Pada keesokan subuh, saat Malik ditugaskan untuk membeli keperluan jualan soto lamongan, ia menuju tempat yang sudah dikenal dan dihafalnya. Di tempat ini juga di mana ia dulu menjadi penjaga dagangan milik orang. Saat melangkah masuk dan menyusuri lorong pasar yang becek itu, Malik kembali bertemu dengan beberapa kenalan. Wajah-wajah yang dulu sering akrab mengajaknya mengobrol namun sedikit sangsi dengan diri dan juga kadang menghinanya, kini menatap dengan rasa ingin tahu yang aneh.
"Eh, Malik? Yang dulu kerja jaga dagangan Pak Haji?" tanya Rispo, seorang pemuda tanggung yang selalu tampak ceria dan hobi mengolok-olok orang satu pasar.
Malik hanya melemparkan senyum tipis, berhenti untuk sekadar sopan santun agar tidak dianggap sombong, kemudian berbincang sebentar dengan penyapanya itu.
“Oh, kamu sekarang jadi buruh angkut soto?" tanya Rispo dengan suara yang terdengar mengandung ejekan halus, seperti belati yang mengiris tipis kulit martabatnya.
Malik tidak menampilkan ekspresi, juga tidak mencoba membenarkan. Ia kemudian menyentuh sayuran yang ada di depannya, sembari mencari kalimat apa yang bisa diberikan sebagai salam pamit segera.
“Enak kerja di sana?” Rispo bertanya lagi dengan nada mendesak.
"Iya, Mas Po. Enak,” jawab Malik setelah tujuh detik berlalu. Hanya kalimat yang tidak berarti dan sangat tidak diharapkan Rispo, sungguh mengecewakan karena bahan untuk bahasan selanjutnya tampaknya tidak ada.
“Tapi kok kamu kayak punya beban berat begitu? Jujur saja sama saya, kamu sering disiksa, ya?” Rispo menurunkan nada suaranya dengan mata yang sedikit menyipit, memburu setiap kerutan di wajah Malik.
“Tidak kok, Mas. Pemiliknya baik, dan saya betah kerja di warung sotonya.”
“Ah, yang bener?”
Malik hanya mengangguk dan tersenyum simpul. Setelah dirasa tidak ada lagi yang bisa dibicarakan, akhirnya ia pamit pada Rispo. Lelaki itu terlihat mendelik karena merasa tidak mendapat bahan gunjingan.
“Kalau nggak kuat lagi bisa cari saya, Lik. Nanti saya bantu kamu cari kerjaan yang lebih baik… setidaknya mukamu nggak akan kelihatan penuh beban lagi, hehehe," katanya kepada punggung Malik yang kian menjauh.
Di dalam batinnya, Malik membatin dengan getir. Mereka menatapku seolah-olah aku adalah kegagalan yang berjalan. Dunia ini penuh muslihat; mereka yang merasa lebih sukses akan selalu mengira punya hak untuk merendahkan mereka yang sedang berjuang, seolah-olah itu adalah penyakit menular yang disebabkan oleh kemalasan, bukan oleh sistem yang memang didesain untuk menghisap darah kaum papa hingga kering kerontang.