Sebutir Kerikil

Yohana Indriani
Chapter #14

Tentang Bapak

"Kalau bukan santet terus ini apa?" Mbah Kakung meletakkan sekantong paku yang telah berkarat di atas meja. Katanya, paku itu tak sengaja ditemukan berada di dasar kolam saat membersihkan kamar mandi. Mbah Kakung merasa tak pernah menjatuhkan apalagi meletakkan benda itu di sana.

Diam-diam aku mengintip perseteruan Mbah Kakung dan Bapak dari balik dinding geribik yang berlubang. Aku dan Bapak baru saja kembali dari ziarah di Makam Sunan Gunung Jati di Cirebon. Aku tidak tahu apa yang membuat Mbah Kakung marah setelah mengijinkan aku dan Bapak pergi bersamanya keluar kota setelah konflik perebutan hak asuh mereda.

"Saya tidak tahu, Pak," sanggah Bapak.

"Nggak usah bohong. Saya tahu kalau kamu ingin melukai seluruh keluarga kami."

"Ya, saya memang kecewa karena Bapak tidak mengijinkan Yuli kembali ke rumah. Tapi bagaimana mungkin saya melakukan itu? Di sini ada anak-anak saya." Bapak membela diri.

"Nggak ada yang melarang Yuli kembali. Itu pilihan Yuli sendiri."

Perdebatan itu terus berlanjut tanpa pemenang. Aku tidak tahu siapa yang berbohong diantara keduanya. Yang aku tahu, Bapak akhirnya pergi tanpa sempat berpamitan padaku. Hanya meninggalkan kenangan perjalanan keluar kota malam tadi. Lagu-lagu Abiet G Ade yang diputar di bus selama perjalanan bahkan masih terngiang-ngiang. Pelukan hangatnya saat memelukku dari hawa dingin menusuk tulang masih kurasakan.

Sebenarnya apa yang terjadi pada keluargaku? Pertanyaan itu kembali bertelingkah di kepala. Apa karena aku anak pertama yang terlahir hari Minggu dan Ibu tak menjalankan ritual buang anak sebagai penolak bala? Atau karena Bapak dan Ibu melanggar tabu yang menyebut orang jawa tidak boleh menikah dengan orang sunda? Konon katanya, jika mereka tetap menikah, maka pernikahan keduanya tidak akan bertahan lama. Aku mendengar mitos tentang itu baru-baru ini. Aku bingung, apa korelasi perbedaan suku dengan keharmonisan rumah tangga?

Setelah aku bertanya ke sana kemari, aku mendengar mitos itu muncul dan berkembang di masyakarat tak terlepas dari jejak sejarah di masa lalu. Ini tentang tragedi cinta Raja Hayam Wuruk dan Putri Dyah Pitaloka. Begini cerita yang kudengar.

Usia Hayam Wuruk masih muda saat diangkat menjadi raja menggantikan ibundanya Tribhuwana Tunggadewi. Kerajaan Majapahit dibawah pemerintahan Hayam Wuruk tidak lepas dari keberadaan Mahapatih Gajah Mada. Setahun setelah memerintah, Raja Hayam Wuruk ingin menikahi puteri Raja Pajajaran dari tanah sunda, Dyah Pitaloka. Awalnya Pajajaran setuju dengan syarat Majapahit tidak merebut wilayah kekuasaan Kerajaan Galuh. Namun mendekati acara pernikahan, Mahapatih Gajah Mada yang saat itu ingin menyempurnakan Sumpah Palapa justru mendesak Kerajaan Galuh menyerahkan putri Dyah Pitaloka sebagai upeti dan tunduk pada kerajaan Majapahit. Sebenarnya Hayam Wuruk tidak setuju dengan usulan Mahapatih Gajah Mada. Akan tetapi Mahapatih Gajah Mada tetap bersikeras.

Merasa dijebak, Kerajaan Pajajaran menolak tunduk dan akhirnya pecah pertempuran dahsyat yang dikenal dengan sebutan Perang Bubat. Jumlah pasukan yang tak seimbang menyebabkan banyak pihak dari Kerajaan Pajajaran tewas termasuk putri Dyah Pitaloka sendiri yang memilih jalan bela pati. Dia bunuh diri untuk menjaga kehormatan diri dan bangsanya.

Lihat selengkapnya