Sebutir Kerikil

Yohana Indriani
Chapter #8

Cita-Cita

Sudah beberapa hari terakhir aku rajin menonton siaran Dunia Dalam Berita yang tayang di stasiun televisi milik pemerintah. Bukan hanya karena aku menggemari program berita ini dan bercita-cita menjadi penyiar berita, melainkan mengikuti perkembangan berita yang membuat dadaku berdenyut nyeri. Tak terkecuali Mbah Kakung yang tak ingin melewatkan kabar dari tanah suci.

Tragedi Mina, begitu judul berita yang tercetak jelas di layar televisi tabung hitam putih 14 inci kami. Penyiar berita itu menyebut sebuah angka yang mencengangkan. Ribuan nyawa melayang akibat berdesakan di dalam terowongan dekat Mekkah.

Saat penanda waktu disusul musik pembuka program berita terdengar dari televisi kami, Mbah Kakung, segera mengambil posisi. Duduk di kursi kayu dengan secangkir teh pekat sebagai teman, kedua mata Mbah Kakung fokus menatap layar televisi. Aku tahu, meskipun para jamaah yang meninggal bukanlah orang terdekat atau orang yang kami kenali, kesedihan tampak jelas di wajah Mbah Kakung.

Apalagi saat penyiar menjelaskan kronologi kejadian, bagaimana para jemaah meregang nyawa. Tragedi itu bermula ketika terowongan Al Muaisim disesaki 50 ribu orang yang sedang berangkat ke tempat lempar jumrah, sementara kapasitas terowongan hanya mampu menampung sekitar 26 ribu jiwa. Tiba-tiba di tengah padatnya jemaah di dalam terowongan, arus jemaah tidak bisa bergerak. Hal itu dipicu jatuhnya jemaah dari jembatan penyebrangan di pintu keluar terowongan sehingga menyebabkan jemaah panik lalu berhenti mendadak. Akibat arus terhenti, ribuan jemaah di dalam terowongan saling desak dan mengalami sesak napas, pingsan, lalu terinjak-injak.

Di bawah cahaya lampu neon, kulihat netra Mbah Kakung berkaca-kaca. Mimpi menginjakkan kaki di tanah suci bukanlah mimpi segelintir orang berduit, tetapi mimpi semua orang tak terkecuali Mbah Kakung dari kalangan ekonomi pas-pasan. Mungkin, tubuh dan nyawa Mbah Kakung memang tak berada di sana. Namun Mbah Kakung bisa merasakan beratnya perjuangan menuju surga.

***

"Lihat berita Mina? Sedih, ya?" Aku membuka perbincangan di sela-sela menunggu lonceng tanda masuk sekolah berbunyi. Uwi, Noni dan yang lain mengangguk menyetujui.

"Kata ibuku, temannya temannya ibuku juga jadi korban." Noni menimpali.

"Kasihan."

Obrolan kami terhenti saat salah satu teman memberitahu kedatangan Ibu Kepala Sekolah. "Bu Sri datang!"

Kami yang sedang duduk-duduk di koridor depan kelas berhamburan menghampiri Bu Sri untuk menyalami berebut membawakan tas koper berbentuk persegi yang digenggamnya. Kali ini aku pemenangnya. Rasanya bangga bisa mengantar barang berharga milik kepala sekolah ke ruangannya. Teman-temanku bahkan mengikutiku dari belakang seolah tak mau ketinggalan menunaikan tugas mulai itu. Seiring lonceng berdentang, kami kembali segera ke kelas masing-masing.

"Eh, Na, cerpen yang kamu buat kemarin nggak dilanjutin?" tanya Uwi di sela-sela jeda pergantian pelajaran. Uwi adalah pembaca setia cerpen-cerpen ala kadarku. Meskipun hanya ditulis di buku dengan pena, menurut Uwi ceritaku membuatnya penasaran.

"Lagi nggak punya ide," sahutku lemas. Sudah lebih dari seminggu aku tak melanjutkan kisah Cinta yang jatuh cinta pada kakak kelas karena kehilangan konsentrasi.

"Ih, padahal, aku penasaran siapa yang iseng lempar batu ke Cinta. Katanya mau jadi penulis novel?"

"Nggak jadi. Aku mau jadi penyiar berita aja," jawabku. Menurutku sangat keren saat menjadi penyambung lidah dan saksi sebuah peristiwa besar.

"Ana, dipanggil Pak Trisno ke ruang guru!" Jati berteriak dari luar melalui lubang jendela kelas.

"Aku?" tanyaku lagi memastikan pendengaranku tidak salah.

"Iya."

Aku bergegas menuju ruang guru sesuai perintah. Di sana Pak Trisno menyambutku dengan sumringah. Ternyata Pak Trisno menunjukku mewakili sekolah untuk lomba mengarang tingkat kecamatan. Pak Trisno rupanya mengetahui kalau aku suka menulis dan nilai mengarang pada mata pelajaran Bahasa Indonesia-paling tinggi di kelas.

Lihat selengkapnya