Kota yang tidak pernah benar-benar tidur ini adalah tempat yang tidak akan pernah tepat bagi siapapun, pun dengan manusia yang selalu tegar di atas telapak kakinya sendiri.
Malik membuka matanya, mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan diri dengan cahaya temaram yang merayap masuk lewat celah-celah dinding tripleks yang lapuk. Ia meregangkan otot, merasakan ngilu yang menjalar di sekujur tubuh, sebuah rasa sakit yang sudah bertahun-tahun menjadi teman tidur paling setia. Di sampingnya, Pak Sartoni masih mendengkur dengan suara yang parau dan berat, wajahnya pucat pasi sementara dadanya kembang kempis dengan irama yang memilukan. Bagai pompa manual yang menarik dan membuang napas dengan paksa, tak kunjung usai, monoton, dan begitu rapuh seolah setiap tarikan napas adalah yang terakhir kalinya.
Malik merasai alas tidurnya yang tipis, tempat ia berbaring di atas tumpukan lelah dunia dan luka diri yang sudah lama membusuk di dalam batin. Di dalam gubuknya yang pengap, di mana aroma lembap beradu dengan sisa-sisa keringat yang mengkristal di dinding, Malik melakukan ritual yang membakar jiwanya. Ia mengambil sepotong kain jarik tua yang warnanya telah luntur dimakan usia, kain yang sama yang dulu pernah membalut tubuh ibunya, kain yang kini menjadi penyaring air sisa dari botol pelanggan. Dengan gerakan tangan yang lambat, penuh ketelitian yang obsesif, ia menyaring cairan itu seolah-olah ia sedang memisahkan air mata dunia dari segala kotoran, berharap kuman dan bawaan orang asing itu sirna dan mampu dimaklumi oleh perutnya dan sang ayah. Setelah selesai, kain itu diletakkan di gantungan kawat paku, dan ia kembali menatap teksturnya yang lusuh.
Kain itu kini menjadi pengingat yang kejam. Ia menyeret ingatan Malik ke lorong waktu yang gelap, ke masa di mana harapan masih memiliki tempat untuk bernapas. Ia kembali melihat seragam sekolah adiknya yang robek-robek, basah oleh campuran darah yang anyir dan oli hitam yang kental. Seragam yang seharusnya menjadi saksi masa depan yang cerah, namun justru menjadi kafan bagi mimpi yang mati di tengah aspal panas. Ingatan itu menghantamnya seperti palu godam.
Ia melihat gambaran masa silam di mana adiknya berjalan di trotoar yang dirampas secara ilegal oleh pelataran bengkel, parkir motor liar, dan gerobak kaki lima. Adiknya terpaksa turun ke bahu jalan, berjalan di antara deru mesin kendaraan berat yang menderu seperti monster kelaparan. Di sana, di jalur logistik yang mencekam, di mana truk kontainer melaju gila demi mengejar setoran, rupanya takdir sedang menunggu dengan taring yang tajam.
Sebuah truk kontainer pengangkut gas LPG yang melaju kencang menghindari lubang maut menyerempet tubuh kecil itu. Adiknya terpental. Dan sebelum sempat ia berteriak, sebuah angkot yang sedang “ngetem” mendadak menancap gas, melindas tubuh bawah adiknya dengan suara tulang yang remuk. Suara ‘krak’ yang kini kembali menyapa tidurnya, membungkus pilu dan kekejaman yang bahkan lebih nyaring daripada klakson truk mana pun di kota ini. Sopir truk itu kabur, dan sopir angkot, dengan hati yang lebih dingin dari besi, hanya menoleh sekilas, merasa tidak perlu bertanggung jawab karena ia bukan penabrak pertama, lalu ikut melesat pergi meninggalkan genangan darah yang menyatu dengan tumpahan oli.
Uang santunan habis ludes hanya untuk biaya pemakaman dan melunasi sopir ambulans yang menolak bergerak sebelum ada “uang muka” di tangan. Sejak hari itu, Malik dan Pak Sartoni terbuang, tersingkir ke pinggiran kota besar, hidup di bawah bayang-bayang gedung pencakar langit yang angkuh dan bermata nyalang penuh selidik.
Belum habis kenangan itu merangsek, luka batin lain menerobos. Malik masih mencium aroma obat-obatan rumah sakit yang menusuk, aroma yang bercampur dengan rasa putus asa di selasar rumah sakit pemerintah yang penuh sesak. Ia melihat ibunya terbaring, napasnya tersengal di kursi roda pinjaman yang berkarat, menunggu rujukan yang tak kunjung datang karena ia hanyalah “manusia tembus pandang” yang tidak memiliki uang untuk mempercepat birokrasi yang dingin. Ibunya mati di selasar itu, tepat di depan mata Malik yang saat itu masih terlalu kecil untuk mengerti mengapa dunia begitu benci pada orang miskin.
Sekarang, setiap kali Malik menyeberang jalanan Jakarta yang bising, aroma anyir darah yang dulu menyatu dengan aspal panas di tempat kecelakaan adiknya selalu muncul, menghantui indranya. Bau itu perpaduan anyir, logam, dan kematian. Menempel di lubang hidungnya, memaksanya untuk terus mengingat bahwa di kota ini nyawa manusia bisa dihargai lebih murah daripada harga satu ban truk kontainer.
Malik menatap ayahnya yang terbaring lemah, menguatkan diri dengan penat dan keras kacaunya keadaan. Untuk sisa keluarga yang dipunyanya, Malik harus giat, tidak boleh mengenal lelah, demi mendapatkan upah harian yang tak seberapa untuk membeli obat pereda sesak napas yang harganya terus melonjak, dan untuk membayar tagihan listrik sambungan yang sering kali diputus secara sepihak jika ia terlambat sehari saja.
Setiap rupiah yang ia keluarkan adalah pertempuran; setiap lembar uang yang ia berikan adalah nyawa ayahnya yang ia beli kembali dari tangan maut. Ia akan terus menepis tangan itu yang berusaha dengan keras, dengan juga berkeras hingga tulangnya bergoyang dan rasanya hampir berubah menjadi butiran yang akan hilang ditiup angin polusi.