Malam merayap turun dengan jubah beludru hitamnya yang pekat, membawa serta hawa dingin lembap yang menyeruak dari selokan-selokan mati di sudut kota.
Di dalam gubuk yang dindingnya tersusun dari tripleks lapuk dan sisa-sisa baliho pemilu, Pak Sartoni duduk membungkuk di atas kursi kayu barunya. Suaranya tidak lagi berupa dehaman biasa; itu adalah bunyi gemeretak mekanik yang mengerikan, seperti gesekan dua lempeng batu karang yang dipaksa berbenturan di dalam dada yang kosong. Setiap kali ia menarik napas, dadanya terangkat tinggi dengan kepayahan yang menyayat, seolah-olah udara di dunia ini telah berubah menjadi serbuk kaca tajam yang merobek-robek tenggorokannya dari dalam.
Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) stadium lanjut, atau lebih tepatnya silikosis akut yang menjalar, bukanlah sekadar penyakit bagi lelaki tua itu. Itu adalah warisan busuk dari belasan tahun masa mudanya, ketika ia diupah murah untuk menghirup debu silika, serat asbes, dan pekatnya asap kimia pabrik semen tanpa selembar pun masker pelindung di wajahnya. Paru-paru yang dulu gagah itu kini telah berubah menjadi spons berpori yang penuh nanah dan endapan abu, mengeras, menyusut, serta kehilangan seluruh elastisitasnya.
Malik berdiri terpaku di sudut ruangan. Kedua tangannya gemetar hebat saat memegang sebuah benda plastik kecil berwarna biru yang mulai terasa ringan ketika dikocok.
Itu adalah Inhaler Salbutamol. Sebuah tabung semprot kecil yang harganya tidak masuk akal bagi orang-orang seperti mereka: berkisar antara Rp120.000 hingga Rp180.000 di apotek luar, ketika kuota obat gratis di Puskesmas sedang kosong melompong tanpa sisa. Bagi Malik, yang setiap hari hanya membawa pulang upah kotor Rp25.000 dari warung, angka ratusan ribu itu bukan sekadar nominal; itu adalah harga yang harus dibayar dengan darah, keringat, dan lambung yang terkadang dipaksa berpuasa selama dua hari penuh agar ayahnya bisa kembali menghirup udara.
Di dunia kaum pinggiran tempat mereka terlempar, obat bukanlah barang medis yang bisa dipilih sesuai selera atau kenyamanan. Obat adalah pertarungan hidup dan mati yang kejam. Teofilin atau Metilprednisolon adalah tablet murah berharga ribuan rupiah yang bisa ditebus seharga beberapa ribu per strip di Puskesmas, benda yang hanyalah benteng pertahanan harian. Tablet-tablet kecil penahan radang itu diminum teratur pagi dan malam agar saluran napas Pak Sartoni tidak terlalu cepat bengkak. Namun, obat minum itu hanyalah prajurit rendahan; ia tidak akan pernah sanggup menghentikan serangan sesak napas mendadak yang sewaktu-waktu datang meremukkan dada.
Ketika serangan itu datang, ketika batuk hebat membuat wajah Pak Sartoni berubah membiru dan matanya melotot hampir keluar karena kekurangan oksigen, tablet-tablet murah itu tidak ada gunanya. Yang dibutuhkan adalah semprotan ajaib dari inhaler tersebut, ialah penyelamat instan yang bekerja dalam hitungan detik untuk melonggarkan saluran napas yang menyempit akibat kejang. Satu tabung standar berisi dua ratus isapan, yang jika dipakai dua hingga tiga kali sehari oleh Pak Sartoni yang telah parah, akan habis dalam kurun waktu satu hingga satu setengah bulan.