"Mbak Ana haus. Cari dawet dulu, yuh!" Aku menghentikan sepeda di depan dua bangunan utama yang berdiri sejajar dengan desain menyerupai pion atau bidak catur raksasa. Konon katanya, bangunan berdiameter enam meter dengan tinggi 3,5 meter itu merupakan bekas Benteng Kaloran. Bangunan itu dipercaya merupakan akses masuk menuju Keraton Kaloran, pusat pemerintahan Kadipaten Tegal di masa lalu.
Aku memarkirkan sepedaku di sisi bangunan bekas benteng. Sejenak menyandarkan punggung yang pegal pada salah satu dinding. Aku bisa merasakan betapa perkasanya benteng ini pada masanya. Konon katanya, seluruh struktur dinding Benteng Kaloran tersusun batu bata tebal tanpa plester modern. Ketebalan dinding batu bata ini dirancang khusus untuk menahan benturan serta menjadi gardu pemantauan bagi prajurit penjaga keraton ketika mengawasi arus keluar masuk warga di area keraton. Di bawah pemerintahan Hindia Belanda, sekitar tahun 1920, bangunan itu pernah dijadikan gardu listrik untuk menghidupi aliran listrik di area sekitar. Sungguh luar biasa.
Di sana, tak jauh dari bangunan itu seorang wanita tua memakai kebaya duduk di atas dingklik dengan kuali berukuran besar di hadapan tengah sibuk melayani pembeli. Aroma jeruk purut tercium dari sana.
Aku menelan ludah. Rasa dahaga semakin menggelegak. Usai mengantre, kuulurkan dua koin seratus rupiah kepada penjual berambut uban di konde itu. Tak lama, semangkuk minuman segar berisi air, santan, gula merah dan butiran-butiran kecil terbuat dari tepung beras berpindah tangan dari penjual ke tanganku.
"Seger." Tenggorokkanku yang kering kerontang seketika merasakan sensasi dingin.
"Jadi Mbak Ana nanti satu sekolah sama Mas Agil, ya?" Anti membuka perbincangan sembari menghabiskan dawet. Sepertinya pertanyaan random itu muncul karena tadi sebelum ke pasar, kami jalan-jalan sejenak untuk mengintip sekolah baruku.
"Iya."
"Sama Mbak Noni juga?"
"Nggak. Mbak Noni di SMP lain."
Aku dan Noni sekolah di tempat yang berbeda. Nilai Noni tak memenuhi syarat masuk sekolahku yang katanya favorit dan tempat berkumpulnya orang-orang pintar. Aku tidak tahu apakah itu fakta atau hanya klaim sepihak.
Usai membasahi dahaga, aku dan Anti melanjutkan perjalanan kami ke rumah.
"Ada rame-rame di depan ada apa?"tanyaku pada seorang pesepeda seumuranku saat melihat kerumunan di tengah jalan. Beberapa sepeda berhenti di tepi dan petugas berseragam tampak diantaranya.
"Ada razia peneng."
"Razia peneng?" Aku mengerutkan dahi.
"Pajak sepeda. Sepedamu sudah dipajak 'kan?" jelas orang itu usai melihat kebingungan di wajahku. Dia lantas mengamati sepedaku kemudian berdecak lirih setelahnya. "Lebih baik kabur, daripada sepedamu diangkut," katanya kemudian pergi berlalu.
"Pajak itu apa, Mbak?" tanya Anti.
"Mbak juga nggak tahu."
Aku kembali mengawasi kerumunan dari jarak jauh. Kuperhatikan beberapa pesepeda mengulurkan uang kemudian petugas itu menempel sesuatu pada sepeda. Setelah itu mereka diijinkan pergi. Sepeda mereka tak diangkut tak seperti yang dikatakan anak muda tadi.