"Agil ...! Goletna watu!(Carikan batu)." Ita, teman sepermainan kami berteriak pada sosok ceking berambut keemasan yang tengah bergelantungan di pohon kersen sembari mengunyah buah yang rasanya mirip seperti permen kapas itu.
"Agil lagi budeg, Ta. Dia congekan," kataku sembari menggambar garis di atas tanah dengan ranting.
Usia Agil sebaya denganku. Selain teman main, teman sekelas, Agil juga masih berkerabat denganku. Pendengaran Agil sedikit berkurang karena penyakit congek yang dideritanya. Salah satu telinga Agil kerap mengeluarkan nanah dan terkadang berbau tak sedap. Agil bilang penyebab dia congekan akibat membersihkan telinga terlalu dalam sehingga bagian dalam telinganya terluka. Nanah yang keluar dari telinga berasal dari luka itu. Itu, kata Agil. Tapi sepertinya tidak sesederhana itu.
Agar tak menganggu aktivitas maupun sekitar, Agil menyumbat telinganya dengan kapas dan menggantinya sesekali sesuai kebutuhan. Dibandingkan teman-teman laki-laki di kelas kami, tubuh Agil tergolong kecil dan kurus seperti kurang gizi. Agil terlahir prematur alias belum cukup bulan. Agil pernah bercerita. Saat lahir, usus pencernaan di dalam perut Agil bahkan bisa dilihat dengan mata telanjang karena kulitnya yang belum berkembang sempurna.
Seharusnya Agil menjalani serangkaian perawatan di rumah sakit. Namun karena keterbatasan biaya, Agil dirawat di rumah dengan peralatan ala kadarnya. Sebagai pengganti inkubator, orang tua Agil merakit kandang ayam dan lampu bohlam untuk menjaga suhu tubuh Agil tetap terjaga. Bayi Agil di kurung seperti anak ayam.
Rambut emas yang dimiliki Agil bukan karena dia berdarah penjajah, melainkan terlalu sering terpapar matahari. Aku sering melihat Agil bermain layang-layang di siang bolong saat cuaca terik. Namun disitulah ciri khas kawanku yang satu itu. Aku bisa mengenalinya dari kejauhan karena warna rambutnya yang unik. Dengan segala masalahnya, tak menyurutkan Agil untuk tetap berprestasi di sekolah. Dia bahkan selalu mendapatkan peringkat satu di kelas kami. Jujur, aku kagum padanya.
"Watumu endi, Na? Nanti pakai saja buat lempar lawan," pinta Ita padaku.
"Emoh. Cari aja yang lain. Batu ini jimat saktiku," sahutku sembari meremas saku tempat kerikil itu berdiam, berusaha mempertahankan milikku. Sebutir kerikil berbentuk bulat itu sangat berarti bagiku. Batu itu selalu menemaniku kemana-mana, menjadi penyelamat di saat dorongan biologis itu muncul.
"Sebentar lagi 'kan kamu punya WC, Na."
"Masih lama, Ta. Tanahnya saja baru digali tadi." Sampai subuh tadi, aku masih buang air di sungai setelah berhasil menepis rasa takut akan hantu gentayangan. Walaupun selama proses eliminasi jantungku terus berdebar kencang.
"Biar aku yang cari watu." Noni menawarkan diri.
Menghabiskan masa liburan, aku dan teman-teman memutuskan bermain gobak sodor di Bengkel Lapangan milik Angkatan Bersenjata Republik Indonesia. Lokasi Beng-Lap, begitu kami menyebutnya, sangat dekat dari kediaman kami. Tempatnya rindang dan sejuk karena terdapat banyak pohon terutama pohon asam jawa dan kersen. Biasanya setelah bermain, kami berburu buah kersen, lalu memakannya langsung sambil bergelantungan di dahan pohon seperti monyet.
Selain bengkel, Beng-Lap memiliki lapangan hijau nan luas dan lapangan lain berupa tanah kosong yang sering digunakan untuk bermain voli. Ada tiang net di sana. Kami sering menggunakan lapangan voli untuk bermain gobak sodor karena lebih mudah bagi kami menandai tanah, membaginya menjadi beberapa jalur.