SEBUTIR NASI DI MEJA MAKAN ORANG-ORANG

Aga Lesmana
Chapter #2

BAB 2: Simbol Sisa-Sisa dan Kehinaan

Pagi di Jakarta adalah sebuah teater ketimpangan yang paling brutal, sebuah panggung sandiwara di mana nasib ditulis dengan tinta kemelaratan dan darah.

Bagi pelanggan, meja kayu warung soto yang berderet di sepanjang trotoar hanyalah panggung sementara untuk memuaskan lidah yang dimanja, tempat mereka menukar uang dengan kenyamanan sebelum bergegas menuju gedung-gedung kaca yang angkuh dan menusuk langit. Namun bagi Malik, meja-meja itu adalah medan tempur yang sunyi, arena eksekusi tempat martabatnya disembelih pelan-pelan dengan pisau ketidakpedulian.

Ia berdiri di sana, di balik etalase yang berdebu, punggungnya sedikit membungkuk, bukan karena lelah yang biasa, tapi karena beban tak terlihat yang menekan bahunya seberat bongkahan dosa dunia. Dengan jemari yang pecah-pecah, bengkak, dan memerah meradang akibat terus-menerus tersiksa cairan sabun colek murah yang sifatnya korosif, ia mengikis sisa kehidupan orang lain. Setiap kali ia menyeka meja, perih dari luka-luka kecil di sela jemarinya meledak, menciptakan denyut nyeri yang menjalar hingga ke ubun-ubun, namun ia hanya menahan napas, menggigit lidah sendiri, membiarkan rasa nyeri itu menjadi satu-satunya pengingat bahwa ia masih hidup, bahwa ia belum sepenuhnya menjadi bagian dari bangkai kota yang dingin ini.

Mata Malik selalu tertuju dengan tatapan yang nyaris liar, mata seorang pemburu yang sedang mengincar sisa-sisa peradaban pada piring-piring pelanggan yang baru saja ditinggalkan. Piring-piring porselen putih itu berkilau tertutup lapisan minyak yang mengental, sisa dari kenikmatan yang baru saja habis dilahap tanpa rasa bersalah. Di sudut piring, sering kali tertinggal gumpalan nasi putih yang masih bersih, tampak seperti salju yang ternoda di tengah kotoran. Nasi yang melengkapi hidangan soto yang selalu dibuatnya dengan peluh sendiri setiap hari untuk para pelanggan yang datang hanya untuk memenuhi perut dan mengusir rasa lapar sesaat.

Pemandangan itu lebih menyakitkan daripada pukulan fisik yang menghantam dada. Di sana, di antara sisa kuah yang keruh dan bau amis yang menyengat, ia juga melihat butiran nasi yang sengaja dibuang, bahkan terkadang menjadi tempat mematikan puntung rokok yang masih berasap, atau tercampur dengan genangan teh manis yang tumpah, membuat butirannya lembek, dingin, menjijikkan, dan kehilangan bentuk asalnya.

Lihat selengkapnya