Pak Sartoni batuk lagi. Kali ini suara itu bagai menyerupai letupan mekanik yang merobek dinding dada hingga tubuh renta itu melengkung ke depan, kesakitan luar biasa seolah tulang rusuknya hendak menembus kulit. Malik bergerak sigap, tangannya gemetar hebat menyambar botol inhaler kecil yang hanya menyisakan beberapa semprotan terakhir untuk menyelamatkan nyawa ayahnya dari cengkeraman maut malam ini.
Di bawah temaram lampu yang menggantung di langit-langit gubuk pengap itu, pandangan Malik tertumbuk pada sebuah benda bisu di sudut ruangan: sebuah topi caping tua milik ayahnya yang masih menyisakan kerak semen abu-abu mengeras di pinggirannya.
Caping itu adalah monumen kebisuan dari masa lalu yang meremukkan. Belasan tahun Pak Sartoni memanggul karung-karung semen demi membangun gedung-gedung jangkung, mal-mal mewah, dan apartemen megah di jantung Jakarta. Ia mengorbankan setiap jengkal napasnya untuk menegakkan dinding-dinding beton orang lain, sementara hari ini, paru-parunya sendiri telah berubah mengeras menjadi beton yang mati, tanpa menyisakan sepeser pun uang di saku untuk sekadar membeli satu tabung napasnya sendiri.
Dunia industri telah memperlakukan kaum pekerja seperti barang sekali pakai. Ia memeras keringat hingga kering, lalu membuangnya ke selokan ketika tubuhnya hancur.
Sebelum pabrik semen itu, Pak Sartoni lebih dulu menghabiskan separuh usianya di industri keramik gelondongan. Di tempat itulah awal mula malapetaka bermula. Setiap hari, tanpa secarik masker pelindung yang layak, ia bergelut dengan proses penghancuran batu silika dan tanah liat menjadi bubuk halus kaolin. Tanpa ia sadari, udara di dalam pabrik keramik itu dipenuhi partikel kaca mikroskopis yang tak kasatmata, serpihan tajam yang perlahan-lahan merobek dan mengunci jaringan paru-parunya tahun demi tahun.
Ketika batuk darah pertama mulai datang, ibu Malik sempat memohon agar suaminya berhenti. Namun, apa daya kaum miskin? Di usia paruh baya dengan ijazah sekolah dasar yang hanya menjadi bungkus gorengan, pilihan hidup tidak pernah ada. Ketika pabrik keramik itu gulung tikar menyusul skandal korupsi para petingginya, Pak Sartoni sempat menganggur dalam cengkeraman panik, sebelum akhirnya terdampar di pabrik semen besar. Di sanalah debu kalsium karbonat dan silika beterbangan bebas setiap detik. Di sanalah karung-karung semen bocor menempel di lehernya yang basah oleh keringat, membentuk kerak abu-abu yang mengeras seperti semen kering di kulitnya. Tempat itu kejam, tapi hanya di sanalah ia bisa membawa pulang upah harian untuk memberi makan keluarganya.
"Lik..." suara Pak Sartoni tercekat, parau dan nyaris hilang di antara deru kereta malam yang bergetar hebat. "Bawa... bawa botol itu ke sini..."
"Ini, Pak. Tarik napas pelan-pelan," bisik Malik dengan tenggorokan yang tercekat rasa perih. Ia menyemprotkan sisa obat itu ke mulut ayahnya.
Melihat Pak Sartoni megap-megap di atas kasur tipisnya, ingatan Malik terseret pada wanita yang telah lebih dulu direnggut oleh kekejaman sistem di kota ini. Ibunya, Ibu Astuti.
Ibu Astuti bukanlah korban takdir yang mati karena usia, melainkan bentuk nyata dari kematian akibat birokrasi dan kemiskinan yang sistematis. Wanita itu mengembuskan napas terakhirnya di atas sebuah kursi roda berkarat yang berdecit di koridor selasar RSUD, setelah seharian penuh terpanggang lelah mengantre surat rujukan BPJS yang dipingpong tanpa kelangsungan dari satu faskes ke faskes lainnya. Di tangan kanannya terselip resep obat esensial untuk meredakan gagal ginjal kronis komplikasi hipertensi yang tak terdeteksi. Obat yang harganya setara dengan beberapa hari gaji Malik di warung makan, obat yang harus ditebus mandiri karena kuota rumah sakit selalu berbisik “kosong”.
Bagi kaum pinggiran, logika BPJS PBI atau Penerima Bantuan Iuran adalah lelucon yang memuakkan. Negara memang menggratiskan iurannya, tetapi sistem rujukan berjenjang dirancang seperti labirin tanpa pintu keluar. Dari Puskesmas tingkat satu, pasien harus mengantre berminggu-minggu untuk mendapat rujukan ke RSUD tipe C, lalu mengantre lagi untuk ke RS tipe B atau A yang memiliki alat cuci darah. Di Jakarta, antrean itu bukan sekadar deretan angka, melainkan daftar tunggu kematian. Fisik Ibu Astuti kalah cepat dibanding mesin birokrasi yang dingin dan tuli. Ia mati di ruang tunggu, menunggu kuota pertolongan yang tak pernah sampai.
Kematian sang ibu, disusul oleh kepergian adiknya tak lama kemudian, menjadi titik balik paling runtuh dalam sejarah keluarga kecil mereka. Demi melunasi biaya pemakaman dan sisa tagihan rumah sakit yang mencekik, Pak Sartoni terpaksa berutang pada rentenir lingkungan, bank keliling yang adalah lintah darat. Ketika keadaan mereka semakin mengenaskan dan tak lagi mampu membayar sewa atap tinggal, pengusiran datang tanpa belas kasihan. Rumah kontrakan berupa bedeng semen seharga Rp800.000 per bulan di gang sempit itu bagai mengeluarkan kaki dan menendang mereka hingga terjungkal di jalanan.