Sebutir Kerikil

Yohana Indriani
Chapter #5

Lukaku Dipatok Ayam

"Ora payu kiye (Nggak laku ini)." Pria kurus berwajah keriput dengan rambut penuh uban itu mengembalikan guci yang aku temukan saat menggali lubang septic tank, kepadaku. Aku kecewa. Aku pikir aku akan pulang dengan gembira karena berhasil membawa beberapa lembar rupiah dari hasil penemuan harta karun.

"Sudah kubilang nggak bakal laku nggak percaya. Ini mirip vas bunga di rumahku. Kamu kebanyakan baca Tin Tin, sih." Noni menimpali menambah kesal saja.

Mbah Kakung juga bilang begitu waktu itu. Tapi apa salahnya 'kan mencoba? Siapa tahu keberuntungan sedang berpihak padaku. Seperti Tin Tin dan Kapten Haddock yang berhasil menemukan harta karun Red Rackham. Aku juga berharap petualanganku berakhir menyenangkan. Aku penggemar Tin Tin. Aku sering menyewa komik Tin Tin di tempat penyewaan komik tidak jauh dari sekolah dengan menyisihkan uang sakuku yang tak seberapa. Kisah-kisahnya yang seru sepertinya membuat imajinasiku melampaui batas.

"Vas di rumahmu itu gambarnya kembang, Non. Bukan Nippon." Aku tetap saja ngeyel .

Duduk di belakang kemudi sepeda, Noni hanya mendengus. Sepertinya dia juga sama kesalnya sepertiku. Bukan karena gucinya tak laku, melainkan karena aku tak mempercayainya. Sejak awal dia tahu usaha kami akan sia-sia. Namun meskipun begitu, sahabat baikku itu tetap mau menemaniku ke pasar loak yang jaraknya lumayan jauh dari rumah kami. Bahkan memfasilitasi kendaraan.

"Hari ini aku nggak main dulu, Non. Mau bantu-bantu Simbah bikin WC," kataku setiba kami di rumah.

"Aku juga mau pergi sama Ibu," balas Noni kemudian pamit pulang. Jadwal bermainku berhenti di jam sepuluh siang.

Usai membuang guci ke tong sampah karena menurutku sudah tidak berguna, aku bergegas ke lokasi pembuatan septic tank di belakang rumah. Siapa tahu Mbah Kakung membutuhkan tenagaku. Namun rupanya sudah banyak orang di sana dan aku juga tak diminta membantu.

Selain Mbah Kakung, paman dan bibi, ada tetangga kami yang tengah berkunjung. Mereka tampak berbincang-bincanng, tetapi lebih tepatnya berdebat. Aku mendengar orang itu mengkritik cara keluarga kami membuat septic tank dan Mbah Kakung dengan tegas membantahnya.

Menurut tetanggaku, seharusnya jarak sumur resapan septic tank dan sumur air untuk kebutuhan mencuci dan mandi sekitar 10 meter. Namun keluargaku membuatnya berdampingan. Posisi septic tank dan sumur air dibuat sejajar dan jaraknyapun hanya sekitar tiga meter.

"Mau ditaruh dimana lagi? Nggak ada tempat lain. Kamu lihat rumahku kecil, Ji," kata Mbah Kakung.

"Tapi kalau posisinya seperti ini, air sumur bisa tercemar, Pak," jawab tetanggaku itu.

"Tapi kalau septic tank di taruh halaman depan, bukannya air kotoran malah meresap ke sumur, Ji?" Mbah Kakung bersikukuh .

Mbah Kakung berpendapat, karena sifat air mengalir dari ketinggian ke tempat yang rendah, maka keputusannya membuat sumur dan septic tank bersisian tak akan menjadi masalah. Kebetulan rumah inti kami berada di selatan, sedikit lebih tinggi dari sumur air. Sedangkan posisi septic tank yang sedang kami bangun berada sebelah utara rumah mengarah ke Laut Jawa. Perdebatan itu terus bergulir dan aku tidak tahu siapa yang benar diantara mereka.

***

Yeay! Jambanku akhirnya jadi!

Lihat selengkapnya