"Woi! Cidukku endi (gayungku mana)?!" teriakku kesal saat mengetahui gayung merah berkerak hitam di bagian pantat gayung menghilang dari kolong ranjang tidurku.
Mendengar jeritanku, Mbah Uti datang menengahi. "Jangan ribut! Ayo ke langgar, sholat shubuh dulu," perintahnya. Aku menurut. Jika mengikuti ego, aku akan kehilangan waktu shubuh. Antrian terlalu panjang untuk ditunggu. Namun, aku masih penasaran siapa yang mengambil gayung berbentuk hati itu, sehingga aku kehilangan hak istimewa mandi nomor satu. Padahal aku berusaha bangun tengah malam untuk mendapatkan gayung itu demi menyambut lebaran lebih awal sehingga leluasa menikmati ketupat lebaran.
Sesuai aturan, siapa yang menguasai gayung merah berkerak hitam itu maka dia diijinkan mandi pertama. Itu perjanjian yang sudah disepakati sekeluarga. Usut punya usut, ternyata Anti pelakunya. Dia dengan santai keluar kamar mandi tanpa merasa bersalah. Asem! Ingin marah, tapi dia adik sedarah.
***
Matahari kian meninggi. Beduk bertalu, suara takbir menggema, mengiringi langkahku yang tergopoh-gopoh. Aku tertinggal dari yang lain karena menuntaskan hajat terlebih dahulu. Setelah mandi dan mengenakan pakaian baru aku langsung makan ketupat sayur yang sudah tersaji di meja. Aku merasa perlu merayakannya segera sebagai bentuk apresiasi memarut puluhan butir kelapa.
Sayangnya, karena diburu waktu, aku menikmati ketupat lebaran dengan terburu-buru. Alhasil, perutku langsung bergejolak setelahnya. Sebutir kerikil tak mampu menahan dorongan itu lagi sehingga aku memilih menuntaskannya detik itu juga. Ah, beruntungnya aku memiliki jamban sendiri, sehingga aku tak terlambat sholat Idul Fitri.
"Ana, nanti kita keliling sama-sama." Noni memberi isyarat sepulang kami dari langgar. Tentu saja aku menyambutnya dengan gembira. Tas selempang mini telah melingkar di pundak siap menerima rupiah demi rupiah dari para dermawan.
Selepas aku meletakkan mukenah, aku bergabung dengan teman-teman yang sudah menunggu untuk berkeliling dari rumah ke rumah. Anti tak mau ketinggalan. Adik perempuanku itu ikut dalam barisan. Kecuali si bontot laki-laki yang tak diijinkan karena masih kecil. Kami bersalam-salaman, saling meminta maaf, menikmati kue lebaran dan mengumpulkan angpao. Jujur saja, dari sekian banyak rumah yang aku kunjungi lebih dari setengahnya tak kukenali. Hebatnya, mereka mengenaliku. Apa aku seterkenal itu? Aku tersenyum bangga.
"Itu karena kamu sering nongkrong di warung sayur Mbah-mu. Atau mungkin ketemu di kali pas ngising," seloroh Noni, menamparku dengan fakta. "Ayo kita ke sana."
"Aku nggak kenal mereka, untuk apa minta maaf?" bisikku saat Noni menyeretku ke halaman rumah besar milik salah satu orang kaya di kampung kami. Rumah yang sering aku intip diam-diam dari balik pagar besi sepulang sekolah karena aku mendambakannya. Rumah dengan taman bunga dan air mancur.
"Kue di situ enak-enak," bisiknya lagi.
Jelas aku tahu itu. Tidak seperti kaleng-kaleng kue di rumahku, isi kaleng yang disajikan tuan rumah kaya itu tak mungkin palsu.
"Kue di rumahmu juga enak-enak 'kan?" balasku. Di antara teman-teman satu permainan kami, menurutku Noni yang paling berada. Kedua orang tuanya bekerja sebagai pegawai dengan gaji tetap. Meskipun rumahnya tak sebesar rumah air mancur, menurutku rumah Noni juga bagus.