Megapolitan tidak pernah menyediakan ruang bagi mereka yang tidak memiliki nama di daftar pajak. Kota ini adalah monster yang rakus, yang setiap malam mengunyah tulang-belulang manusia dan memuntahkan ampasnya ke pinggiran rel yang berdebu.
Setelah diusir dari kontrakan bedeng semen, yang dindingnya setipis harapan dan atapnya selalu bocor oleh air mata penghuninya. Malik dan Pak Sartoni sempat mencicipi neraka dalam bentuk yang paling nyata. Mereka pernah tidur di kolong jembatan, berbagi tempat dengan koloni nyamuk yang haus darah dan bau busuk limbah yang menyengat hingga ke saraf penciuman. Mereka juga sempat meringkuk di teras ruko beralaskan kardus yang sudah lembap dan berjamur, hingga akhirnya terlempar ke surau, hanya untuk diusir oleh pengurusnya yang menganggap kehadiran mereka sebagai noda bagi kesucian tempat ibadah. Pengusiran itu bukan sekadar perpindahan fisik; itu adalah pengikisan harga diri yang paling perih, di mana dunia seolah berteriak bahwa tidak ada sejengkal tanah pun yang sudi membiarkan mereka berpijak, seolah-olah eksistensi mereka adalah sebuah cacat di wajah kota yang sombong ini.
Dengan langkah kaki yang kian melemah, Malik akhirnya menuntun ayahnya menyusuri rel kereta di kawasan Kampung Bandan. Di sana, di antara semak belukar yang liar dan debu jalur ganda, mereka menemukan secuil lahan kosong berukuran dua kali tiga meter. Lahan itu adalah tanah sisa yang tidak diinginkan siapa pun, sebuah titik di peta yang dianggap sebagai zona mati karena hanya menjadi tempat pembuangan bangkai plastik dan sisa kotoran manusia. Namun di sana pula, sebuah solidaritas kemiskinan yang gila bersemi di tengah kebusukan.
"Jangan berdiri di sana terus, Pak. Duduk saja di kardus ini," bisik Malik dengan suara yang parau, menatap ayahnya yang terbatuk hingga tubuhnya bergetar hebat seperti daun kering yang siap hancur diterpa angin.
Seorang pemulung tua bernama Pak Slamet, pria yang punggungnya sudah melengkung seumur hidup karena menanggung beban sampah orang lain, mendekat dengan langkah berat. Ia tidak membawa kata-kata manis, hanya membawa sisa-sisa kehidupan.
"Ini," ucap Pak Slamet sambil melemparkan beberapa lembar tripleks bekas palet barang dari gudang pelabuhan yang kondisinya sudah setengah hancur. "Tripleks ini masih cukup kuat buat dinding gubukmu. Kamu cari paku dan seng bekas di tumpukan bakaran proyek itu. Saya bantu pasang atapnya."
Mereka membangun gubuk itu bukan dengan rancangan arsitek, melainkan dengan air liur, keringat, dan sisa-sisa benda yang dibuang dunia. Seng-seng berkarat yang tajam disatukan dengan sisa paku yang diluruskan kembali dengan batu. Tidak ada sewa tanah. Tidak ada sertifikat. Hanya sesama orang yang dibuang yang mengerti betapa berharganya tiga meter persegi untuk memejamkan mata di tengah deru kereta yang memekakkan telinga. Gubuk itu adalah monumen bagi ketidakberdayaan, sebuah rumah yang dibangun dari rongsokan, tempat di mana mereka harus tetap tegak berdiri meski langit-langitnya adalah ancaman dan lantainya adalah debu rel yang terkutuk.
Namun, bertahan hidup bukan hanya soal atap yang menahan hujan. Bagi Malik, air adalah matematika paling kejam di Jakarta. Ia tidak mampu membeli air galon bermerek, dan meminum air sumur di pinggiran rel adalah bentuk bunuh diri yang lambat karena polusi logam berat dan bakteri E. coli yang siap menggerogoti sisa paru-paru ayahnya. Siasat Malik sangat sederhana namun penuh dengan harga diri yang pedih, berjuang tegar dengan selalu “memanen sisa”. Baginya, ini adalah tonggak penopang dalam bertahan, sebuah kebutuhan hidup yang tidak boleh dilewatkan agar napas tetap melekat dan enggan kabur sebelum waktunya.
Setiap kali pelanggan pergi meninggalkan botol-botol air mineral yang masih berisi seperempat atau sepertiga di warung soto tempatnya bekerja, Malik tidak membuangnya. Ia mengucap syukur atas ketidakpedulian orang lain yang menjadi penyambung napasnya. Pemuda getir itu dengan khidmat menuangkannya ke dalam jeriken pecah yang ia sambung dengan lakban hitam hasil meminta dari warung tegal milik Bu Suminah.
"Kamu buat apa air sisa-sisa itu, Lik?" tanya Mas Ilham suatu hari saat melihat Malik bekerja dengan ketelitian yang berlebih.
"Buat menyeka muka Bapak, Mas," jawab Malik singkat tanpa menoleh. "Air itu bersih kalau disaring kain jarik. Bapak perlu itu, Mas, kalau tidak, tenggorokannya kering dan kulitnya gatal-gatal kena debu yang beterbangan. Air di sini adalah hidup bagi kami."
"Tapi itu sisa orang, Malik... tidak menjijikkan?"
"Sisa orang lebih baik daripada air kali yang berwarna seperti kopi busuk," sahut Malik dengan tatapan dingin yang tajam, menutup pembicaraan dengan kepahitan yang nyata. Ia tidak peduli pada rasa jijik. Baginya, rasa jijik adalah kemewahan bagi orang-orang yang perutnya selalu penuh, sementara ia sudah lama membuang konsep “layak” demi sebuah “ada”.
Setiap malam sebelum pulang dari warung tegal, Malik akan memasak sebagian air itu hingga mendidih, lalu menuangkannya ke dalam termos tua yang penutupnya sudah retak, barang tua peninggalan masa lalu Pak Sartoni yang masih tersisa satu-satunya. Termos itu ia peluk sepanjang jalan menuju gubuk, dijaga seolah ia memeluk nyawa ayahnya sendiri. Air hangat itu adalah senjata bagi Pak Sartoni untuk melawan lendir yang menyumbat paru-parunya saat udara malam menusuk lewat celah-celah tripleks.
Pun kalau siang hari tiba, gubuk itu akan berubah menjadi oven yang memanggang jiwa. Saat itu Malik akan menggantung botol-botol air di cantelan luar, membiarkan panas matahari Jakarta yang ekstrem “memasak” air itu hingga suam-suam kuku, sebuah kemewahan gratis dari alam yang benci namun terpaksa memberi mereka hidup.
Namun, kebutuhan dasar mereka yang paling menyesakkan adalah listrik. Di gubuk itu, hanya ada satu bohlam redup yang tergantung seperti mata yang hampir tertutup. Listrik itu tidak gratis; mereka harus menjalin kesepakatan informal, atau lebih tepat disebut sebagai bentuk perbudakan ekonomi, dengan pemilik rumah resmi di pemukiman seberang rel yang merasa berhak memeras keringat mereka.