Sebutir Kerikil

Yohana Indriani
Chapter #18

Reuni Kecil

Tahun 2022

"Noni nggak mudik?" tanyaku pada Agil.

"Dia pindah ke luar pulau lagi."

Aku mengangguk mengerti. Sebagai istri prajurit, Noni harus mendampingi sang suami bertugas dimanapun. Sudah lama aku tak berjumpa dengan kawanku yang satu itu.

Aku dan Agil tak sengaja bertemu saat aku dan keluarga kecilku mengunjungi salah satu rumah kerabat dalam rangka silaturahmi lebaran di kampungku. Momen lebaran tahun ini menjadi lebih berkesan karena tahun lalu kami tak bisa mudik lantaran terkendala aturan batasan sosial akibat wabah covid 19. Pemerintah menghimbau agar masyarakat tidak melakukan perjalanan jauh yang dikhawatirkan memicu kerumunan untuk mencegah meluasnya penularan virus mematikan itu.

Penampilan Agil yang dulu polos, kini tampak rapi dan perlente. Agil, si juara kelas berambut emas, kini telah menjadi aparatur sipil negara di sektor kesehatan. Bukan hal yang mudah bagi Agil untuk bisa sampai ke titik itu. Sama sepertiku, Agil juga harus berjuang keras demi meraih cita-citanya. Konon saat masih menjadi pekerja honorer, dia bahkan harus menaiki sepeda lintas kota yang jaraknya berpuluh-puluh kilometer untuk menghemat pengeluaran. Itu lantaran honor yang diterimanya bahkan tak cukup untuk menunjang akomodasi. Ita dan Udin kudengar sukses menjadi pengusaha. Yang lainnya aku tak tahu. Sedangkan aku sendiri, selain ibu rumah tangga, disela-sela waktu menyalurkan hobi sekaligus ladang cuan sebagai penulis lepas. Selain tekad, ketekunan dan kerja keras, satu hal yang tetap aku yakini sedari dulu, pendidikan juga berperan penting membawaku sejauh ini.

"Dengar-dengar baru pulang dari Bali, ya?" tanya Agil.

"Ya. Kebetulan suami ada pekerjaan di sana. Jadi kita sekeluarga ikut," sahutku tak bermaksud sombong.

"Akhirnya ke Bali juga ya," seloroh Agil mengingatkanku pada masa lalu.

Meskipun aku dan Agil berbeda sekolah, Agil tahu betul bagaimana aku terpaksa gigit jari saat tidak bisa mengikuti kegiatan study tour SMA karena ketiadaan biaya. Aku adalah satu dari tiga siswa yang bernasib serupa.

Aku ingat, walaupun aku mencoba memahami kondisi keluarga, tak bisa kupungkiri aku kecewa. Yang bisa kulakukan saat itu hanyalah menyimpan keinginan itu diam-diam dalam hati. Kelak, aku yakin bisa mewujudkannya, begitu kalimat yang kupatri. Dan tekad yang kuat telah membawaku ke sana. Tak sendiri, aku bahkan mengunjungi pulau dewata bersama anak-anak dan suami. Bagiku pencapaian itu lebih dari kata luar biasa.

"Kamu masih ingat setiap habis shubuh kita ramai-ramai ke kali?" kenang Agil.

"Kamu masih ingat itu juga, Gil?" Aku terbahak-bahak. Aku pikir hanya aku yang mengingat momen mengesalkan itu sepanjang hidupku. Ternyata kenangan itu juga membekas di kepala Agil.

"Terus kalau siang kita numpang di pasar." Kami kembali tergelak.

"Tapi sekarang pasarnya udah tutup, Na," imbuh Agi lalu mendesah lirih.

"Masa tutup, sih?" Aku setengah tak percaya. Pasalnya saat aku kecil, pasar ini tak pernah sepi. Menjadi urat nadi kota. Sejak ada tol, aku memang jarang melewati jalur pantura dimana pasar beras berada, jadi tak banyak mengetahui kondisi terkini.

Lihat selengkapnya