Sebutir Kerikil

Yohana Indriani
Chapter #16

Tentang Perempuan

Tahun 1999.

"Ana! Dipanggil Mbah Putri ke warung!"

Teriakan di pagi yang cerah menjadi penanda dimulainya aktivitasku hari ini setelah membersihkan rumah. Libur panjang setelah tamat SMA membuatku tak punya kegiatan lain selain mengerjakan pekerjaan rumah dan membantu Mbah Putri di warung sayur miliknya.

Aku segera meraih sandal jepit, lalu bergegas menuju bangunan kecil di tepi jalan raya. Bangunan semi permanen dari beton dan papan berukuran tiga kali tiga meter itu selama ini menjadi sumber penghasilan keluarga sekaligus saksi perjalanan hidup kami yang pasang surut. Di tempat ini Mbah Putri menggelar dagangan, juga bercengkrama dengan Mbah Kakung, anak dan cucu sembari moci alias menikmati teh wasgitel, singkatan dari wangi sepet legi dan kentel. Istilah yang sangat populer di kalangan pecinta teh.

Mengenakan kaus oblong merah tua dan celana batik panjang warna senada, rambut sebahuku sengaja kubiarkan tergerai. Aku sedang menjajal bando baru yang kubeli di pasar malam untuk kupamerkan pada orang-orang yang datang berbelanja di warung Mbah Putri. Tapi tak ada satupun yang memujiku cantik. Apa karena bandoku murahan?

Aku bergegas menghampiri becak bermuatan penuh yang telah terparkir di depan warung Mbah Putri. Aku memang dipanggil untuk membantu membongkar muatan dari becak, lalu menatanya di lapak. Mbah Putri mendapatkan sayuran segar, aneka lauk mentah seperti ikan, ayam, tahu, tempe dan bumbu-bumbu dari Pasar Pagi kemudian menjualnya kembali secara eceran kepada pelanggan.

Aku harus bekerja lebih cepat karena sejumlah pembeli sudah menunggu, bahkan sebelum Mbah Putri tiba. Sepertinya mereka sudah hafal jam kedatangan Mbah Putri. Biasanya aku langsung pulang begitu tugasku selesai. Tetapi kali ini aku sengaja mencari celah untuk membicarakan hal penting itu segera. Ini tentang masa depanku.

Jujur, hari ini aku gelisah. Batas pendaftaran ulang kuliah akan segera berakhir. Namun, Mbah Putri tak kunjung memberi kepastian apakah aku akan melanjutkan ke perguruan tinggi atau tidak. Aku diterima di salah satu universitas negeri di ibu kota provinsi.

Awalnya aku hanya ikut-ikutan saat teman-teman mengajakku untuk mengikuti ujian tertulis masuk perguruan tinggi. Diterima atau tidak itu tak penting. Melanjutkan perguruan tinggi tak masuk dalam daftar prioritas hidupku karena kondisi ekonomi keluarga. Ya, aku mencoba memahaminya. Walaupun dari lubuk hati yang terdalam aku ingin sekali melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.

Melihat Omku mengenakan kemeja rapi, celana pantalon dan sepatu vantovel, kemudian menunggangi sepeda motor pria ketika berangkat bekerja sungguh terlihat keren. Kata Om, sehari-hari Omku bekerja di depan komputer di dalam ruangan berpendingin. Itu luar biasa! Bahkan penghasilan Om Toto bisa untuk memperbaiki gubuk sedikit demi sedikit. Dinding rumah yang sebelumnya masih menggunakan anyaman bambu, kini sudah berdinding beton. Sungguh aku iri padanya. Aku yakin Omku bisa bekerja di sana karena Omku menyandang gelar.

