Sebutir Kerikil

Yohana Indriani
Chapter #15

Tentang Pria Arogan

"Ana! Main, Yuk!" Noni berteriak dari halaman rumah.

Besok malam minggu. Mbah Kakung memberikan kelonggaran bagi kami untuk bermain hingga larut malam. Tapi tidak sampai tengah malam juga. Hanya sampai pukul sembilan malam dari aturan jam malam pukul delapan malam yang diberlakukan setiap harinya.

Aku meraih tombol volume radio, mengurangi volume sebelum menjawab ajakan Noni. "Main apa?" tanyaku melalui lubang jendela rumah yang masih terbuka.

"Nonton bal-balan di depan." Demam bola rupanya masih mewabah kendati pertandingan piala dunia telah berakhir. Bukan hanya kaum pria saja, demi tim andalanku Brasil aku rela bergadang semalam suntuk. Bahkan menumpang menonton di rumah Noni ramai-ramai supaya lebih puas menyaksikan tim kesayanganku beraksi di laga final. Kebetulan televisi milik Noni berlayar besar.

"Aku kira mau main apa," jawabku tak semangat.

"Dari pada di dalam rumah cuma nglamun, mending nonton bal-balan di luar. Mumpung padang bulan."

"Aku nggak nglamun. Lagi ndengerin Arya Kamandanu."

"Mei shin?"

"Iya."

"Ya wis, lanjut. Aku tunggu di depan," kata Noni lalu pergi memunggungiku.

"Nanti aku nyusul! Sebentar lagi selesai!"

Aku kembali mengencangkan volume radio, melanjutkan hiburanku yang terjeda. Untung saat Noni memanggil tadi, radio sedang memutar iklan. Sehingga aku tak ketinggalan jalan cerita sandiwara radio 'Tutur Tinular' favoritku. Begitu lagu penutup diputar, aku bergegas menyusul teman-teman ke depan jalan. Kulihat, Agil dan Jojo sedang merakit sabut kelapa di dekat Langgar. Di sana juga ada minyak tanah. Aku tidak tahu itu untuk apa.

Di malam hari, jalan kampung di tempat kami tak banyak dilalui kendaraan. Sehingga kerap digunakan untuk bermain. Salah satunya kami-kami ini.

"Kita nggak main rok-rokan?" tanyaku pada Agil dan Jojo.

"Nggak. Kita mau main bola."

Aku mengedarkan pandangan ke segala arah. Mana bolanya?

Lihat selengkapnya