Sebutir Kerikil

Yohana Indriani
Chapter #3

Air Hitam Berbisik

Pagi-pagi, tempat kami sudah digegerkan penemuan mayat. Seorang pria ditemukan tewas tenggelam di sungai tempat kami biasa menuntaskan hajat. Kepalanya terbenam di lumpur sementara tubuhnya mengambang di permukaan sungai. Dari desas-desus yang aku dengar, orang malang itu memiliki riwayat penyakit epilepsi. Menurut penuturan mereka, orang malang itu kali terakhir terlihat tengah duduk-duduk di pagar jembatan terbuat dari beton. Mereka menduga, penyakit epilepsi korban mendadak kambuh dan akhirnya terjatuh ke sungai. Kejadiannya dini hari saat sunyi, sehingga nyawa korban tidak terselamatkan.  

Sejumlah pertanyaan dan spekulasi lantas bermunculan di kepalaku yang mungil dan berambut tipis ini. Sedang dan untuk apa orang malang itu duduk sendirian di tengah malam, di saat orang-orang memilih merehatkan tubuh di atas dipan?  Apakah sedang memancing? Jika benar demikian, lantas memancing apa? Sepengetahuanku, ikan enggan tinggal di sungai mati itu.

Atau orang malang itu sedang mencari wangsit? Kebetulan tidak jauh dari tempat kejadian, ada kios penjual kupon Sumbangan Dermawan Sosial Berhadiah yang populer dengan sebutan kupon SDSB atau porkas. Konon katanya, jika berhasil menebak empat angka yang tepat, orang itu seketika akan menjadi kaya raya! Bahkan demi menjadi jutawan ada yang rela bersemedi di kuburan alih-alih di pinggir sungai. Kios porkas itu sangat favorit di kalangan masyarakat. Kakekku juga salah satu pelanggannya. Ibuku bahkan pernah bekerja di sana sebelum terbang ke negeri jiran.  

Atau sebab lain? Jangan-jangan, orang malang itu sekedar melepas penat dengan melihat lalu lalang kendaraan yang melaju di jalan Deandels? Sayangnya nasibnya sedang sial. Bukan mengada-ada. Adik bungsuku juga kerap melakukan hal serupa. Ditemani kakek, hampir setiap senja adikku mendatangi jembatan, menyeret serta mainan bus kayu miliknya. Saat bus favoritnya melintas, adikku akan berteriak, "Hiba Utama!" dengan lantang dan riang.

Terlepas apapun penyebabnya, aku mendadak mengalami gangguan eliminasi di sungai mati paska tragedi mengenaskan itu.

Selama beberapa hari aku tak berani buang hajat di sungai. Padahal aku tak punya pilihan karena sekolah sedang libur panjang.

Otakku tak baik-baik saja. Setiap kali aku berjongkok di tubir sungai imajinasiku melayang ke mana-mana. Bayangan arwah gentayangan menarik tubuhku ke dalam sungai seketika muncul, membuatku bergidik ngeri. Air hitam itu seolah sedang berbisik. Pada dasarnya aku seorang penakut meskipun aku suka menonton film horor.

"Non, di rumah sepi?" tanyaku sembari fokus menembak klungsu yang baru saja aku sebar di lantai. Sementara tanganku yang lain menggenggam sebutir kerikil kuat-kuat. Sudah tiga hari aku tidak buang air besar dan sepertinya itu adalah batasnya. Meskipun aku berusaha mengalihkan perhatian dengan bermain simbar klungsu dengan Noni, tapi perutku tak mau berkompromi lagi.

Lihat selengkapnya