"Cuaca siang yang cerah tiba-tiba berubah gelap dalam sekejap. Hembusan angin berhembus dingin menusuk tulang. Di langit, kilatan petir disusul dentuman menggelegar menambah suasana makin mencekam.
'Tolong! Tolong!" Seorang wanita muda berteriak serak meminta pertolongan sembari berjalan tertatih-tatih di depan rumah sakit gereja. Dia memeluk erat perutnya yang buncit sembari meringis kesakitan. Cairan bening merembes di antara kedua kakinya. Melihat situasi darurat di depan mata, sejumlah perawat dengan sigap menghampiri wanita muda itu kemudian membawanya dengan kursi roda menuju ruang gawat darurat.
Tindakan medis dilakukan mengingat ketuban wanita itu telah pecah hingga berceceran di lantai saat perjalanan menuju ruang persalinan. Proses persalinan berlangsung dramatis. Wanita muda itu melahirkan seorang bayi laki-laki, meskipun setelah itu dia kehilangan nyawa. Namun ada yang aneh, di ubun-ubun bayi merah itu terdapat tanda lahir bertuliskan angka 666 dengan sangat jelas. Sebuah fenomena yang membuat para petugas medis mengerutkan dahi. Bersamaan lahirnya bayi laki-laki tadi, sebuah cahaya turun dari langit kemudian mendarat di atap rumah sakit."
Kring ...! Kring ...!
"Bersambung."
"Yaah ... Lanjut dong Pak! Lanjut!" Semua siswa kompak berteriak.
"Belnya sudah bunyi, kita lanjut besok lagi, ya." Pak Guru Bahasa Indonesia mengemasi barang-barang miliknya di atas meja kemudian meninggalkan kelas dengan senyum tersungging di bibir. Sementara gurat kecewa tercetak jelas di wajah para siswa tak terkecuali aku yang sedari tadi sangat antusias mendengarkan cerita Pak Guru. Sesi membaca cerita sangat kusukai sehingga selalu aku tunggu, tak seperti pelajaran lain yang kadang menjemukan. Sepertinya Pak Guru Bahasa Indonesia berhasil membuat kami semua menjadi penggemar setianya.
***
Gunung nan gagah nun jauh di sana kini menjadi pemandangan sehari-hari menuju ke sekolah baru. Menemaniku di setiap kayuhan dan putaran roda untuk menuntut ilmu. Gunung tertinggi di Jawa Tengah itu seolah melambaikan tangan memintaku untuk sesekali menyambanginya. Ya, aku berjanji akan menyambanginya suatu hari.
"Ana!" Sisi muncul dari sebelah kanan menjajariku. Meskipun rumah kami tidak dekat, jalan menuju sekolah searah. "Hari ini ada pelajaran Bahasa Indonesia."
"Iya."
"Menurut kamu kenapa cahaya yang turun dari langit itu apa?" tanya Sisi.
"Malaikat?"