SEBUTIR NASI DI MEJA MAKAN ORANG-ORANG

Aga Lesmana
Chapter #4

Bab 4: Bagi Kelas Atas dan Orang-Orang yang Beruntung

Dunia sudah lelah mencatat dan memberikan pemahaman bagi banyak orang buangan yang tersisih di sudut-sudut gelap peradaban.

Bagi kelas atas, makhluk yang walaupun berdiri di atas kedua kakinya sendiri itu hanyalah noda kecil yang menjijikkan, kotoran yang harus segera disapu, dibuang, dan dilenyapkan dari pandangan agar tidak mengotori lantai marmer mereka yang suci. Mereka memandang manusia sejenis Malik sebagai limbah yang tidak berharga, sesuatu yang tidak pantas berada di antara deretan hidangan mewah yang mereka santap dengan penuh kesia-siaan, di mana setiap suapan sering kali berakhir dengan sisa yang lebih berharga daripada harga diri kaum Malik.

Kutukan ketimpangan yang begitu telanjang ini adalah bentuk yang paling nyata dari ajaran hidup yang tidak rasional, sebuah kelebihan yang tidak dikelola dengan semestinya. Lebih yang bukan untuk disyukuri, namun dihempaskan dengan jijik oleh mereka yang merasa berhak atas keberuntungan, meludahi nasib buruk orang lain dengan sisa-sisa makanan yang terbuang.

Perpanjangan dari doa-doa putus asa yang dirapalkan di sepertiga malam itu pada hakikatnya terus mengejar kaum bawah dengan mati-matian, menggetarkan dan menghancurkan kedalaman hati yang paling sunyi, meski terus akan dipertahankan oleh kaum itu dengan pinta paling keras agar mereka tidak runtuh dan terseret masuk ke dalam jurang ketiadaan yang gelap dan mencekam.

Kehidupan Malik adalah kronologi tentang bagaimana harapan dicuri, lembar demi lembar, tahun demi tahun, sampai yang tersisa di dalam dirinya hanyalah tulang belulang martabat yang retak. Di usia 17 tahun, ia adalah seorang siswa kelas 1 SMA yang terpaksa mematikan mimpinya karena kemiskinan lebih cepat mengunyah masa depannya daripada buku-buku pelajaran. Setelah kematian ibu, Pak Sartoni dengan hati yang terbelah dan remuk di dalam dada yang sesak, meminta dengan kesedihan yang sangat mendalam agar Malik sudi melepas seragamnya. Uang yang seharusnya untuk buku dan ongkos harian telah habis ditelan biaya pengobatan ibunya yang berakhir sia-sia di selasar rumah sakit yang dingin dan tidak memiliki belas kasih.

Saat itu, Malik, adiknya, dan Pak Sartoni pindah ke sebuah kontrakan murah, sebuah kotak pengap yang menjadi saksi bisu bagaimana keluarga itu perlahan-lahan makin dimangsa oleh keadaan yang terus menekan leher mereka hingga hampir putus.

Di 19 tahun, tahun di mana Tuhan seolah menutup pintu rahmat rapat-rapat, kecelakaan tragis merenggut nyawa adiknya dengan cara yang paling keji. Mereka diusir dari kontrakan karena seluruh tabungan habis untuk menebus jenazah yang disekap oleh rumah sakit swasta yang lebih mementingkan biaya administrasi daripada nyawa manusia. Pak Sartoni terpaksa menjual sepeda motor demi menuntaskan urusan pemakaman yang menghinakan itu, padahal benda itu adalah satu-satunya alat transportasi kerja yang dibeli dan telah dipakai sekian lama dengan rasa bangga.

Lihat selengkapnya