SEBUTIR NASI DI MEJA MAKAN ORANG-ORANG

Aga Lesmana
Chapter #1

BAB 1: Sebutir Nasi di Bawah Kolong Langit

Di kota megapolitan ini, harga sebuah nyawa seringkali lebih murah daripada biaya parkir mobil mewah di lobi gedung pencakar langit. Ada garis kepemimpinan yang tegas, ditarik dengan tinta keserakahan, memisahkan mereka yang memakan sisa-sisa kehidupan dengan mereka yang bahkan tidak memiliki kesempatan untuk sekadar mencicipi aromanya.

Di sisi yang paling gelap, di mana matahari enggan menyapa karena malu melihat ketimpangan, sebutir nasi di atas piring bukan lagi sekadar karbohidrat. Ia adalah prasasti. Ia adalah saksi bisu dari pertarungan batin antara tetap menjadi manusia yang utuh atau menjelma menjadi binatang buas demi menyambung napas esok hari.

Banyak yang bilang, kemiskinan adalah kutukan yang turun-temurun, sebuah rantai yang tak mungkin diputus. Namun, mereka lupa bahwa ada jenis perlawanan yang tidak melibatkan pedang maupun api. Ada perlawanan yang dilakukan dalam diam, dalam doa yang lirih di antara dentang rel kereta api, dan dalam menjaga jemari agar tetap bersih dari noda dosa, meski perut meronta menuntut haknya.

Dunia mungkin bisa merampas rumahmu, menghancurkan atap di atas kepalamu, dan menginjak-injak harga dirimu sampai ke dalam lumpur. Tapi dunia tidak punya kuasa atas apa yang kamu pilih untuk kamu telan di meja makanmu.

Selamat datang di kehidupan yang tak pernah menjanjikan keadilan, namun selalu menantangmu untuk tetap berdiri tegak. Mari kita lihat, sejauh mana kemanusiaan mampu bertahan sebelum ia akhirnya membusuk atau justru bercahaya paling terang di tengah kegelapan yang pekat.

 

*****


Di sebuah warung makan soto lamongan yang berdiri dengan pongah di pinggiran jalan raya ibu kota yang bising, seorang pemuda tengah bersiap dengan ritual kesehariannya yang fana. Ia berdiri di depan dandang besar, di mana air mendidih bergejolak seperti jiwa yang tersiksa dalam neraka, melumat ayam di dalamnya hingga serat-serat dagingnya melunak, menyerah pada panas.

Dengan ritme yang sudah mendarah daging, ia melemparkan bumbu aromatik. Berupa batang serai yang ia geprek hingga patah, lengkuas yang bertekstur kayu, daun salam, dan daun jeruk, seolah ia sedang meracik ramuan untuk menyembuhkan luka dunia. Lima menit berlalu dalam kepulan asap yang menyesakkan dada, ia memasukkan bumbu halus, percampuran bawang putih dan merah yang diulek kasar, kunyit yang mewarnai air menjadi kuning pucat serupa nanah, kemiri, jahe, ketumbar, dan jintan. Adukannya melingkar, menciptakan pusaran yang menghipnotis, sesuatu yang sudah dilakukannya entah berapa ratus kali hingga ia merasa dirinya sendiri telah larut ke dalam kuah tersebut. Setelah rebusan itu menguarkan harum rempah yang tajam menusuk hidung, ia menambahkan garam, kaldu, dan gula secukupnya. Sebuah keseimbangan kimiawi untuk menipu lidah manusia yang haus akan kenikmatan.

Lihat selengkapnya