Tahun 2001.
"Ana! Kita jadi naik 'kan?" tanya Vivi.
"Jadi," sahutku mantap. Libur semesteran berlangsung cukup lama. Aku memiliki banyak waktu luang sehingga perjalanan ini tak akan mengganggu perkuliahan. Aku juga sudah cukup menabung untuk itu.
Sejak menjejakkan kaki di kampus, ada satu mimpi yang ingin kuwujudkan. Mimpi yang sebenarnya sudah ada sejak aku duduk dibangku sekolah lanjutan tingkat pertama. Sejak aku melihatnya dari kejauhan di sepanjang perjalanan menuju sekolah. Sejak aku berjanji akan menyambangi kelak. Hanya saja, karena kesibukanku menempuh studi sembari bekerja sambilan, mimpi itu kukesampingkan. Mimpi menjejakkan kaki di atap Jawa Tengah.
Ini bukan sekedar ikut-ikutan atau ajang adu kekuatan. Aku sudah beberapa kali mendaki gunung terdekat dari kampus. Bagiku gunung mengajarkanku akan kesabaran dalam menghadapi rintangan dan menghargai proses perjalanan. Gunung menguji ketahanan mental saat menghadapi ketidakpastian dan tantangan selama di perjalanan. Sama seperti perjalanan hidupku selama ini.
Aku dan Vivi sepakat bertemu di terminal kota. Kebetulan aku dan Vivi tinggal di kota yang sama sehingga tak sulit bagi kami mengatur titik temu. Kami menumpang bus jurusan Purwokerto selanjutnya menumpang bus kecil menuju Purbalingga. Di sanalah basecamp tujuan kami berada. Kami tiba sore hari dan istirahat sejenak di barak. Jalur Bambangan kupilih karena jalurnya yang pendek ketimbang jalur Guci yang jaraknya bisa dua kali lipat. Meskipun konon katanya, trek Bambangan sangat menantang dan ketersediaan air di tempat ini sangat minim. Beberapa warga kulihat bergantung pada air hujan untuk memenuhi kebutuhan air mereka. Maka tak heran jika banyak dijumpai bak-bak penampungan air hujan di halaman-halaman rumah warga.
Bersama rombongan lain, perjalanan kami ke puncak dimulai selepas isya. Suhu udara seketika menusuk tulang. Tiga puluh menit pertama napasku sudah naik turun karena tanjakan tak memberi sedikitpun ruang untuk kami bersantai.
"Pelan-pelan aja. Gunungnya nggak akan kemana-mana, kok." Pendaki asal Yogyakarta yang baru kukenali mencoba menyemangati. Aku mengangguk sembari menyungging senyum tipis sebagai respon. Di belakangku, Vivi tampak asyik berbincang dengan teman barunya. Aku tak mengganggunya.