Pukul tiga pagi adalah jam-jam paling kejam di Pasar Induk. Udara dingin bercampur bau busuk kubis, genangan air comberan yang menghitam, dan amis darah jeroan dari los daging menguar pekat, menusuk hidung hingga ke dasar paru-paru.
Malik melangkah menyusuri lorong-lorong becek dengan membawa daftar belanjaan warung soto lamongan di tangannya. Matanya masih berat, sisa-sisa kantuk bergesekan dengan kenyataan pahit bahwa hidup tidak pernah memberinya waktu untuk sekadar memejamkan mata lebih lama.
Namun, di tengah kesunyian subuh yang merayap, ketenangan itu mendadak pecah oleh suara teriakan histeris, umpatan kotor, dan hantaman benda tumpul yang menghantam daging manusia.
Malik berlari kecil menuju sumber keributan di dekat los sayur-mayur. Di sana, di bawah sorot lampu neon pasar yang berkedip-kedip sekarat, pemandangan paling biadab tersaji di muka bumi. Seorang anak remaja berbadan kurus kering, dengan tulang rusuk yang menonjol seperti pagar kayu reyot, sedang tersungkur di atas lantai keramik pasar yang basah. Sekumpulan preman pasar dan penagih utang, yang lebih cocok disebut sebagai anjing pemburu bermata jalang, tengah menghujaninya dengan tendangan brutal dan hantaman balok kayu.
Anak itu meringkuk melindungi kepalanya, mengerang dalam tangis yang nyaris putus. Di sekitarnya, orang-orang pasar hanya menonton dengan tatapan kosong atau pura-pura sibuk menata dagangan; di tempat di mana kemiskinan menjadi dosa terbesar, penderitaan orang lain adalah tontonan murahan yang tidak perlu dikotori dengan rasa iba.
"Sudah! Jangan dipukuli lagi, mati anak orang!" teriak seorang tukang pikul yang tertelan oleh deru mesin truk pengangkut.
Malik membeku sejenak, menatap sorot mata anak remaja yang ketakutan setengah mati itu. Sorot mata yang memancarkan keputusasaan dan kehampaan yang teramat sangat. Tiba-tiba, lima detik berikutnya kesadaran Malik kembali, membuatnya sadar bahwa mata itu adalah cermin persis dari adiknya yang telah mati, atau bahkan bayangan dirinya sendiri di masa-masa tergelap. Tanpa sempat berpikir panjang menggunakan logika keselamatan diri, tubuh Malik bergerak sendiri.
Bugh!
Ia menerjang masuk, menarik dan membanting tubuh kurus anak itu ke dalam dekapan dadanya, lalu membalikkan badan untuk menerima hantaman membabi buta dari para preman.
Sebuah balok kayu bersarang telak di rahang kanan Malik. Seketika itu juga, dunia di sekelilingnya meledak dalam sunyi yang berdengung nyaring. Rasa besi yang pekat dan hangat langsung membanjiri rongga mulutnya; darah segar mengalir deras dari gusi dan bibirnya yang robek tercabik kayu. Rasa sakit yang luar biasa menjalar dari rahang hingga ke tempurung kepala, membuat pandangannya berbinar-binar penuh kunang-kunang merah. Kakinya lemas, nyaris ambruk ke dalam comberan pasar, namun tangannya terus mencengkeram erat bahu anak remaja tersebut.
Di tengah hantaman demi hantaman yang mendarat di punggung dan bahunya, anak remaja itu mencengkeram kaus Malik dengan kekuatan luar biasa. Cengkeraman tangannya bagaikan orang tenggelam yang menemukan sebatang kayu apung di tengah samudera kematian. Jari-jari kurus itu meremas kain kaus kusam Malik hingga buku-buku jarinya memutih, menolak lepas seolah melepaskan diri berarti tenggelam ke dalam jurang neraka.