Aku lantas membandingkannya dengan tante-tanteku yang hanya bisa bekerja sebagai pramuniaga dengan penghasilan tak seberapa. Bahkan untuk mengajukan cicilan kendaraan roda dua saja pihak dealer tidak menyetujui. Setiap hari mereka harus berdiri seharian melayani pembeli. Begitu juga Ibu yang harus terbang ke negeri jiran, meninggalkan keluarga demi menjemput rejeki. Aku pikir itu karena mereka hanya tamatan SMA. Sehingga tak bisa melamar untuk posisi yang lebih tinggi. Melihat perbedaaan yang timpang itu membuat tekadku semakin kuat. Aku ingin seperti Om Toto.

Berbekal uang saku harian yang aku kumpulkan hari demi hari, aku membeli tiket kereta api senilai 7 ribu rupiah menuju kota atlas. Dengan dalih ingin jalan-jalan dan menemani Noni, aku diijinkan pergi jauh untuk kali pertama. Sungguh aku terkejut begitu mengetahui dari seluruh rombongan kami yang mengikuti ujian tertulis, hanya aku yang diterima di perguruan tinggi negeri itu. Aku yang awalnya mengabaikan hasil ujian mulai berpikir sebaliknya. Menganggap bahwa diterimanya aku di sana merupakan kesempatan yang diberikan sang pencipta untuk merubah nasib.

"Mbah, besok lusa terakhir daftar ulang," laporku berharap Mbah Putri segera mencarikan biaya daftar ulang sebesar satu setengah juta rupiah.

"Kamu itu perempuan, nggak usah kuliah," jawab Mbah Putri membuat harapanku runtuh seketika. "Percuma, buang-buang uang. Nanti setelah menikah juga ngurus dapur, sumur, kasur," imbuhnya.

Sejak awal, aku tahu Mbah Putri sudah memegang prinsip itu. Itulah mengapa hanya anak laki-laki yang diijinkan melanjutkan ke perguruan tinggi. Seperti Om Toto dan sekarang Om Didi yang tengah menempuh studi. Sementara pendidikan anak perempuan berhenti di jenjang SMA. Ya, karena kami perempuan yang ujung-ujungnya akan mengurus keluarga. Begitu pemikiran mereka.

Selain statusku yang perempuan, soal biaya sekolah juga menjadi penghalang. Meskipun biaya kuliah nantinya dibebankan pada ibu, tetapi selagi ibu belum mengirim uang, maka mau tidak mau kakek dan nenekku harus menalangi terlebih dahulu. Sementara penghasilan kakek dan nenek dari berjualan tidak berlebihan. Apalagi banyak pembeli berhutang dan membayar sistem bulanan sehingga Mbah Putri harus mengeluarkan modal terlebih dahulu. Beberapa pelanggan warung adalah istri para nelayan. Mereka terpaksa berhutang karena menunggu para suami pulang dari melaut. Itu bisa memakan waktu tidak hanya satu atau dua hari. Ada yang seminggu bahkan berbulan-bulan.

Aku pulang ke rumah dengan patah hati. Jujur aku lelah. Aku sudah melakukan yang terbaik versi diriku sendiri. Mencoba memahami dan menerima keaadaan meskipun menyesakkan. Aku tak ingin lagi berkawan dengan sebutir kerikil. Yang kini tak hanya untuk menahan dorongan tetapi juga mengusir tikus-tikus nakal yang berkeliaran. Rumah kami sudah terlalu sesak menampung banyak penghuni yang kian bertumbuh dari hari ke hari. Tinggiku tak lagi sama dengan papan penggaris kelas. Berat badanku naik puluhan kilogram. Bukan cuma aku, tapi yang lain juga sama. Ruangan semakin sempit, semakin tak nyaman. Aku bukan ingin kabur. Aku hanya ingin merubah keadaan. Dan sepertinya memang aku yang harus turun tangan.

Aku bergegas menuju kotak telepon umum di depan pasar di tepi jalan pantura. Kurogoh saku celana, lantas kukeluarkan tiga koin yang sudah aku siapkan. Aku harus menghubungi Ibu nun jauh di sana melalui sambungan internasional. Aku harus meminta bantuannya walaupun itu artinya aku membantah ucapan nenek.

Lihat selengkapnya