Sebutir Kerikil

Yohana Indriani
Chapter #9

Drama Penculikan?

"Ana, kamu boleh pulang lebih dahulu." Bu Guru menghampiriku dan memintaku untuk segera berkemas-kemas. Aku bingung sesaat sebelum melihat keberadaan Tante Lea di luar kelas. Ada apa gerangan sehingga aku diminta pulang pada saat kegiatan belajar mengajar masih berlangsung? Itu tidak pernah terjadi sebelumnya.

Tanpa banyak bertanya, aku bergegas memasukkan buku dan alat tulis ke dalam tas kemudian menemui Tante Lea.

"Ada apa, Tante? Kok Ana di suruh pulang?"

"Nggak ada apa-apa."

"Nggak ada apa-apa kok di suruh pulang?"

"Ya, pokoknya pulang dulu. Ayo!" Tante Lea tampak kesal mendengar ocehanku. Dia menggandengku keluar sekolah dengan terburu-buru. Kulirik kepala Tante Lea celingukan kesana kemari seolah ada yang dicari. Wajahnya terlihat gelisah.

"Tante lagi cari siapa?" tanyaku lagi.

"Nggak cari siapa-siapa. Ayo!"

Begitu tiba di depan pagar sekolah, sebuah becak telah menanti dan di kursi penumpang ada Anti. "Mbak Ana! Kita pulang bebas," ujarnya riang.

Alih-alih kembali ke rumah, Tante Lea membawaku ke rumah salah satu kerabat yang letaknya hanya beberapa langkah dari kediamanku.

"Kamu sama Anti di sini dulu, ya. Jangan keluar. Tunggu Tante datang menjemput."

Aku mengernyitkan dahi. Kepalaku dipenuhi teka-teki. Berbeda dengan Anti yang langsung menonton televisi di ruang tengah, aku justru mengintip kepergian Tante Lea melalui jendela kaca. Tak berselang lama, telingaku menangkap sesuatu.

Dimana Ana dan Anti?

Itu suara Bapak. Meskipun samar-samar, aku masih bisa mengenali warna suaranya.

Ana dan Anti nggak ada di rumah. Tante Lea menjawab.

Tapi kata Gurunya, Ana sama Anti sudah pulang.

Ya, aku nggak tahu. Tante Lea bersikukuh.

Lihat selengkapnya