Sebutir Kerikil

Yohana Indriani
Chapter #10

(Bukan) Roman Picisan

Tahun 1979

"Yuli! Sudah siap?" BuLik Titi berteriak memanggil Yuli dari pintu belakang yang menembus langsung ke kediaman gadis berusia 20 tahun itu. Rumah BuLik Titi dan kediaman Yuli bersebelahan. Mereka masih berkerabat satu sama lain. Pintu tembus itu sengaja dibuat untuk mempermudah interaksi para penghuni di kedua rumah itu.

"Bentar, BuLik! Lagi ganti baju!"

"Yuli! Sabun mandinya mana?! " Kali ini Yono yang berteriak memanggil adik perempuannya itu dari kamar mandi dengan nada kesal. "Nyemplung di kolah lagi (Masuk kolam lagi)?"

"Nggak, Mas! Sabunnya sudah habis! Pinjem aja sama BuLik Titi!" sahut Yuli.

Pinjam meminjam barang pribadi seperti itu juga bukan hal baru. Tanpa mengeringkan badan, hanya berbalut handuk, Yono bergegas keluar kamar mandi menuju kediaman BuLik Titi melalui pintu tembus. Seketika lantai semen di sekitar kamar mandi menuju kediaman BuLik Titi di banjiri tetesan air.

"BuLik, minta sabunnya!" teriak Yono tanpa sungkan mengambil sabun di kamar mandi BuLik Titi lalu membawanya pergi.

"Jangan lupa dibalikin lagi!" BuLik Titi menyahut seolah hafal kebiasaan keluarga kerabatnya itu.

Masih di dalam kamar, Yuli mengecek bawaannya memastikan tidak ada yang terlewat sebelum keluar kamar. Kemeja polkadot warna merah muda dan rok span hitam selutut membuatnya merasa cantik hari itu. Rambut keritingnya yang dibiarkan tergerai sebahu menambah kesan kekinian. Dia meniru gaya berbusana dari sebuah majalah wanita di salon tempat dia bekerja. Jika ada yang bilang jalan hidup itu penuh kejutan, mungkin itu gambaran kehidupan yang Yuli jalani. Lulusan sekolah tata boga, tetapi justru tersesat bekerja di salon kecantikan.

"Bu, aku pergi dulu, ya," pamitnya pada wanita paruh baya yang tengah menyiangi kangkung. Memisahkan daun dengan tangkai sebelum mendarat di wajan untuk dibumbui lalu di sajikan sebagai lauk makan siang.

"Hati-hati," jawab Ibu Yuli singkat.

Menyandang tas selempang kecil di bahu, Yuli lekas-lekas menghampiri kediaman BuLik Titi. Di teras rumah, paman dan bibinya itu telah menunggu dengan tas koper tergeletak di lantai.

"Ayo!"

Ketiganya lantas berjalan menuju halte di jalan pantura di mana bus tujuan mereka akan melintas. Yuli diminta sepasang suami istri itu untuk menemani keduanya ke ibu kota provinsi. Setelah menunggu cukup lama, bus yang mereka tunggu akhirnya datang.

"Tuh, di sana kosong, Yul." BuLik Titi menunjuk dua bangku kosong tak berpenghuni di barisan belakang. Sementara paman dan bibinya duduk di baris depan menggantikan dua penumpang yang turun di halte tempat mereka menunggu tadi.

Yuli segera mengambil tempat sebelum bus melaju tinggi. Dia tahu, jika bus mulai berjalan dan bergoyang karena jalanan yang tak rata, maka dia akan kesusahan mencapai bangku itu. Tubuhnya yang mungil hanya setinggi tanaman perdu, tak memungkinkan untuk menjangkau hand grip atau pegangan tangan.

Belum lama dia duduk menikmati perjalanan, seorang pria tiba-tiba duduk di bangku samping.

"Mau kemana?" tanya pria bertubuh jangkung itu mencoba akrab.

"Ke Semarang."

"Sendirian?"

"Nggak, sama PakLik dan BuLik. Itu mereka duduk di sana. " Yuli mengangkat dagunya ke bangku barisan depan.

"Sudah menikah?" tanya pria itu yang belakangan diketahui bernama Bagus.

"Maaf, saya mau istirahat," sahut Yuli merasa tak nyaman dengan pertanyaan pribadi itu.

"Busnya juga baru jalan," seloroh Bagus seolah hafal dengan penolakan itu.

Lihat selengkapnya