Sebutir Kerikil

Yohana Indriani
Chapter #6

Tentang Hari

Aku cukup sensitif dengan julukan, panggilan atau apapun jenisnya? Sedari kecil, atau bahkan mungkin sejak lahir aku sering mendengarkan kata-kata aneh. Salah satunya cap 'pembawa sial' yang disematkan kepadaku. Itu karena aku terlahir di hari Minggu. Kata-kata itu mengendap di alam bawah sadar dan seiring bertumbuhnya usia, akhirnya aku memahami maknanya. Jujur saja, kata-kata itu melmbuatku jengkel. Hey, memangnya apa salahku?

"Yul, Yul .... Kamu dibilangin nggak nurut, sih. Anak pertama weton Minggu itu nggak boleh di rawat ibu kandungnya. Cerai 'kan jadinya?" ujar salah satu kerabat pada ibuku, tepat dihadapanku.

"Nggak ada hubungannya weton sama masalah rumah tanggaku, Mbak," balas Ibuku. Aku tidak tahu ibu sedang membelaku atau hanya sekedar menjaga perasaan putri kandungnya. Pasalnya, bukan kali pertama aku mendengar kalimat seperti itu saat bersama ibu. Saking seringnya, aku mencoba berdamai dengan predikat mengerikan itu.

Keluarga kami sangat kental dengan perhitungan weton dan hari pasaran Jawa. Beberapa keputusan dalam hidup kami masih merujuk pada perhitungan itu. Seperti untuk menentukan hari pernikahan, pindah rumah, membangun rumah bahkan kapan hari yang baik dan tidak baik untuk berpergian. Dulu aku sempat heran mengapa banyak orang melarangku pergi di hari Selasa daan Sabtu. Ternyata beberapa orang percaya berpergian pada hari itu bisa mendatang kesialan.

Dan tentangku, aku adalah anak pertama yang terlahir di hari Minggu. Entah apa yang salah dengan hari itu sehingga kakek dan nenekku meminta ibuku untuk menyerahkan pengasuhanku kepada kerabat. Ritual itu disebut dengan istilah buang anak. Setelah anak itu menginjak remaja atau dewasa, barulah diperbolehkan kembali kepada orang tua.

Ibuku menolak ritual buang anak itu. Aku tidak tahu persis alasan apa yang mendasarinya. Mungkin karena aku adalah putri pertamanya? Atau ada alasan lain? Aku benar-benar tidak tahu. Hingga akhirnya keputusan ibuku untuk merawat dan mengasihiku dengan kedua tangannya sendiri berakhir seperti yang orang-orang katakan. Ibu dan bapak benar-benar berpisah di usiaku yang belum genap tujuh tahun. Dan siapa lagi kalau bukan aku yang dijadikan kambing hitam? Hanya karena aku adalah anak pertama dan terlahir hari Minggu. Hey, aku tak pernah meminta dilahirkan hari itu!

Bukan hanya keluarga kami yang menjadikan weton dan hari pasaran sebagai rujukan. Sebagian besar masyarakat di sekitarku juga sama. Pernah suatu hari aku bermain di salah satu rumah kawan. Kakak temanku itu sedang hamil besar. Saat aku dan temanku bermain simbar klungsu di teras rumah, datanglah tetangga, ikut bergabung. Mereka lantas berbincang-bincang. Hingga akhirnya genderang telingaku menangkap sesuatu.

"Perkiraan lahiran kapan?" tanya orang itu kepada kakak temanku.

"Bulan depan," jawab kakak temanku.

"Jangan lahir hari Minggu, ya," katanya sembari menepuk lembut perut besar kakak temanku itu. Ah, lagi-lagi.

"Memang kenapa kalau lahir Minggu?" Aku memberanikan diri menyela pembicaraan mereka.

"Bawa sial."

"Kata siapa?" balasku dengan nada tinggi lalu pamit undur diri. Mereka tampak terkejut dengan reaksiku, tetapi tak membalas sepatah katapun. Sepanjang perjalanan ke rumah aku menghentakkan kaki. Mungkin bumi yang kupijak juga merasa heran mengapa dia menjadi sasaran kekesalan.

***

Bulan puasa telah tiba. Seperti tahun-tahun sebelumnya, masjid di tengah-tengah pemakaman itu dipenuhi massa yang terus berusaha merangsek ke mimbar utama. Tujuannya hanya satu, menemui imam masjid untuk mendapatkan tanda tangan sang imam juga pengisi kuliah shubuh yang bertugas hari itu. Anak-anak remaja putri berkerudung, remaja putra bersarung berkopiah dari berbagai sekolah dasar berebut menjadi yang pertama. Aku dan teman-teman memilih menunggu di sudut masjid, ketimbang berdesakan demi sebuah tanda tangan. Seperti yang lain, kedua tanganku menggenggam sebuah buku cetak dan pena menanti bukti bahwa aku telah mengikuti kuliah shubuh di bulan puasa.

"Jojo mana?" tanya Ita saat tak menemukan sosok bertubuh gempal itu di sekitar.

Aku mengangkat bahu. "Masuk, yuk! Mau sampai kapan kita di sini? Keburu siang. Panas, nanti haus." Kakiku juga mulai pegal karena berdiri lama menungu giliran. Meskipun itu adalah minggu-minggu terakhirku berpuasa, badan ini tetap saja dalam mode beradaptasi dengan perubahan metabolisme. Aku tetap harus menghemat energi agar tak lemas.

"Makanya duduk di sini." Ita menggeser tubuhnya memberi ruang untukku duduk bersamanya. Masalahnya bukan kursi yang Ita duduki, melainkan bangunan makam terbuat dari beton. Sebenarnya bukan hanya Ita, yang lain juga memilih memanfaatkan bangunan kuburan untuk merehatkan tubuh dari antrean panjang. Tak sedikitpun ketakutan terpancar dari wajah mereka. Sementara aku yang pada dasarnya penakut walaupun menyukai film horor - kontraproduktif memang -, belum apa-apa bergidik ngeri membayangkan ahli kubur tiba-tiba melayangkan protes karena tempat tinggalnya diduduki.

"Nggak, ah. Takut. Kalau tiba-tiba pada bangun gimana?"

"Nggak mungkin. Mereka sudah di alam baka." Walaupun ucapan Ita benar, tetap saja aku takut. Aku pernah melihat salah satu adegan di film horor, ketika sebuah tangan tiba-tiba keluar dari makam secara tiba-tiba.

Lihat selengkapnya