Sebutir Kerikil

Yohana Indriani
Chapter #12

Bau Apa Ini?

"Ada apa kok ngebut-ngebut?" Mbah Kakung menghentikan laju sepedaku saat melihat sepedaku meluncur cepat.

"Tadi ada razia peneng, Mbah," laporku dengan napas terengah-engah.

"Oh, iya. Mbah lupa tempel penengnya." Mbah Kakung lantas mengeluarkan selembar kertas dari saku lalu menempelkannya pada rangka sepedaku. Meskipun sudah terlambat, aku tetap menghela napas lega. Karena besok aku tak perlu khawatir lagi berkeliaran di jalan raya.

"Makan dulu," titah Mbah Kakung.

"Ana mau ke kamar mandi dulu, Mbah."

Bruk!

Ku parkir sepedaku dengan asal di garasi sepeda persis di samping rumah. Di sana ada becak Mbah Kakung, puluhan sepeda milik paman dan bibi. Saking banyaknya, garasi di rumahku lebih mirip toko sepeda bekas di pasar loak.

Entah karena terlalu banyak minum dawet atau gara-gara panik menghindari razia peneng dan lampu, perutku yang sensitif mendadak mulas berat.

"Ini siapa lagi yang ngising nggak di siram!" teriakku kesal.

"WCnya rusak lagi." Bibi yang tengah memasak di pawon memberitahu.

Beberapa hari lalu saat perutku tak berkompromi dan jambanku tak berfungsi normal, aku terpaksa mengeluarkan uang untuk buang air di Pasar Beras karena sudah tak tertahan. Setelah di perbaiki paman, tempat pembuangan tinja itu kembali lancar. Namun belum lama, jambanku kembali berulah. Sepertinya ada yang salah dengan konstruksi pembangunan sumur resapan tinja. Lagi dan lagi terpaksa aku mengambil langkah seribu menuju pasar. Satu koin 100 rupiah berpindah tangan ke penjaga jamban. Argh .... Padahal uang itu ingin aku kumpulkan untuk mengganti cat sepeda. Ya, aku tahu butuh uang banyak untuk merealisasikan itu. Tapi tak ada salahnya 'kan memulai.

Kik, kik, kik ...

Lihat selengkapnya