tempat kejadian.

"Non, di rumah sepi?" tanyaku sembari fokus menembak klungsu yang baru saja aku sebar di lantai. Sementara tanganku yang lain menggenggam sebutir kerikil kuat-kuat. Sudah tiga hari aku tidak buang air besar dan sepertinya itu adalah batasnya. Meskipun aku berusaha mengalihkan perhatian dengan bermain simbar klungsu dengan Noni, tapi perutku tak mau berkompromi lagi.

"Ada Bapak sama Mas-Masku. Kenapa? Mau ngising?"

Lihat selengkapnya